logo rilis
Hadapi Iran, Spanyol Harus Belajar dari Kekalahan Jerman
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
19 Juni 2018, 08:56 WIB
Hadapi Iran, Spanyol Harus Belajar dari Kekalahan Jerman
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Kazan, Rusia,— Kesebelasan Spanyol memulai pertandingan pembuka Piala Dunia yang sulit melawan Portugal dengan pola permainan yang mengesankan setelah diterpa masalah pemecatan pelatih. Spanyol juga harus terus melangkah ketika mereka bertemu dengan Iran pada Rabu (20/6/2018).

Hasil imbang 3-3 yang menegangkan saat melawan Portugal di Sochi meredakan kekhawatiran bahwa kepergian Julen Lopetegui yang mendadak akan menggagalkan perjuangan Spanyol dan laporan yang ke luar dari markas tim menunjukkan suasana hati para pemain optimistis di bawah pengganti sementara Fernando Hierro.

Di atas kertas, Spanyol seharusnya bisa menangani Iran pada pertemuan pertama di antara kedua negara itu, tetapi kekalahan Jerman atas Meksiko dalam pertandingan pertama mempertahankan gelar mereka pada Minggu merupakan peringatan bagi semua pemain kelas berat.

"Apa yang terjadi dengan Jerman dapat terjadi pada siapa pun," kata Hierro kepada wartawan, Senin (18/6/2018).

"32 tim di sini sangat bagus dan pertandingan pertama selalu sulit. Kegelisahan memainkan peran besar. Kami mendapat satu poin melawan juara Eropa dan sekarang kami menghadapi Iran," lanjutnya.

Jika ada penyebab kecemasan untuk Hierro, mungkin berada pada masalah performa kiper David de Gea, yang membuat kesalahan tidak biasa sehingga memberi hadiah Cristiano Ronaldo salah satu dari tiga golnya di Sochi.

Bek Nacho Fernandez juga memiliki malam berkesan dengan gol brilian yang membuat penalti dan Dani Carvajal bisa fit lagi untuk menawarkan pilihan lain bagi Hierro di bek kanan.

Perhatian utama Hierro, bagaimanapun, adalah Spanyol harus mampu mematahkan pertahanan Iran yang ketat dan hanya kebobolan lima kali dalam 18 pertandingan kualifikasi serta mendapatkan gol yang mereka butuhkan guna memberi mereka peluang terbaik memuncaki Grup B.

Gangguan terhadap persiapan Iran untuk turnamen itu lebih bersifat geopolitik dengan sanksi AS terhadap negara yang menghabiskan biaya beberapa pertandingan pemanasan mereka dan kesepakatan perlengkapan mereka dengan Nike.

Mereka membutuhkan gol bunuh diri sendiri untuk mengalahkan Maroko pada pertandingan pembuka mereka Jumat lalu, tetapi pekerjaan nyata mereka dimulai di Kazan, di mana mereka memainkan pertandingan melawan dua tim kuat Spanyol dan lima hari kemudian menghadapi Portugal.

Pelatih Carlos Queiroz, mantan bos Real Madrid, akan memperhatikan Saeid Ezatolahi setelah gelandang bertahan, yang dijuluki "Pogba Persia" itu, melewatkan pertandingan saat melawan Maroko karena hukuman skorsing.

Kekhawatiran atas cedera gelandang Omid Ebrahimi dan striker produktif Alireza Jahanbakhsh juga berkurang tetapi bek tengah Rouzbeh Cheshmi diragukan bisa tampil karena mengalami cedera otot.

Taktik Queiroz melawan negara di kawasan Afrika Utara itu adalah menggagalkan serangan lawan dengan harapan memicu "keruntuhan mental", tetapi pelatih asal Portugis itu mengakui bahwa mereka membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda untuk juara dunia 2010 itu.

"Melawan Spanyol, semua orang dari kiper ke striker dapat menciptakan sesuatu, jadi kita perlu memikirkan strategi yang berbeda," ungkap Queiroz.

Sumber: Antara


komentar (0)