Arif Budiman

Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan

Menggeser Gawang untuk Menang

Jumat, 8/9/2017 | 16:47

DALAM pertandingan sepak bola, jumlah gol yang dimasukkan ke gawang lawan adalah penentu kemenangan. Mereka yang paling banyak mencetak gol akan keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, tim yang lebih banyak kebobolan harus rela menyandang status pecundang.

Sebelas pemain yang ada dalam satu tim mengatur strategi sedemikian rupa agar bisa membobol gawang lawan sebanyak-banyaknya. Menyerang dari sayap kiri, sayap kanan, dan lapangan tengah secara bergantian dipilih sebagai bagian dari strategi. Namun, serangan dari wilayah mana pun pada akhirnya harus ditujukan ke posisi gawang lawan.

Syahdan, seorang penjaga gawang membuat komitmen dengan petaruh. Ia siap melakukan apa pun untuk memastikan hasil pertandingan sesuai dengan keinginan para petaruh. Sebagai imbalannya, ia mendapatkan berbagai macam keuntungan, mulai dari materi sampai penyediaan fasilitas liburan dan semacamnya. Bahkan, jika diperlukan, dalam situasi tertentu para petaruh turun tangan membujuk pelatih agar memasangnya sebagai pemain utama, bukan yang lainnya. Semata demi mengamankan kepentingan para petaruh.

Suatu ketika, karena tim lawan bermain buruk dan sampai menjelang akhir pertandingan tidak mampu menendang bola tepat ke arah gawang, si penjaga gawang menggeser posisi gawangnya. Tujuannya agar bola yang ditendang tim lawan bisa masuk ke dalamnya. Alhasil, gol kemenangan pun tercipta. Para petaruh senang, karena jagoannya menang. Begitu pun dengan si penjaga gawang. Ia mendapatkan semua keuntungan yang dijanjikan. Kesenangan pribadi yang secara ironis dibarter dengan kekalahan tim. Suka individu dibeli dengan air mata kolektif.

Para ahli, teoretisi, perumus, pelaksana, dan penegak hukum adalah penjaga gawang negara kita. Status, peran, dan tanggung jawab mulia itu diberikan oleh masyarakat dengan penuh rasa hormat. Melalui mereka, asa kemenangan Indonesia sebagai sebuah negara disematkan. Harapannya, negara tidak boleh (sengaja) kalah.

Negara harus mampu menjaga komitmen konstitusi kita, bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan yang setara dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Konsekuensinya, diskriminasi perlakuan hukum dalam berbagai bentuknya mesti dicegah. Perlakuan hukum yang berbeda merupakan pengkhianatan terhadap komitmen kebangsaan dan kenegaraan kita.

Kecuali, para ahli, teoretisi, perumus, pelaksana, dan penegak hukum di negara kita itu telah menjalin permufakatan busuk dengan para petaruh, sehingga tanpa rasa berdosa menggeser gawang kenegaraan kita demi kepentingan mereka. Jika demikian yang terjadi, betapa malangnya rakyat kita, karena telah menitipkan asa pada penjaga gawang yang salah.