logo rilis
Mengenal Program 'On Farm' Bulog-Petani di Majalengka 
Kontributor
Zulyahmin
03 Mei 2019, 19:28 WIB
Mengenal Program 'On Farm' Bulog-Petani di Majalengka 
Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Majelengka— Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) tengah bekerja keras menjalankan program on farm dengan petani atau mandiri petani kemitraan, dan sinergi. 

Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo, menjelaskan, program itu adalah untuk membantu petani mulai dari modal hingga kepastian membeli hasil panennya.

"Jadi petani enggak berpikir lagi soal modal dan menjual hasil panennya. Petani pokoknya mikirnya nanam dan panen. Itu saja," kata Imam di Gudang Bulog Majalengka, Jawa Barat, Jumat (3/5/2019). 

Untuk modal, ujar Imam, pihaknya bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) kepada petani yang tidak memiliki modal. Bank Mandiri, menurutnya, memberikan KUR itu lantaran ada kepastian dari Bulog untuk membeli hasil panen dari petani tersebut. 

"Insyaallah Bank BJB nanti akan masuk juga," ujarnya. 

Bulog, lanjut Imam, juga bekerja sama dengan perusahaan daerah PT SMU dan juga Pemerintah Daerah Kabupaten Majalengka. Nantinya, Bulog dan Pemda Majalengka akan memastikan membeli hasil panen dari para petani di wilayah tersebut. 

"Jadi KUR-nya dari bank, bersamaan itu Bulog dan PT SMU berkewajiban mengambil hasil produksinya. Maka ada kepastian bagi petani untuk menjual hasil taninya," lanjut dia. 

Gudang Rice Mill atau penggilingan yang ada di Majalengka itu sendiri, ungkap Imam, juga meneriba gabah basah hasil dari panen petani. Hal itu, menurutnya, lantaran sudah ada alat pengering gabah yang ada di gudang tersebut. 

"Di sini kita keringkan. Kita keringkan dari GKP (gabah kering panen) jadi GKG (gabah kering giling) kemudian kita giling jadi beras," ungkap Imam. 

Dia menuturkan, saat ini mesin penggilingan yang ada di gudang Majalengka kapasitasnya mencapai 3 ton per jam. Dengan begitu, dirinya berharap keberadaan mesin penggilingan itu bisa menyerap banyak gabah dari para petani. 

Dengan kapasitas 3 ton per jam itu, jelas Imam, maka pihaknya membutuhkan gabah kering giling untuk proses satu tahun mencapai 6600 ton. 

"Kapasitasnya 3 ton, tapi hasilnya sangat menarik, kira-kira 10 persen broken," tuturnya. 

Dari 6600 ton gabah kering giling itu, imbuh Imam, maka dibutuhkan gabah kering panen sekira 8250 ton dalam satu tahun. Dengan perkiraan 5 ton per hektare, menurutnya, maka pihaknya membutuhkan kerja sama kemitraan dengan petani sebanyak 1650 hektare per tahun. 

"Artinya dengan kerja sama petani sejumlah itu, mesin ini berjalan sesuai dengan harapannya," tandasnya.

Editor: Sukma Alam




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID