logo rilis

Mengenal Jenis-jenis Konde dan Maknanya
Kontributor
Ning Triasih
04 April 2018, 18:35 WIB
Mengenal Jenis-jenis Konde dan Maknanya
FOTO: Instagram/@sulishairdo

RILIS.ID, Jakarta— Sanggul atau konde mendadak ramai diperbincangkan baru-baru ini. Gara-garanya, kata konde yang dituangkan dalam puisi Ibu Indonesia oleh Sukmawati Soekarnoputri menuai kritikan pedas dari sejumlah kalangan.

Saat ini, penggunaan konde makin beragam. Namun, hanya terbatas pada hari-hari tertentu saja. Berbeda pada kaum hawa zaman dulu, khususnya orang Jawa. Sanggul merupakan sesuatu yang lumrah dan selalu dipakai dalam kesehariannya.

Di luar jenis-jenis sanggul yang makin berkembang dan beragam, sebenarnya ada beberapa macam sanggul Jawa Asli dan memiliki makna tersendiri.

Berikut jenis-jenis sanggul Jawa asli dan maknanya, dihimpun rilis.id dari berbagai sumber:

Ukel Konde

Sanggul Ukel Konde adalah asli daerah Solo, Jawa Tengah. Awal mula Sanggul Ukel Konde yakni kala itu, remaja dan dewasa putri dari Solo umumnya berambut panjang. Karena itu, ketika hendak  melakukan suatu kegiatan, mereka menggelung rambutnya sedemikian rupa hingga membentuk suatu konde. Akhirnya, seiring berkembangnya zaman, sanggul ini termasuk yang sering dipakai saat acara resmi di Indonesia. Ukel konde ini merupakan sanggul tradisional yang tetap digemari sampai sekarang.

Ukel Tekuk

Sanggul jenis ini umumnya digunakan di lingkungan Keraton Jogja, mulai dari permaisuri, selir, putri raja dan para inang pengasuh atau emban. Sanggul Ukel Tekuk sebenarnya hampir mirip dengan Sanggul Ukel Konde dari Solo, hanya penggunaan aksesoris dan pakaiannya yang membedakan.

Wanita yang memakai sanggul jenis ini berarti ia telah beranjak dewasa, sekaligus melambangkan gadis tersebut ibarat bunga yang baru mekar. Karena telah beranjak dewasa, maka diharapkan mampu memikul tugas  serta tanggung jawab dan layah dianggap sebagai ibu rumah tangga.

 Ukel Ageng

Ini merupakan sanggul resmi atau kebesaran, bentuknya memanjang seperti kupu-kupu tarung. Bagi remaja putri, penggunaan Sanggul Ukel Ageng dipakai dengan sematan pandan. Sedangkan untuk wanita dewasa, sanggul ini dipakai dengan campuran pandan, bunga mawar dan kenanga.

Untuk wanita yang telah bersuami, sanggul dipakai dengan hiasan bunga mawar teluk melati. Masyarakat Jawa tempo dulu meyakini, kupu-kupu yang hinggap di rambut (khususnya kupu-kupu kuning) merupakan pertanda bahwa rezeki dan kebahagiaan akan menghampiri si pemakainya.

Bokor Mengkurep

Sanggul ini umumnya dipakai khusus oleh pengantin wanita. Bentuknya menyerupai bokor yang menelungkup. Sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan dirajut dan ditutup rajutan bunga melati.

Perpaduan pandan dan melati memancarkan keharuman semerbak yang berkesan religius. Ini sekaligus bermakna simbolis bahwa pengantin diharapkan membawa nama harum dirinya yang bermanfaat untuk masyarakat.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)