logo rilis
Mengenal Indigenous, Sayuran Lokal yang Kaya Manfaat
Kontributor
Fatah H Sidik
06 Mei 2018, 14:20 WIB
Mengenal Indigenous, Sayuran Lokal yang Kaya Manfaat
Salah satu sayuran indigenous yang ada di Kalimantan Tengah. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Palangka Raya— Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sayuran indigenous, selain Brasil dan Madagaskar. Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 15,4 juta hektare, memiliki beragam sumber daya genetik sayuran dari tanaman pekarangan dan nonpekarangan.

Sayuran indigenous atau sering disebut sayuran lokal, merupakan sejenis sayuran yang dimanfaatkan penduduk setempat sebagai tanaman turun-temurun dan tak dibudidayakan secara massal. Selain untuk pemenuhan gizi, sayuran indegenous juga memiliki manfaat bagi kesehatan.  

Dalam rangka mengelola sumber daya genetik (SDG), Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalteng telah mengidentifikasi, mengkarakterisasi, dan mengoleksi beragam sayuran indigenous di Kalteng. Di antaranya, kalakai, bajei, sulur, keladi, rotan, kanjat, dan terong asam.

Kalakai merupakan tanaman jenis paku-pakuan yang tumbuh di daerah dengan kelembaban tinggi, seperti lahan gambut. Sebagai sayuran organik, kalakai tumbuh liar tanpa menggunakan bahan anorganik, sebagai pupuk, maupun pestisida.

Sedangkan bajei, sejenis kelakai namun warna batang dan daunnya hijau, bagian pucuknya menggulung, dan berlendir. Bajei dikenal sebagai sayuran tradisional Dayak. Biasanya bagian batang muda dan daun dimasak oseng. Adapun bagian akarnya, digunakan sebagai insektisida dan obat batuk.

Sementara terong asam atau rimbang dalam bahasa Dayak, termasuk famili Solanaceae. Karakteristiknya, berbentuk bulat dengan diameter 2-3 sentimeter serta berwana hijau saat muda dan ketika masak menjadi kuning. Rimbang digunakan sebagai pengganti asam dan sering dibuat untuk sambal belacan atau terasi.

Adapun rotan, tanaman tumbuh liar menjalar dan melilitkan batangnya pada pohon-pohon besar. Sayuran indigenous ini bisa dijumpai di sekitar tepi sungai serta di dalam hutan hujan tropis Kalimantan.

Rotan dikenal sebagai bahan baku kerajinan tangan. Namun, masyarakat Dayak menggunakan bagian rotan yang muda untuk dikonsumsi sebagai menu sayuran.

Bagian pangkal rotan disebut umbut dan rasanya pahit. Tetapi, umumnya diolah bersama ikan tawar.

Mari kita lestarikan sumber daya genetik sayuran lokal, sebagai alternatif bahan pangan kaya manfaat.

Sumber: Dedi Irwandi/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)