logo rilis
Mengembalikan Kejayaan Rempah Bermula dari Lada
Kontributor
RILIS.ID
12 April 2018, 12:47 WIB
Mengembalikan Kejayaan Rempah Bermula dari Lada
Produksi lada Indonesia bersaing degan Vietnam. FOTO: Puslitbangtan

Oleh Dr. Saefudin 
Puslitbang Perkebunan

PRODUKSI lada nasional sebagian besar digunakan untuk keperluan ekspor. Dalam perdagangan internasional, volume ekspor lada Indonesia cenderung menurun karena kalah bersaing dengan lada dari Vietnam. Sebaliknya, volume impor lada, meskipun jauh lebih kecil daripada volume ekspor, tetapi meningkat pesat. Neraca perdagangan lada Indonesia hingga tahun 2014 masih berada pada posisi surplus. 

Produksi lada Indonesia untuk lada hitam maupun lada putih hanya sebesar 91 ribu ton, dengan pangsa pasar sebesar 18,8 persen di pasar global pada 2013. Posisi Indonesia bergeser ke posisi eksportir terbesar kedua pada 2013. Padahal luas perkebunan lada Indonesia yang terbesar di dunia yakni 171 ribu hektare. Vietnam yang hanya memiliki lahan 80 ribu hektare mampu menghasilkan 130 ribu ton lada pada 2015 sebagai yang teratas.

Tersingkirnya kinerja ekspor dan kapasitas produksi lada Indonesia karena produktivitas yang rendah dari lahan lada di dalam negeri. Produktivitas lada Indonesia hanya sekitar 0,5 ton per hektare dari yang sebelumnya pada masa kejayaan sempat mencapai 2 ton per hektare. Sedangkan produktivitas lahan lada di Vietnam sangat tinggi yakni sekitar 3,2 ton per hektare. Produksi yang tinggi membuat Vietnam menguasai 34,5 persen pangsa pasar lada global pada 2013.

Belajar dari Pengelolaan Lada Vietnam

Dari tahun ke tahun, luas lahan perkebunan lada di Vietnam terus meningkat. Pada 2003 luas lahan lada hanya 48 ribu hektare, lalu berkembang menjadi 50 ribu hektar pada 2012. Menurut Blooomberg, tahun ini diprediksi area perkebunan lada di Vietnam akan mencapai 100 ribu hektare. Adanya perluasan lahan perkebunan lada ini tentu secara langsung meningkatkan produksi lada di Vietnam. Dari 125 ribu ton lada pada 2011, dan diprediksi lada Vietnam akan meningkat hingga 150 ribu ton di 2016. 

Berlawanan apa yang terjadi dengan Vietnam, di Indonesia lahan perkebunan lada terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2006, luas area perkebunan lada Indonesia mencapai 192 ribu hektare. Pada 2007 turun menjadi 189 ribu hektare. Penurunan ini terus terjadi hingga pada 2015, area perkebunan lada tersisa 163 hektare. Dampaknya berpengaruh pada produksi lada Indonesia yang berfluktuasi. 

Selain itu, Vietnam juga memperbaiki kualitas lada mereka. Caranya, Vietnam melakukan kerja sama dengan The American Spice Trade Association (ASTA) dan European Spice Association (ESA) guna memberi pengetahuan kepada petani lada untuk mengatasi masalah teknis yang dapat merusak kualitas lada. Selain itu, mereka juga membantu meningkatkan pemahaman tentang tuntutan mutu yang ketat dan peluang yang ada di pasar global. 

Selain memberi pengetahuan tentang kualitas, Vietnam juga mengembangkan bibit unggul agar dapat menghasilkan lada-lada berkualitas. Untuk semakin menguatkan industri lada nasional, Vietnam membentuk Asosiasi Lada Vietnam atau The Vietnam Pepper Association (VPA). Adanya asosiasi ini tentu Vietnam akan semakin fokus pada pengembangan produksi lada. 

Sedangkan di Indonesia, pemberian pengetahun bertani kepada petani lada sangat minim. Pasokan bibit unggul dan bersertifikat sangat terbatas. Teknologi yang dimiliki petani Indonesia juga sangat minim. Ini tentunya akan berpengaruh tidak hanya pada produktivitas tetapi juga pada mutu lada Indonesia. Sehingga jangan heran jika kemudian Vietnam muncul sebagai produsen lada dunia meski dengan lahan yang tidak mencapai setengah dari luas area perkebunan lada Indonesia.

Impor Lada Menurun

Data dan Sistem Informasi Kementan, mengungkapkan produksi lada nasional pada 2016 mencapai 82,17 ribu ton. Besarnya produksi ini naik 0,82 persen dari produksi 2015 yang sebesar 81,50 ribu ton. Selain itu, devisa yang dihasilkan dari ekspor lada pada 2016 mencapai US$ 431,14 juta. Sementara, produksi lada pada 2017 diperkirakan naik 0,97 persen, yaitu 82,96 ribu ton.‎

Menteri Pertanian, menyatakan, pada 2016 total ekspor lada Indonesia 53,10 ribu ton. Ekspor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 mencapai 27,46 ribu ton atau naik 16,57 persen dibanding pada periode yang sama pada 2016 yang hanya 23,56 ribu ton. Dari data yang diperoleh tersebut, bisa dilihat bahwa ada peningkatan signifikan pada  volume ekspor diikuti dengan menurunnya volume impor. Impor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 hanya 690 ton, sedangkan impor lada pada periode yang sama di 2016 sangat tinggi, yakni 2.663 ton.

Artinya volume impor lada menurun signifikan, yaitu 74 persen. Ini membuktikan kondisi pertanaman lada Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa berjaya lagi seperti waktu 500 tahun lalu. Di Indonesia, terdapat lima provinsi penghasil komoditas lada, yaitu Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung merupakan penghasil utama lada dengan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 58,32 persen.

Upaya Revitalisasi Lada Nasional

Posisi Indonesia yang terus digeser oleh eksportir lada asal Vietnam dan India jadi perhatian yang tak boleh terus diabaikan. Untuk menyikapi hal tersebut perlu dilakukan terobosan dan langkah nyata dalam mengembalikan kejayaan lada Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia. Langkah awal yang dapat ditempuh adalahmelakukan revitalisasi perkebunan untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, efisiensi biaya produksi, dan pemasaran, serta manajemen stok melalui pengembangan inovasi teknologi dan kelembagaan. 

Untuk mencapai target produksi lada petani, perlu secara terus menerus melakukan perluasan dan pemantapan areal perkebunan lada, penyediaan lahan untuk kebun benih unggul, serta penyediaan sarana produksi. Selain itu, perlu  upaya menerapkan pengelolaan budi daya yang baik, penerapan bibit polybag tujuh ruas, mendorong perkembangan penangkaran lada, dan fasilitasi sarana produksi penangkar, serta penerapan pengendalian hama terpadu.

Selanjutnya langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Perkebunan harus menetapkan arah kebijakan dalam pengembangan lada, yakni meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman secara terintegrasi dan berkelanjutan. Langkah kebijakan dilakukan dengan pengembangan komoditi (rehabilitasi, intensifikasi dan diversifikasi), peningkatan kemampuan sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha, peningkatan investasi usaha serta pengembangan sistem informasi. 

Pemerintah juga harus bergerak lebih cepat untuk mengatasi rendahnya produktivitas lada lokal. Vietnam secara perlahan telah menjadi kompetitor Indonesia di segala lini ekspor seperti furnitur, kacang mete, hingga lada yang dahulu Indonesia sempat berjaya sebagai pusat rempah-rempah dunia. Upaya pemerintah mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia bisa dimulai dari lada.


500
komentar (0)