logo rilis

Mendagri: Jokowi Harus Gunakan Pesawat Lain untuk Kampanye
Kontributor

06 April 2018, 19:29 WIB
Mendagri: Jokowi Harus Gunakan Pesawat Lain untuk Kampanye
Pesawat kepresidenan. FOTO: setkab.go.id

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, menyatakan, Presiden Joko Widodo tak boleh menggunakan pesawat kepresidenan saat kampanye pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sebab, termasuk fasilitas negara.

"Kalau kampanye, menurut saya, harus menggunakan pesawat lain," ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Hingga kini, terang Tjahjo, pesawat kepresidenan tak diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Meski begitu, menurutnya, penggunaannya pada masa kampanye bisa diatur melalui Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU).

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menambahkan, Sekretariat Negara segera berkonsultasi dengan KPU terkait masalah tersebut.

Sebelumnya, Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, menerangkan, pihaknya bakal membuat PKPU terkait cuti kampanye Presiden dan Wakil Presiden. Keduanya wajib cuti di luar tanggungan negara.

Presiden dan Wapres yang ditetapkan sebagai calon pun diminta memperhatikan tugas kenegaraannya selama kampanye. Meski begitu, salah satu atau keduanya dilarang menggunakan fasilitas negara.

Sementara, bagi politisi PDIP, Arif Wibowo, menganggap, Jokowi bisa menggunakan pesawat kepresidenan saat kampanye, sepanjang sesuai aturan. Alasannya, masih sebagai kepala negara dan pemerintahan, meski dalam kondisi cuti kampanye.

Baca: Jokowi Gunakan Pesawat Presiden saat Kampanye Dinilai Wajar

Pernyataan berbeda dilontarkan Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera. Menurutnya, pesawat kepresidenan merupakan fasilitas negara, bukan pengamanan. Sehingga, tak boleh memakainya kala kampanye kelak.

Jika tetap digunakan, Mardani menaksir, Jokowi bakal kehilangan simpati publik. Karenanya, diharapkan bijak dalam menggunakan fasilitas negara.

Baca: PKS Nilai Jokowi Tak Bijak bila Pakai Pesawat Presiden saat Kampanye

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)