M. Alfan Alfian

Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.

Menatap Kembali Wajah Asia

Senin, 13/11/2017 | 15:29

KEMBALI kita membaca Gideon Rachman, Easternisation: War and Peace in the Asian Century (2017). Ini lanjutan kolom minggu lalu (baca: Apa Asia Sedang Bangkit?), yang berhenti pada tesis Rachman soal berakhirnya dominasi Barat terhadap bangsa-bangsa Asia. Bagi orang Barat dan Timur, Asia, buku ini mengajak mereka untuk sejenak menatap wajah Asia dalam perkembangan geopolitiknya, dulu, kini, dan kemungkinannya ke depan.

Dalam bukunya itu, dia melihat betapa Barat tradisional yang secara konsep politik selalu dikaitkan dengan dua pilar utamanya, yakni AS dan Eropa, tengah bermasalah. Masalah krusialnya antara lain muncul pada jargon dan kebijakan Donald Trump yang mengutamakan Amerika ketimbang yang lain (American First) bisa menimbulkan masalah dengan sekutu Eropanya (hal. xviii).

Dikatakan, memang efek politik kebangkitan Asia itu lambat, mengingat kesinambungan aliansi Barat. Namun, Barat sendiri kini tengah “jatuh pada kekacauan” (falls into disarray), di mana dalam kondisi demikian proses Esternisasi akan berjalan lebih cepat (hal. xviii).

Tentu, karena perspektifnya geopolitis, tak terelakkan untuk tak bicara soal China. Sudah menjadi pengetahuan umum, China merupakan fenomena. Dia punya pengalaman sejarah berliku, tapi lantas mampu meraih prestasi ekonomi. Secara kekuatan ekonomi, China sangat fenomenal. Sehingga, lantas dia merambat menjadi kekuatan politik dalam konteks politik global. Dia tumbuh sebagai kekuatan militer besar di kawasan Asia Pasifik, dan semakin dipandang sebagai ancaman utama Barat.

Sebagaimana dijanjikan dalam sampul belakangnya, buku ini sesungguhnya tak sekadar bicara masalah China yang meraksasanya tak terbendung. Selain dengan China, supremasi Amerika berhadapan dengan Korea Utara, Jepang, India, dan Pakistan sebagai kekuatan-kekuatan Asia yang satu sama lain punya ambisi masing-masing. Hal ini mendorong suatu pergeseran peta keseimbangan kekuatan interasional. Belum lagi isu populisme politik yang tengah naik daun di negara-negara demokrasi di Asia, juga Timur Tengah dan masalah Rusia yang mengklaim sebagai kekuatan dunia kembali.

Fenomena Timur Tengah dan Afrika Utara, juga Rusia memang menjadi kalkulasi pula dalam menimbang Barat dewasa ini. Selain fenomena Rusia, buku ini sekilas juga membahas fenomena Turki. Yang terakhir ini, jelas-jelas sekutu Barat. Turki diterima sebagai anggota NATO pada 1952 dan telah menunjukkan pengorbanannya yang tinggi dalam beberapa peperangan yang melibatkan aliansi Barat, seperti Perang Korea pada 1950-an. Tapi, Turki dewasa ini dalam beberapa hal berani menentang kebijakan-kebijakan Barat dan terkesan tak terlalu tertarik lagi untuk masuk Uni Eropa.

Yang menjadi fokus perhatian Rachman, fenomena Esternisasi juga berkaitan dengan hadirnya kepemimpinan orang-orang kuat (strong man) di Asia. Putin di Rusia, Xi Jinping di China, Narendra Modi di India, Shinzo Abe di Jepang, termasuk Erdogan pula di Turki (hal. 202-203). Mereka memainkan pengaruh dan kontribusi masing-masing dalam konteks, apa yang diulas Rachman, esternisasi.

Dalam konteks inilah, kita segera ingat polemik Barat yang mengembangkan demokrasi liberal vs negara-negara “orang kuat” di Asia dengan “Asian values”-nya. Sehingga, kalau dikembangkan pun sekadar merespons isu klasiknya. Di sisi lain, buku Rachman juga mengingatkan konteks fenomena anti-Amerikanisme, di mana negara yang menjadi sekutu Amerika, pun di Asia, sering kali ditemukan fakta tingginya anti-Amerikanisme. Di Turki pasca-kudeta 2016, misalnya.

Tapi, kendatipun berkonteks ulasan politik, esternisasi dalam konteks Rachman tak sekadar pula masalah “Asian values” yang menyuburkan praktik “orang kuat” dalam kepemimpinan politik Asia, maupun anti-Amerikanisme yang fluktuatif, tetapi esternisasi di sini mengandung dua kata kunci, kesejahteraan (wealth) dan kekuatan (power). Lebih banyak diingatkan soal fenomena pergeseran kesejahteraan dan kekuatan dari Barat, westernisasi, ke Timur, esternisasi.

Kendatipun tergagap-gagap menghadapi perkembangan kemakmuran dan kekuatan di Asia, yang dalam batas tertentu memang sudah menjadi pesaing dan ancaman bagi Barat yang mengatasnamakan demokrasi pula, dalam Bab 14, Rachman mencatat bahwa Barat masih unggul dalam hal kelembagaan. Barat, catat Rachman (hal. 244), masih unggul dalam hal gaya atau standar hidup sebagai sumber penting “soft power”, selain juga prestise.

Orang-orang kaya Asia masih sering membeli properti di Eropa dan Amerika, menyekolahkan anak-anaknya di sana. Dalam hal kebersihan udara, mereka mampu menjaga kota-kotanya dari kabut asap, yang sering terjadi di Beijing hingga New Delhi (hal. 244). Dalam hal korupsi, mereka juga dipandang lebih maju ketimbang negara-negara Asia. Lembaga-lembaga di Barat, secara umum, bersih. 

Terkait dengan konteks kelembagaan ini, kita pun segera ingat tesis Acemoglu tentang kelembagaan eskstraktif versus inklusif. Barat maju karena kekuatan kelembagaannya yang inklusif. Negara-negara lain yang tertinggal di belakang, karena kelembagaan (ekonomi dan politiknya) ekstraktif. Memang lantas penuh debat, ketika Acemoglu menjelaskan fenomena China yang di satu sisi kelembagaan ekonominya yang inklusif, karena mengakomodasi praktik ekonomi kapitalistik, tetapi kelembagaan politiknya ekstraktif (tertutup dan tidak demokratis).

Tentang Acemoglu, lihat lagi Daron Acemoglu dan James A Robinson, Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (2012). Menyimak Rachman, ketimbang negara-negara Afrika, isu-isu negara gagal di Asia semakin kurang populer. Kalaupun populer, sisi anti-demokrasi dan pelanggaran HAM yang di beberapa negara merah nilainya, tapi jika ditilik indikator ekonominya, tidaklah demikian.

Akhirnya, membaca buku Rachman, terpotret pula bahwa negara-negara di Asia pun sesungguhnya, secara politik dan ambisi-ambisi lainnya, tidaklah homogen, melainkan heterogen. Dalam penjelasannya tentang Asia yang terbelah-belah, Rachman memotret bahwa, dan ini untuk menghindari simplifikasi yang sering dikedepankan oleh politisi dan intelektual Barat, pembelahan dan rivalitas di internal bangsa-bangsa Asia sendiri masih menonjol. Inilah yang membuat aliansi Barat masih lebih unggul ketimbang aliansi Timur (hal. 15).

Terlepas dari itu, bangsa-bangsa di kawasan Asia Pasifik ke depan masih akan menjadi objek pengaruh dua kekuatan besar sekarang: Amerika Serikat dan China. Berbagai ketegangan dan perebutan sumber daya alam barangkali akan terus meningkat ke depan. Bagaimana dengan Indonesia? Inilah pertanyaan terbuka yang saya sisakan untuk dijawab oleh para pembaca.