logo rilis

Menakar Nyali Generasi
kontributor kontributor
Arif Budiman
10 Juli 2017, 19:22 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Menakar Nyali Generasi

Pada suatu masa, ada bayangan sok kuasa. Sambil sembunyi muka, ia berkhotbah tentang ideal tatanan dan kesucian tahta. Bermodal lidah tajam, segala penghalang disayat hingga terbenam. Dalam darah dan nanah, wajah para penentang dipendam. Lalu ia tertawa, sampai muncrat air matanya.

Dari balik tirai, ia mengucap sabda. Berkerumun di luar para pemuja setia. Mulut mereka lebar menganga. Bersiap menelan kata-kata. Dari bayangan yang tak mereka ketahui, tak pula mereka kenal. Lapar dan luka teramat mendera mereka. Kata-kata bayangan didamba sebagai panacea, untuk mengusir perih lambung dan menawar pedih luka.

Baca Juga

Tak lama berselang, terdengar teriakan dari belakang pintu. Menyembur ajakan untuk mengubah dunia, menyelamatkan rakyat dari gendam dan muslihat. Si Pandir melongo, sementara Si Cendekia bertanya-tanya, “Siapa Kamu hingga berhak memerintahku begitu? Jangankan menggandeng tanganku, mukamu saja tak pernah muncul di hadapanku!” begitu gerutunya, persis ketika matanya tertuju pada pucuk bokong yang bergoyang melalui celah pintu.

Di tempat yang lain, ada sosok nyata sibuk menyapa. Usianya masih muda. Tangannya lincah menyalami manusia. Keringatnya mengalir lewat bingkai kacamatanya yang sederhana. Peluh itu seakan harga, wujud kompensasi atas gerak tubuhnya yang tak kenal lelah.

Ada kata-kata. Penuh energi dan bertenaga.
Ada kerumun manusia. Semuanya nyata.
Ada pekik semangat. Gelegar membahana.
Ada tanggung jawab. Wajahnya jelas terlihat di sana.
Ada kasih sayang. Untuk bangsa dan negaranya.

Lalu…

Kepada siapa pantas dipercayakan masa depan dunia? Ia yang berteriak congkak dari balik tirai dan bersabda acak dari belakang pintu dengan wajah yang tersamar?

Ataukah ia yang berani menggegap kata-kata bertenaga dengan wajah cerah di bawah terang sorot cahaya, seraya menyeka keringat yang menderas dari pori-pori tubuhnya?


#kolom
#semburat
#arif budiman
#generasi muda
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID