logo rilis
Membudayakan Syariat
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
04 April 2018, 19:25 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Membudayakan Syariat
ILUSTRASI: Hafiz

SYARIAT berarti jalan setapak menuju sumber/mata air. Air murni dari sumbernya itulah yang menjadi penopang utama kehidupan, karena memberikan kesegaran, sehingga manusia tidak mengalami kematian. Untuk mendapatkan air dari sumbernya itu, imajinasi tentang jalan yang harus ditempuh oleh orang yang hendak mereguknya bukan hanya tanpa alternatif lain, tetapi bahkan tidak ada kelapangan; hanya setapak saja. Tidak ada kesempatan untuk bejalan secara zigzag dan kesempatan untuk bermanuver. Yang tersedia hanyalah koridor yang hanya cukup untuk dua kaki berjalan. Namun, justru jalan setapak itulah yang menyelamatkan manusia dari ketersesatan.

Manusia adalah makhluk berakal, hayawânun nâthiqun. Dalam disiplin filsafat, tidak sekadar diartikan sebagai hewan yang berbicara, tetapi berlogika. Maka dalam tradisi keilmuan Islam, muncul istilah manthiq. Kemahiran dalam manthiq, termanifestasi dalam retorika yang baik. Memang kemampuan berbicara secara runtut hanya mungkin apabila orang memiliki logika yang sehat. Akalnya waras. Orang yang tidak waras, akan berbicara dengan susunan kalimat yang kacau balau sehingga tidak bisa dipahami oleh orang lain.
 
Orang yang beragama, menjadikan akal hanya sebagai sarana untuk memahami bahwa syariat dari Allah adalah benar adanya, dan didesain oleh Allah justru untuk memenuhi kebutuhan hakiki manusia secara keseluruhan. Syariat bukan untuk menyusahkan, tetapi justru untuk memudahkan. Akal yang diberi kebebasan tanpa batas, bisa jadi justru akan menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan hakiki manusia. Akal tanpa panduan syariat, bisa terjerumus kepada kekeliruan. Sebab, pancaindera yang berpengaruh kepada imajinasi manusia sangatlah terbatas. 

Pemilu segala pengetahuan adalah Allah. Karena itu, yang dianggap baik oleh akal yang tanpa panduan syariat, belum tentu benar-benar baik untuk manusia. Sebaliknya, yang dianggap buruk, belum tentu buruk. Itulah sebab, terdapat budaya yang berbeda-beda, bahkan di antaranya saling bertentangan. 

Agar lahir budaya yang benar-benar bisa menopang kebaikan manusia, maka syariat Islam harus dijadikan sebagai budaya. Dengan demikian, akan bisa terbangun budaya yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Jika yang terbangun adalah budaya yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka manusia akan hidup dalam kemakmuran. 

Manusia akan hidup dalam lingkungan yang sesuai dengan jati dirinya sehingga mudah untuk meraih kebahagiaan. Segala kemajuan yang dicapai adalah benar-benar kemajuan hakiki, bukan menjadi kemajuan semu yang justru akan berujung kepada kehancuran. 

Karena itu, dalam negara Pancasila tidak seharusnya syariat dianggap sebagai momok dan dicemooh dengan cara dibandingkan dan menganggapnya tidak indah. Akan lebih bagus lagi jika akulturasi budaya yang saat ini tengah terjadi, terus didorong, agar masyarakat Indonesia tetap memiliki ciri khas di satu sisi dan di sisi lain tetap bisa menjalankan ajaran substansial agama yang tidak bisa ditawar-tawar dan dicarikan alternatif lainnya. 

Seni yang dilahirkan pun adalah seni yang mencerminkan paradigma dan perilaku manusia beragama, bukan manusia liberal. Untuk terus melakukan itu, maka yang belum memahami syariat dengan baik, hendaknya terus-menerus belajar dan menahan diri dari memberikan pernyataan-penyataan yang bisa merusak suasana harmoni dalam kebhinnekaan. Berlindung di balik seni untuk memperolok-olok agama adalah benar-benar kebodohan. Wallahu a’lam bi al-shawab.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID