logo rilis
Memberatkan, Pengusaha Minta BMAD Tidak Diberlakukan
Elvi R
02 Mei 2018, 13:47 WIB
Memberatkan, Pengusaha Minta BMAD Tidak Diberlakukan
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Pridjosoesilo mengatakan, pengenaan bea masuk (BM) anti dumping (BMAD) untuk polietilena tereftalat (PET) memberatkan pelaku usaha minuman ringan dalam negeri. Pasalnya, selama ini PET menjadi bahan baku utama dalam pembuatan kemasan minuman ringan. 

"Kalau BMAD PET itu diberlakukan maka akan berdampak pada ongkos produksi. Karena kemasan minuman ringan sebagian besar menggunakan PET, bukan botol. Kalau ongkos produksi naik, konsekuensinya adalah harga di konsumen juga naik," ujar Triyono di Jakarta, Kamis (26/4/2018).

Menurut Triyono, kenaikan harga tidak akan menguntungkan semua pihak, baik di sisi pengusaha, pemerintah dan konsumen. Selama ini, konsumsi masyarakat cukup rendah, di 2017 bahkan, pertumbuhan industri minuman ringan minus 1 persen. Jika ada kenaikan harga, diprediksi konsumsi masyarakat semakin tertekan. Di sisi lain, turunnya konsumsi karena kenaikan harga akan berpengaruh pada pajak penjualan. Misalkan pada pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak perusahaan yang juga akan turun.

Lebih lanjut, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak luput dari dampak BMAD PET. Karena, minuman ringan dan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menggunakan kemasan plastik akan mengalami kenaikan harga. Data Asrim 2013 menyebut, minuman ringan menyumbang 40 persen pendapatan warung tradisional.

"Jika benar ada kenaikan harga maka penghasilan warung tradisional tergerus. Minuman ringan dan AMDK merupakan produk yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan dijual oleh warung tradisional. Tapi mereka akan kena dampak BMAD pada PET," jelasnya.

"Harapan kami, pemerintah bijaksana melihat BMAD PET ini. Pemerintah bisa melihat secara utuh dan luas dampaknya," imbuh Triyono.

Catatan Asrim, volume produksi industri minuman pabrikan lokal sepanjang 2017 lalu hanya 34,41 miliar liter. Jumlah tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan capaian 2016 yang sebesar 43,76 miliar liter. Total produksi tersebut adalah golongan minuman ringan yang termasuk dalam kategori nonalkohol, seperti produk susu, jus, kopi, teh dan sebagainya.

Tahun ini, kata Triyono, industri minuman ringan mencoba untuk bangkit, sehingga mampu mencetak pertumbuhan. 

"Kuartal satu tahun ini saja kita tidak bisa bilang ada pertumbuhan. Masih sama dengan tahun lalu, harapan kita saat Ramadan dan Idul Fitri 2018. Harapan kita ada pertumbuhan, karena tahun lalu menyedihkan," ungkapnya.


500
komentar (0)