logo rilis
Memahami Batin Indonesia Lewat 34 Buku Puisi Esai
Kontributor

01 September 2018, 08:00 WIB
Memahami Batin Indonesia Lewat 34 Buku Puisi Esai
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Generasi di periode 2018 ini akan dikenang, karena mampu memotret batin masyarakat di 34 provinsi melalui 34 buku puisi esai.

Kekayaan budaya Nusantara, kearifan lokal, jeritan batin, peristiwa sosial, kegembiraanya tergambar dalam 175 puisi esai yang direkam dalam 34 buku itu.

Selain itu, terdapat diskusi pro kontra puisi esai ke-6 yang diselenggarakan Yayasan Budaya Guntur, Jumat (31/8/2018), di Jakarta.

Salah seorang editor 34 buku itu, Nia Samsihono, menyatakan ini karya spektakuler, karena karya kolosal  ini bisa selesai tanpa dana sepeser pun dari pemerintah.

Publik luas dapat belajar kearifan lokal ragam budaya nusantara dengan mudah karena karya puisi esai disampaikan dengan bahasa yang komunikatif.

Gunoto Saparie yang juga editor 34 buku itu menimpali, dirinya sebenarnya penulis puisi dengan bahasa yang samar. Namun dalam puisi esai, bahasanya begitu mudah dipahami. Kekuatannya ada pada aneka kisah sosial yang begitu bervariasi, banyak yang tak pernah kita baca dalam sastra di luar karya puisi esai.

Kemudian, Viddy Daery juga menulis puisi esai. Ia melihat lebih jauh.

Menurutnya, puisi esai mengembalikan puisi kepada bentuk yang luhur. Puisi tak hanya menjadi hiburan dan permainan kata belaka. Puisi menjadi bagian dari gerak budaya untuk membangun katakter bangsa. Puisi esai membawa penyair untuk menyuarakan pesan mulia seperti yang disiratkan dalam Al-Quran.

Anwar Putra Bayu juga menjadi editor dan penulis puisi esai.

Baginya, puisi esai berhasil menjadi potret alternatif untuk melihat batin Indonesia.

"Siapapun yang ingin memahami dan mendalami batin Indonesia, kini mereka dapat melihat potret alternatif batin itu dalam 34 buku puisi esai," katanya.

Diskusi puisi esai di Guntur 49 juga diramaikan oleh pembacaan puisi oleh penyair senior Aspar Paturusi yang juga membacakan penggalan puisi esai karya Bambang Irawan.

Diskusi ini juga diramaikan oleh aksi teater monolog arahan Isti Nugroho.

Penggagas puisi esai, Denny JA, menyatakan Indonesia hidup dalam sejarah yang sedang ditata ulang. Begitu banyak pembaruan dilakukan di bidang teknologi, bisnis dan politik yang sudah mengubah hidup kita. Para sastrawan, penulis, jurnalis juga merespon zaman ini dengan kreativitas yang sama. 

"Mereka melakukan hal yang belum pernah dilakukan generasi sastrawan sebelumnya: membangun gerakan kultural, swadaya, merekam batin Indonesia di 34 provinsi melalui 34 buku puisi esai," katanya di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Keseluruhan buku itu, ujar Denny, bisa diakses oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun sejauh ada internet. Sebanyak 34 buku itu abadi dipublikasi di Facebook perpustakan puisi esai. Belum pernah terjadi sebelumnya pula sebuah genre baru sastra bisa diakses dan dibaca begitu mudah di sosial media.

"Aneka pembaruan dalam isi puisi, cara penulisan, media penyebaran, komunitas dan kuantiti jumlah karya, sah sudah di tahun 2018 memang telah lahir angkatan baru sastra Indonesia, angkatan puisi esai," ujar Denny JA.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID