logo rilis
Melongok Budidaya Ulat Maggot Si Pengurai Sampah Organik
Kontributor
Elvi R
11 Agustus 2020, 11:40 WIB
Melongok Budidaya Ulat Maggot Si Pengurai Sampah Organik
Petugas mengaduk tumpukan ulat Maggot yang dibudidayakan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria

RILIS.ID, Jakarta— Limbah rumah tangga kian hari menjadi masalah karena jumlah penduduk yang terus bertambah. Berdasarkan data survei Katadata Insight Center pada 2019 setidaknya dalam satu jam Indonesia memproduksi 7.300 ton sampah atau 175 ribu ton sampah per hari. Sedangkan dari jumlah itu 60 persen merupakan sampah rumah tangga, termasuk sisa makanan, sisa tumbuhan dan buah-buahan.

Sumbangan sampah plastik di Indonesia mencapai 14 persen, sampah kertas sembilan persen dan 17 persen merupakan sampah lainnya, seperti karet dan logam.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, TPST Bantargebang menerima sebanyak 7.702,06 ton sampah dari Jakarta per hari. Dengan rincian sumber, yaitu pemukiman dan fasos/fasum 6.571 ton per hari (85,3 persen), pasar 5.931 ton per hari (7,7 persen), kawasan mandiri 260,48 ton per hari (3,4 persen), dan badan air serta Kepulauan Seribu 279,15 ton per hari (3,6 persen).

Oleh karenanya, Pemerintah Daerah DKI Jakarta terus membuat terobosan untuk mengurai permasalahan sampah. Salah satunya adalah daerah Jakarta Pusat. 

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat tengah menggencarkan budidaya belatung pengurai sampah atau maggot di seluruh kecamatan yang tersebar di wilayahnya. Langkah ini merupakan program pengurangan beban sampah Jakarta.

Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Irwandi mengatakan, budidaya maggot perlu digencarkan seiring penerapan penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan (KBRL). "Kita harapkan budidaya maggot bisa digencarkan di tiap kecamatan," katanya seperti dilansir dari Republika Online, Selasa (11/8/2020).

Irwandi menuturkan, saat ini budidaya maggot tengah dirintis di delapan kecamatan di wilayahnya. Mengingat manfaat dari budidaya belatung pengurai sampah tersebut cukup banyak. Antara lain untuk alternatif pakan ternak dan pupuk tanaman. "Maggot ini bisa menghancurkan sampah. Karena itu akan kita gencarkan budidayanya," katanya.

Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formapel) Kecamatan Menteng, Hendra Kurnia mengatakan, budidaya ulat maggot sudah dilakukan sejak 2019. "Budidaya ini cukup efektif, dia (maggot) bisa menghabiskan cukup banyak sampah organik dalam waktu 24 jam," jelasnya.

Menurutnya, sebanyak 10 kilogram maggot bisa mengurai sampah organik seberat 30 kilogram. Dengan budi daya maggot pengurai sampah ini, diprediksi bisa secara signifikan mengurangi sampah, khususnya sampah basah. Berdasarkan laporan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, reduksi sampah di Jakarta Pusat mencapai 11 persen dan masih ada sembilan persen lagi yang direduksi. 
 

Tim rilis.id  berhasil mengabadikan pembudidayaan ulat maggot di daerah Pesanggrahan, Jakarta. Berikut dokumentasinya.

Budidaya ulat Maggot yang dapat mengurai sampah organik itu sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan banyaknya limbah rumah tangga yang disalurkan ke tempat pembuangan akhir. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Petugas menaruh tumpukan ulat Maggot dibudidayakan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta, Selasa, (4/8/2020). Dalam sehari, sebanyak 66 gram ulat Maggot dapat menghabiskan dua kwintal sampah organik. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria.

Petugas mengaduk tumpukan ulat Maggot yang dibudidayakan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria.

Petugas membawa telur ulat Maggot yang dibudidayakan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria.

 Petugas membawa ulat Maggot yang sudah menghitam untuk kembali ditelurkan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria.

 Petugas melakukan penyemprotan air pada ulat Maggot untuk dibudidayakan di kawasan Pesanggrahan, Jakarta. Foto: RILIS.ID/Panji Satria.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID