Home » Fokus

Melihat Kompetensi Indonesia di Era Digital

print this page Jumat, 5/1/2018 | 21:41

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

PASAR ekonomi Indonesia, kini berada di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi. Transaksi non tunai, adalah salah satu cara merayakannya.

Namun, peralihan ini tak mulus-mulus banget berjalan. Masih ada kendala yang harus dihadapi. Melihat itu, Wartawan rilis.id, Afid Baroroh, mewancarai Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati. FOTO: Rilis.id/Indra Kusuma.

Apa yang melatarbelakangi adanya transaksi digital?

Sekarang, era digital sudah menjadi keniscayaan. Artinya, tuntutan dari perubahan zaman. Siap tidak siap, harus dihadapi. Kita harus memersiapkan diri. Pertimbangannya adalah pada "kemudahan", dan menumbuhkan roda prekonomian. Jika tidak, pasar prekonomian kita, kalah di kancah global.

Namun, ada kendala dalam penerapannya, seperti apa?

Hal yang sering kali menjadi kendala adalah regulasi sistem yang tidak kompetible. Tidak ada satu pengaturan yang komperhensif. 

Masyarakat pun, tak jarang mengeluhkan sistem yang tak aman atau dugaan penyalahgunaan, serta lain sebagainya. Sedangkan pemerintah kerap telat dalam merespons perkembangan di masyarakat. 

Padahal, pola digital ini diperlukan untuk meningkatkan perekenomian kita. Inilah yang melatarbelakanginya. Bahkan, jika era digital diyakini akan memacu efisiensi, justru sangat bagus untuk daya beli masyarkat. 

Bagaimana dengan ritel konvesional?

Apa yang lebih menguntungkan, itu yang seharusnya digunakan. Mereka seharusnya tinggal mengikuti saja. Karena problem utamanya adalah meningkatkan produktivitas lokal. 

Transaksi antara digital dan konvensional pun perbedaannya hanya pada cara yang langsung dan tidak langsung. Namun, itu bukan menjadi masalah utama.

Sebab yang seharusnya dikritisi adalah bagaimana pasar kita memiliki proteksi dan juga perlindungan dari penetrasi pelaku-pelaku global dan e-commerce dunia. Jika tidak ada perlindungan, otomatis kalah. 

Perbandingannya seperti apa?

Perbandingannya begini, kalau global kan skalanya sudah internasional, SDM pun sudah terjamin, jaringannya sudah luas. Sementara, di dalam negeri misalnya saja UMKM kita, boro-boro punya jaringan internasional. Semua serba terbatas, mulai SDM-nya, modal, dan teknologi.

Apa yang dibeli masyarkat juga patut menjadi perhatian. Jika yang terjadi adalah konsumsi besar-besaran terhadap produk impor, industri lokal di kita akan bangkrut. Di pasar global, daya saing kita lemah. 

Pasar kita itu hanya dijadikan objek. Subjeknya adalah pelaku e-commerce luar. Kalau dipertarungkan secara "bebas", kita pasti K.O!

Apakah UMKM mampu berperan dengan persaingan saat ini?

Dalam kompetensi pasar global, kita selalu kalah dalam ekonomi produksi, dengan faktor teknologi dan minimnya modal. 

Sekala ekonomi kita pasti akan kalah dengan korporasi yang lebih besar. Namun, kita punya UMKM yang memiliki banyak potensi. Keunikan, kreativitas dan lain sebagainya pun ada. 

Ragam produk budaya dan histori lokal pun ada. Akan sangat menarik jika dimanfaatkan dalam pengembangan perekonomian kita. Dan, itu harus dijual. 

Solusinya bagaimana?

Persoalannya, mereka pelaku UMKM tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada edukasi, pendampingan, dan berbagai macam fasilitas. Termasuk, pemasaran dan promosi di era digital. 

Memanfaatkannya pun perlu kehadiran pemerintah untuk melakukan pembinaan secara khusus. Karenanya, UMKM dapat berdaya saing dengan memanfaatkan teknologi digital. 

Baca juga:
'Cashless Society' Membanjiri Transaksi (bag.1)
Gerai Online 'Merangsang' Belanja (bag.2)
Masih Terbiasa Cara 'Zaman Old' (bag.3)
Menargetkan Mereka 'Melek' Pola Kekinian (bag.4)
Melihat Kompetensi Indonesia di Era Digital (bag.5)

Penulis Afid Baroroh
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Ekonomi IndonesiaPasar GlobalTransaksi Non TunaiBelanja OnlineUMKM