Home » Inspirasi » Opini

Melawan Citra Perempuan dalam Budaya Jawa

print this page Kamis, 21/12/2017 | 15:17

Oleh Novita Natalia Kusumawardani 
Alumni Ilmu Politik Universitas Indonesia

PERNIKAHAN Kahiyang, putri dari Presiden Joko Widodo menjadi perbincangan warganet di dunia maya beberapa waktu yang lalu. Banyak artikel yang menulis tentang pernikahan mereka, dari tradisi pernikahan Jawa, politisi yang hadir, hingga artis Roro Fitria. Dari semua artikel tentang pernikahan Kahiyang, terdapat satu artikel yang sangat menarik, yaitu artikel mengenai Daya Tarik Wanita Jawa. Memanfaatkan momentum pernikahan Kahiyang, artikel informatif tersebut menjelaskan bagaimana budaya dan tradisi Jawa membuat perempuan menjadi istimewa.

Tak dapat dipungkiri, budaya dan tradisi Jawa yang ditanamkan pada perempuan memuat nilai-nilai patriarki. Apa itu Patriarki? Secara sederhana, patriarki adalah pandangan gender yang menganggap laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan. Perlu diketahui, gender sangat berbeda dengan sex atau jenis kelamin.

Gender adalah konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat bahwa laki-laki harus maskulin dan perempuan harus feminin. Hal ini yang mulai memunculkan anggapan bahwa laki-laki perkasa, rasional, jantan dan perkasa, sedangkan perempuan pasif, lemah lembut, dan menggunakan perasaan. Gender ini sangat berbeda dengan jenis kelamin/sex yang secara natural sudah terberi (given).

"Perempuan itu kodratnya di rumah, melayani suami dan membesarkan anak," pernyataan tersebut harus dikritisi, karena kalimat tersebut merupakan pengaruh gender yang disebabkan oleh nilai-nilai patriarki.

Hal di atas juga memengaruhi citra perempuan Jawa, yang didukung oleh budaya, tradisi, dan nilai-nilai Jawa. Perempuan Jawa dianggap memiliki sifat keibuan, lembut, dan penurut, dan mau ditata. Secara etimologi, istilah wanita berasal dari bahasa jawa, yaitu wani ditoto (berani ditata), artinya perempuan tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri dan harus tunduk kepada laki-laki.

Sejak kecil perempuan Jawa diajarkan untuk menjadi penurut, pandai mengerjakan pekerjaan domestik (mencuci, menyapu, memasak, dll), tidak boleh keluar malam, dan harus menjaga sopan santun. Pada umumnya, anak perempuan Jawa yang diminta untuk menyapu pasti pernah di-guyoni oleh orang tua dengan mitos, "nyapunya yang bersih ya, kalau tidak bersih nanti dapet suami yang brewokan".

Jadi kalau anak laki-laki yang menyapu akan dapat istri yang brewokan? Nggak mungkin kan? Mitos tersebut memang hanya ditujukan untuk anak perempuan, yang dianggap menyapu adalah kewajibannya. Citra perempuan Jawa yang penuh kasih, lembut, dan penurut membuat perempuan dikontrol oleh aturan-aturan. Jika perempuan Jawa bertingkah sebaliknya akan mendapatkan komentar saru yang artinya tidak pantas, atau kelakuan yang memalukan.

Contohnya beberapa kasus yang saya alami: Pertama, saya perempuan berusia 22 tahun, namun hingga sekarang saya tidak bisa memasak. Namun, tetangga saya mengatakan, "Aduh, cah wedok kok ora iso masak? Ya ojo saru" (Aduh, anak perempuan kok tidak bisa masak? Ya jangan memalukan).

Kedua, saya memiliki pasangan, suatu hari saya bertemu dengan ibunya. Saya menceritakan kalau saya tinggal sendiri, dan membayar asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah (menyapu, mencuci, dan menyetrika). Namun beliau mengatakan, "Kenapa pakai pembantu (asisten rumah tangga)? Sebagus-bagusnya karier, wanita (perempuan) tidak boleh lupa untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan beres-beres."

Kasus di atas hanya sebagian kejadian kecil yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan Jawa. Perempuan Jawa harus memiliki citra yang feminin, lembut, dan penurut. Hal ini tercermin dari Karya Ilmiah Sriyadi S.Kar M.Hum dengan judul Nilai-nilai Kewanitaan dalam Budaya Jawa, yang dijadikan rujukan artikel pada paragraf satu.

Terdapat 4 (empat) nilai yang dipegang oleh perempuan Jawa. Pertama, Setya, di mana perempuan harus setia kepada suaminya bagaimanapun kondisinya. Kedua, Bekti, melalui tradisi upacara Mijiki, istri diminta untuk membasuh dan mengelap sebagai simbol kalau perempuan akan senantiasa berbakti dalam berumah tangga atau ungkapan Jawanya bakti mring kankung.

Ketiga, Mituhu, perempuan diminta untuk memerhatikan dan meyakini didikan suaminya, serta menuruti perintah suami. Dan keempat, Mitayani, perempuan Jawa harus dapat dipercaya. Dengan contoh, suami dapat berangkat bekerja dengan tenang untuk meninggalkan istri di rumah.  

Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa nilai-nilai di atas adalah hal yang wajar atau bahkan sepatutnya memang seperti itu. Namun, jika dikritisi, apakah hanya perempuan yang harus menerapkan dan menjalankan setya, bekti, mituhu, dan mitayani? Sedangkan laki-laki tidak harus melakukan hal itu? 

Hegemoni nilai-nilai Jawa, membuat perempuan berada di posisi yang tidak menguntungkan. Mereka dituntut untuk setia, berbakti, menurut, dan dapat dipercaya, sedangkan laki-laki tidak dituntut apapun.

Raja-Raja Jawa (kecuali Sultan Hamengkubowono X) terbiasa untuk melakukan poligami. Memiliki istri lebih dari satu dianggap sebagai bentuk kekuasaan raja, tidak hanya secara seksual tetapi juga secara politik. Mengutip Prapto Yuwomo, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI), seks bagi raja-raja Jawa bisa dianggap sebagai klangen, atau pengalaman bercinta yang bagai seni. Perempuan menjadi objek analisa penikmatan seksual. Menyedihkan bukan? 

Beruntungnya saya, memiliki Ibu yang mendukung kesetaraan gender, beliau memiliki pendidikan dan karier yang bagus. Ia mengajarkan saya agar perempuan harus memiliki pendidikan yang tinggi, mengejar karier, dan berani berpendapat dan bersuara.

Lingkungan keluarga inti, saya belajar tentang pembagian tugas domestik antara ayah dan ibu saya. Ayah saya bertugas untuk melakukan pekerjaan domestik seperti mencuci, menyapu, dan mengepel. Dan Ibu saya bertugas untuk memasak dan menyetrika (walaupun kegiatan tersebut mereka lakukan pada saat akhir pekan).

Apa yang orang tua saya tunjukan kepada saya, mengajarkan saya bahwa semua pekerjaan domestik tidak hanya dilakukan oleh perempuan, tetapi juga bisa dibagi kepada laki-laki.

Tidak ada salahnya jika kita mulai untuk menyuarakan hak-hak kita sebagai perempuan, dan mengajarkan kesetaraan gender kepada anak-cucu kita sebagai generasi masa depan.

Hal yang dapat kita lakukan untuk memperjuangkan hak kita sebagai perempuan. Pertama, kejar mimpi dan tujuan kita, jangan pernah takut kalau kamu mengejar mimpi kamu, kamu nggak akan dapat jodoh. Perempuan yang berkualitas, akan mendapatkan pasangan yang berkualitas juga!

Kedua, jangan selalu menurut sama pasangan kamu, dan berani untuk berkata "TIDAK", jika pasangan kamu menyuruh kamu A dan B, atau pasangan kamu melarang kamu A atau B. Lebih baik pikirkan dulu, yang membuat keputusan kamu bukan pasangan kamu. Kamu punya otoritas untuk menentukan pilihan kamu sendiri.

Ketiga, ketika kamu memutuskan untuk meneruskan ke jenjang pernikahan, sebelumnya kamu harus berdiskusi dengan pasangan kamu tentang visi dan misi kamu, serta pembagian tugas dan tanggung jawab domestik. Selain keputusan ini akan membantu kamu dalam tugas dan tanggung jawab domestik, anak kamu akan melihat bahwa pentingnya kerja sama dan kesetaraan gender dalam rumah tangga. Pasangan hidup itu harus equal, karena masing-masing akan menjadi potongan puzzle yang saling melengkapi.

Tags:

Perempuan JawaBudaya JawaCitra Perempuan Jawa