logo rilis

Melampaui Indonesia
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
13 April 2017, 18:20 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Melampaui Indonesia

Saat purba, Atlantik. Saat lalu, Nusantara. Saat ini, Indonesia. Berikutnya entah apa. Mengapa? Sebab, saya yakin praktek oligarki, kartel dan kleptokrasi yang predatoris sedang berlangsung akan bertahan lama. Bagaimana menurut kalian? Saya yakin sebagian besar berhipotesa sama.

Minus kedaulatan, defisit kemandirian dan alpa kemerdekaan 100% itulah kini kita semua sebagai negara. Di tengah kesadaran tersebut, saya kirim surat cinta ke Presiden Republik Indonesia. Begini bunyinya:

Baca Juga

Kepada Tuan Joko Widodo yth,

Mungkin tuan kini lupa karena sedang sibuk bekerja dan mengumpulkan duit buat bayar hutang, habis pemilu dan sebagai modal pilpres berikutnya. Tetapi, di sela-sela kesibukan, aku ingin berbagi cita-cita soal mengapa kita merdeka dan apa tugas pemerintah (negara).

Ingatlah bahwa para pahlawan pendiri republik ini memberontak dan revolusi dari penjajah karena jiwa nasionalisme yang ingin merealisasikan hidup dalam tiga keadaan:

1) Membunuh kolonialisme dan neoliberalisme;

2) Menyingkirkan oligarki, kleptokrasi, kartel dan predatorik dari sistem ekopol indonesia;

3) Mencipta arsitektur dan tradisi gotong-royong di semua lini.

Itulah mengapa pasal 34 ayat 1 UUD 1945 mengatakan, "Fakir miskin dan anak terlantar dientaskan oleh negara." Negara harus pro mereka sampai menjadi warganegara yang layak, merdeka, mandiri dan modern.

Bukan pro-konglo dan bukan yang lain. Ingat itu. Catat dalam hatimu. Kerjakan sebelum ajal tiba. Semoga alam raya merestui.

Eh, satu lagi ya. Jangan lupa tuan Joko Widodo, hanya orang yang berjiwa Indonesia yang bisa membangun Indonesia. Bukan orang asing; aseng; asong seperti yang ada hari ini.

Dus, orang tersebut bukan sekadar orang sini, lahir dan cari makan di sini, tapi jiwa-raga-nalarnya benar-benar berumah di sini, bisa menghayati kepribadian Indonesia sepenuh hati, sepanjang jiwa, sezaman nalar pancasila.

Tuan tahu, selama ini yang semarak berkembang hanya "pembangunan di Indonesia". Maka, BI bukan Bank Indonesia tapi bank di indonesia. Kerjanya bukan menyejahterakan dan mengadilkan bangsa ini tapi sebaliknya. Tentu saja, para pelakunya bisa saja bukan orang Indonesia atau tidak berjiwa Indonesia.

Hasilnya adalah pembangunan yang menyingkirkan dan mengasingkan bangsa sendiri; membuatnya jadi budak bangsa-bangsa; membuatnya paria serta makin terasing tersingkirkan dalam balutan kesengsaraan.

Tuan Joko Widodo, cepatlah siuman kembali. Tak layak engkau kufur di negeri yang begitu banyak agama dan spiritualisme hidup subur dan abadi.


#Indonesia
#Yudhie Haryono
#Kolom Nusantara
#Atlantis
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID