logo rilis
Mau Tiru Malaysia, Pemerintah Diminta Terbuka Soal Utang Negara
Kontributor
Nailin In Saroh
30 Mei 2018, 22:16 WIB
Mau Tiru Malaysia, Pemerintah Diminta Terbuka Soal Utang Negara
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Politisi PAN, Saleh Partaonan Daulay, mempertanyakan status utang luar negeri Indonesia menyusul usulan potong gaji anggota parlemen dan menteri untuk membayar utang negara. Sebagaimana dilakukan PM Malaysia, Mahatir Muhammad.

"Pertama pemerintah menjelaskan dulu, betul tidak kita sekarang lagi emergensi? Kalau kita sedang emergensi (potong gaji), enggak ada masalah," ujar Saleh kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Namun, jika pemerintah masih berusaha menutup-nutupi dengan alasan belum "berbahaya", maka jangan ada yang dibebankan untuk keperluan utang tersebut, apalagi sampai memotong hak rakyat.

Sama seperti mata uang dolar yang naik, pemerintah menjawab pelemahan rupiah masih bisa ditangani dan aman.

"Tapi saat ditanya utang kita berbahaya, (pemerintah) jawabnya tidak. Katanya, oh ini masih on the track, masih bisa handle. Kalau pemerintah masih katakan demikian, ya rakyat tenang aja," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR ini.

Hal ini berbeda dengan Malaysia, di mana PM Mahatir berterus terang atas utang negara. Lalu, para pejabat pun siap atas pemotonga  gaji, bahkan rakyat sampai turut sedia memberikan bantuan.

"Karena Mahatir berhasil membangun bahwa utang negara berbahaya bagi masa depan negaranya. Kita ini enggak begitu, pemerintah merasa aman-aman saja. Ditutup-tutupi seolah tidak ada masalah," ujarnya.

Untuk itu, Wasekjen PAN ini menyarankan agar pemerintah membuka data soal utang negara. Apakah sudah berbahaya atau tidak? Kata dia melempar pertanyaan.

Ia juga mengaku heran, ditengah utang melejit pemerintah masih akan menetapkan gaji Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dengan nominal yang fantastis hingga ratusan juta rupiah per orang.

"Ini aja perpres baru mau menetapkan gaji BPIP besar sekali. Atas dasar itu saja enggak ada yang emergensi. Itu aja ditetapkan besar, kok disini dipotong," tandasnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)