logo rilis
Mau Menikah? Hati-hati Tak Direstui Penghulu
Kontributor
Intan Nirmala Sari
08 April 2018, 18:08 WIB
Mau Menikah? Hati-hati Tak Direstui Penghulu
FOTO: Wikipedia

RILIS.ID, Lebak— Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak meminta penghulu tidak menikahkan usia dini atau anak di bawah umur karena bisa merugikan kaum perempuan.

"Pernikahan dini cukup berisiko kematian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga perceraian," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Lebak Ratu Mintarsih di Lebak,Minggu (8/4/2018).

Pernikahan dini di Kabupaten Lebak cukup tinggi sehingga perlu dilakukan pencegahan berdasarkan Undang-Undang (UU) Perkawinan, batas usia pernikahan adalah 16 tahun untuk wanita dan laki-laki 19 tahun. Sedangkan menurut UU Perlindungan Anak, perempuan berumur 16 tahun masih masuk kategori anak-anak. 

Kebanyakan pernikahan dini itu terjadi lantaran karena tingkat ekonomi dan pendidikan keluarga sangat rendah.Di Kabupaten Lebak, terutama di desa-desa, telah terjadi perkawinan anak di bawah umur.

Namun, P2TP2A hingga kini belum mengetahui secara jelas jumlah pernikahan anak di Kabupaten Lebak karena tidak tercatat. P2TP2A bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dinas Kesehatan (Dinkes), pemuka agama, tokoh masyarakat berupaya mencegah terjadi perkawinan usia anak-anak.

"Kami berharap melalui kerja sama itu dapat mengendalikan pernikahan dini," ungkapnya.

Untuk mencegah pernikahan dini, P2TP2A dan instansi lain mengoptimalkan sosialisasi di tingkat kecamatan agar masyarakat yang memiliki anak tidak menikahkan anaknya 'di bawah tangan'.

Begitu juga sosialisasi kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah untuk anti menikah muda.Pernikahan usia anak akan berdampak terhadap kualitas bangsa karena banyak kasus perceraian juga KDRT akibat mental mereka belum siap membina rumah tangga.

Di samping itu juga berdampak pada kualitas SDM karena pendidikan mereka sangat rendah sehingga kesulitan mencari kerja.

"Kami minta KUA agar melakukan pembinaan dan pengawasan kepada penghulu agar tidak melakukan pernikahan muda," jelasnya.

Mintarsih mengatakan, pernikahan di bawah umur tentu sangat berisiko kematian cukup besar karena banyak kehamilan usia anak mengalami pendarahan atau keracunan. Pihaknya meminta masyarakat agar tidak menikahkan anak pada usia dini guna mempersiapkan generasi bangsa yang unggul dan berkualitas.

Selama ini, kasus angka pernikahan dini di pelosok-pelosok desa di pedalaman Kabupaten Lebak cukup tinggi. Penyebab tingginya pernikahan dini itu akibat minimnya pendidikan dan mereka rata-rata putus sekolah dasar.

"Kami mengimbau masyarakat lebih baik anak-anak mereka melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya," ungkapnya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Lebak Nani Suryani mengatakan pihaknya terus berupaya menekan pernikahan dini melalui sosialisasi yang melibatkan organisasi perempuan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pernikahan dini di Kabupaten Lebak cukup tinggi sehingga berdampak terhadap tingginya angka kematian ibu dan anak. Selain itu, angka perceraian juga cenderung meningkat karena mereka belum siap mental untuk membina bahtera rumah tangga. Dampak lainnya, pernikahan dini berpotensi menimbulkan kemiskinan.

Ia mengimbau masyarakat yang memiliki anak, baik perempuan maupun laki-laki, agar menunda perkawinannya sebelum usia 20 tahun.

"Kami mengajak masyarakat menikahkan anak itu sudah usia dewasa dan bukan anak-anak," tandasnya

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)