logo rilis
Mati Bersama Esti
Kontributor
RILIS.ID
15 Februari 2020, 17:00 WIB
Mati Bersama Esti
Wirahadikusumah. FOTO: Dok. Pribadi

Oleh: Wirahadikusumah

Saya akhirnya bertemu dengan Esti Nur Fathonah. Untuk kali pertama. Di kediamannya. Jumat (14/2/2020) siang.

Beberapa hari ini, Mba Esti -sapaan saya kepada Esti Nur Fathonah- memang sedang menjadi sorotan publik. 

Wajahnya menghiasi headline berita di hampir seluruh media massa Provinsi Lampung. Termasuk juga Rilis Lampung. Media massa tempat saya bekerja saat ini. 

Dia adalah komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung. Yang diberhentikan tetap Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI. Atas laporan jual beli kursi KPU di Kabupaten Tulangbawang. 

Saya memang berniat menemuinya. Karena penasaran. Dengan penyataannya. Yang mengatakan ada pihak lain terlibat. Dalam jaringan rekrutmen anggota KPU. 

Dia menuliskan pengakuannya itu di grup WhatsApp. Bernama Info KPU. DI grup itu, anggotanya hanya terdiri dari seluruh komisioner KPU Provinsi Lampung. Dan satu mantan komisioner. Juga para wartawan. Termasuk wartawan Rilis Lampung Taufik Rohman.    

Karena rasa penasaran itulah, pada Kamis (13/2/2020) pagi, saya meminta Taufik mengatur janji pertemuan saya dengan Mba Esti.

Saya katakan kepada Taufik, di mana pun dia berada, saya akan menemuinya. Bahkan, jika dia sedang di Jakarta, atau kota lainnya, saya bersedia mendatanginya.

Alhamdulillah. Mba Esti bersedia ditemui. Pada Jumat. Lokasi pertemuan di kediamannya. Di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel).
 
Dalam perjalanan menuju kediaman Mba Esti, saya sempat menghubungi Kepala Biro Rilis Lampung di Lamsel Agus Pamintaher. Untuk memastikan lokasi pertemuan. Saya memintanya menunggu di lapangan Kecamatan Sidomulyo.

Akhirnya, dengan ditemani Taufik, dan dituntun Agus selaku penunjuk jalan, saya tiba di kediaman Mba Esti. Sekitar pukul 13.30 WIB.

Jujur. Saya merasa heran ketika kali pertama tiba di kediamannya. Rumah bercat hijau telor asin itu ternyata ”mewah”. Alias mepet sawah. 

Sangat sederhana untuk ukuran rumah seorang pejabat penyelenggara pemilu provinsi. Yang gaji perbulannya saya yakin sampai dua digit.

Lokasi rumah itu berada di ujung jalan. Dan buntu. Tetangganya hanya ada di sebelah kanan. Sementara kirinya bertetangga dengan kuburan warga setempat. Juga hamparan sawah.

Saat masuk ke kediamannya, ternyata sudah ada dua wartawan media lain. Mereka juga sedang mewawancarai Esti. 

Usai bersalaman dan saling mengenalkan diri, saya memilih menunggu dua wartawan tadi menyelesaikan tugasnya. Setelah mereka pulang, gantian saya yang mewawancari Mba Esti.

Saya katakan kepadanya, saya turut prihatin atas persoalan yang dihadapinya. 

Saya pun mengaku salut dengannya. Sebab, raut wajahnya saat itu tak menampakkan kesedihan. Atas keputusan DKPP yang memecatnya. Sebagai komisioner KPU Provinsi Lampung.

Dia mengaku, hanya sempat sedih sesaat. Ketika mendengar keputusan DKPP itu. Namun, dia sadar, harus kuat menghadapi persoalannya. Karena, menurutnya, tak ada guna bersedih lama-lama. 

”Toh, tidak akan mengubah keputusan DKPP itu kan?” katanya.

Karenanya, Mba Esti mengatakan, dirinya sudah mengirimkan surat keberatan. Kepada DKPP. Yang memecat dirinya sebagai komisioner KPU Provinsi Lampung. Surat itu sudah dilayangkan melalui kantor pos. 

Dia tahu, keputusan itu sudah incracht. Untuk itu, dia tak berharap ada balasan atas surat itu. Terpenting menurutnya, DKPP tahu isi hatinya. Terkait keputusan pemecatannya itu.

Saya sempat membaca sekilas fotokopian surat keberatan Mba Esti itu. Bahkan, saya juga meminta Agus dan Taufik memotretnya menggunakan handphone.

Intinya, isi surat itu menyatakan keberatan Mba Esti. Yang menilai keputusan tersebut tidak memenuhi rasa keadilan. Dan dipolitisasi. 

Menurutnya, dari awal rekrutmen sebagai komisioner KPU Provinsi Lampung, banyak pihak yang tidak menginginkannya menjabat. Termasuk pihak pelapor. Yang dalam surat itu tertulis atas nama Budiyono dan kelompoknya.

Dalam surat itu juga, Esti menyatakan akan menempuh upaya hukum dan mencari keadilan. Untuk menyatakan dirinya tidak bersalah. 

Surat itu ditembuskannya ke KPU dan Bawaslu RI. Juga KPU dan Bawaslu Provinsi Lampung.

Usai membaca surat itu, saya memutuskan untuk langsung bertanya ke intinya. Tentang pernyataannya di grup Info KPU. Mengenai ada pihak lain yang dituliskannya terlibat. Dalam proses rekrutmen KPU. 

Saya katakan kepadanya, di grup itu, hanya ada komisioner KPU Lampung, seorang mantan komisioner, dan wartawan. Karena itu, siapakah yang dimaksud olehnya?

Sayang, Mba Esti tidak mau membukanya. Alasannya, ia sedang mengumpulkan bukti-bukti. Selain bukti lain yang sudah dipegangnya saat ini.

Dia khawatir, jika buktinya tidak cukup, akan menjadi fitnah. Dan menurutnya, fitnah itu sudah dirasakannya. Dalam peristiwa yang membelitnya saat ini. 

”Di fitnah itu tidak enak sekali mas,” katanya.

Namun, terus dia, dirinya yakin, bukti yang ada padanya saat ini, mengarah ke kebenaran. Siapa sosok dan jaringannya, dia mengaku mengetahuinya.

Saya lalu mengatakan kepadanya, banyak pihak berharap dan mendukungnya untuk membongkar semuanya. Itu banyak disampaikan masyarakat melalui media sosial. Termasuk ada di Facebook Rilis Lampung.  

Mba Esti menyatakan siap membongkarnya. Dengan bukti-bukti yang dipegangnya saat ini. Namun, ia berharap, pihak yang mendukungnya tidak hanya sekadar omong. Sebab, semua itu membutuhkan biaya.

”Begini mas, suatu proses itu ada cost, Misalnya saya laporkan ke DKPP, memangnya untuk hadir ke sana, saya tidak butuh biaya?” jawabnya.

Termasuk jika sampai harus menyewa lawyer. Dia mengaku tidak punya uang untuk membayarnya. 

”Secara ekonomi saat ini saya tidak mampu. Mas lihat saja kondisi saya saat ini. Rumah saya ini seperti apa? Plafon saja tidak ada,” ucapnya.

Apalagi, kata Mba Esti, yang akan dihadapi untuk membongkar itu bukan ”orang biasa-biasa saja”. Karenanya, dia membutuhkan back up. Baik materil, maupun non materil.

Menurutnya, untuk membongkar itu semua butuh persiapan matang. Dari mulai data, bukti, mental, dan finansial. 

Karenanya, saat ini, dia belum bisa membeberkan bukti yang dimilikinya kepada media. Dia khawatir, ada upaya yang dilakukan orang lain untuk menghilangkan barang bukti tersebut. Meskipun, bukti-bukti yang ada padanya saat ini, sudah di backup. Oleh seseorang yang dipercayanya.

Saya lantas bertanya, bagaimana jika ada seseorang, atau kelompok, atau lembaga, yang siap mem-backup-nya, untuk membongkar semua itu. Termasuk membiayainya untuk bongkar-bongkaran? 

Mba Esti dengan tegas menyatakan kesiapannya. 

”Mau banget Mas. Apalagi, ibaratnya, saya ini hanya memegang (maaf) ’tai’ sedikit. Sementara, saya tahu ada orang lain yang berlumuran ’tai’,” jawabnya.

Dia berharap, yang berlumuran ”tai” itu ikut ”mati bersama” dengannya. Karena, ia merasa apa yang ditanggungnya saat ini tidak adil. Dan dia sangat yakin dengan bukti yang dimilikinya.

”Apa yang mereka lakukan itu melebihi dari saya. Saya bukan yakin lagi, tapi sangat yakin. Makanya, saya siap mengungkapnya. Saya berharap ada yang backup, saya tidak punya duit. Bukti-buktinya sudah saya pegang,” akunya.

Dia mengungkapkan, sedari kecil sudah diajari untuk berani oleh ayahya. Karena itu, jika ada yang ”menjual”, dia akan mengumpulkan uang untuk ”membelinya”.

”Jika perlu saya borong!” cetusnya.

Dalam kasus ini, menurut Mba Esti, dirinya sudah ”hampir mati”, karenanya orang lain yang terlibat juga harus ”mati” bersamanya.

”Saya sedang mengumpulkan sisa-sisa tenaga, agar mereka mati bersama saya,” katanya.

Nantinya, imbuh dia, publik akan terperangah, ketika orang yang dimaksudnya terlibat itu terungkap.

”Hah dia! Mungkin itu nanti ekspresi orang-orang Mas,” katanya.

Di akhir perbincangan, saya sempat menanyakan apa kegiatan yang akan dilakukannya, pasca KPU RI melaksanakan perintah DKPP mencopotnya dari komisioner KPU Provinsi Lampung.

Mba Esti menyatakan akan berupaya memenuhi kebutuhan keluarganya. Kemungkinan kembali beraktivitas di Pasar Sidomulyo. Menjadi pedagang lagi di sana.

”Mungkin saya akan buka toko lagi di pasar. Keluarga saya kan harus tetap hidup. Sembari saya mengumpulkan bukti-bukti untuk membongkar permainan yang saya katakan tadi,” tutupnya.

Dalam perjalanan pulang dari kediaman Mba Esti, saya sempat berharap dalam hati. Semoga ada orang, atau kelompok, yang mau membiayainya. Untuk membongkar apa yang dipaparkannya tersebut. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID