logo rilis

Masyarakat NTT Tolak 'Human Trafficking'
Kontributor
Kurnia Syahdan
16 April 2018, 14:07 WIB
Masyarakat NTT Tolak 'Human Trafficking'
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Kupang— Masyarakat Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Nusa Tenggara Timur, mengkampanyekan menolak perdagangan manusia atau human trafficking, menyusul meningkatkannya kasus tenaga kerja ilegal dari provinsi berbasis kepulauan ini yang meninggal di Malaysia.

"Masyarakat Kabupaten Kupang harus mampu melawan perdagangan orang yang menyebabkan banyak masyarakat di NTT sebagai korban. Jangan mudah tergoda dengan iming-iming gaji besar seperti dikatakan para mafia tenaga kerja ilegal," kata Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, melalui Kabag Humas, Martha Paraede di Oelamasi, Senin (16/4/2018).

Menurutnya, perdagangan orang dapat diantisipasi apabila masyarakat yang berbatasan dengan Oecusse, Timor Leste memanfaatkan segala potensi sumber daya alam yang melimpah, guna meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

"Kasus human trafficking terjadi karena faktor kemiskinan, sehingga mendorong orang menjadi buruh migran. Salah satu cara untuk mengatasi persoalan human trafficking adalah, dengan mengoptimalkan berbagai potensi sumber daya alam (SDA) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Ayub.

Pemerintah daerah itu, kata bupati dua periode itu, telah melakukan upaya mengatasi kasus human trafficking lewat gerakan tanam paksa, paksa tanam melalui optimalisasi lahan yang potensial untuk usaha perkebunan dan pertanian serta peternakan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kawasan pedalaman.

Ayub mengimbau masyarakat daerah itu, untuk mengembangkan potensi pertanian, peternakan, pariwisata serta perkebunan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat desa, sehingga mencegah keinginan masyarakat menjadi buruh migran.

Bupati Ayub mengapresiasi gagasan masyarakat Amarasi, yang memiliki komitmen menolak terjadi perdagangan orang di daerah itu.

"Pemerintah berharap komitmen menolak perdagangan orang ini dilakukan juga di wilayah lain di Kabupaten Kupang," harap Ayub.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)