Home » Fokus

Masih Terbiasa Cara 'Zaman Old'

print this page Jumat, 5/1/2018 | 15:34

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

SIAPA sih yang rela menghabiskan waktu dalam runyamnya jalanan kota? Hampir tidak ada. Apa lagi, menempuh lintas provinsi. Ampun deh.

Hal ini dialami seorang videographer yang berdomisili di Kota Serang, Dismas (25) namanya. Incaran dia cuma jalan toll sebagai akses utama menuju tempat kerja di bilangan Ragungan, Jakarta Selatan.

"Nah, ini masalahnya," kata dia.

Pada November 2017 lalu, dia terjebak dalam keruwetan kartu non tunai. Ketika saldonya nyaris habis, sejumlah mini market yang ia datangi tak kuasa melayani, karena "top up" (sistem) sedang bermasalah.

Akhirnya, ia paksakan jalan, berharap pada rest area di jalan toll. "Gue isi (saldo) di toko mart (enggak ternama). Top up-nya Rp100 ribu, bayarnya Rp120 ribu," kata dia.

"Bayangkan, kalau ada ratusan pengendara bernasib sama kayak gue waktu itu. Mau naik haji itu orang?" ujar dia sambil cekikikan mengingat kembali momen tersebut.

Memang sih, e-toll itu mempermudah. Tapi, jangan mentang-mentang peralihan transaksi dari cash ke elektronik, terus kita yang lagi tiris saldo, malah dimanfaatin. curhat dia.

Berbeda cerita dengan Clara (23). Ia secara "paripurna" siap menghadapi era disrupsi. 

Menurut dia, kalau kehabisan saldo, terus kesulitan top-up, kan bisa pakai internet banking. Kalau dikenakan biaya admin, kata dia wajar.

"Tapi, kalau sampai Rp10 ribu, enggak masuk akal juga sih. Makanya harus total, HP kan sudah andro (smartphone)," tambah dia.

Orang-orang seperti Clara ini yang membuat pemanfaatan uang elektronik di Indonesia secara umum melonjak. Laju pertumbuhannya sebesar 36,5 persen per tahun. Wow banget, kan?

Disrupsi Masih Butuh Transisi

Manfaat adanya transaksi online pun, kerap dirasakan oleh sejumlah penerbit dan resseller buku. Chief Editor Marjin Kiri, Ronny Agustinus tak menyangkal manfaat tersebut. 

"Jika bicara keuntungan, daripada cara mainstream, jelas lebih menguntungkan online," kata Ronny. 

Resseler buku di Yogyakarta, Waroeng Sastra, Bagus Panuntun juga tak ingkar bahwa keuntungan terbesar didapat dari transaksi sistem daring. 

"Kami menjual buku lewat Instagram dan Line. Keuntungannya bisa mencapai Rp2 juta per bulan," kata Bagus. 

Meski kian masif, masyarakat yang kerap belanja dengan cara konvensional tetap gak mau kalah.

"Justru belanja langsung lebih asyik. Karena ada interaksi, terus bisa saling kenal. Kalau udah akrab malah dikasih harga miring," kata Aldo, seorang pelanggan toko buku lawas di kawasan Blok M.

Sama halnya Dismas, Aldo juga golongan milenial yang masih mengalami transisi terhadap disrupsi.

Bila meninjau secara harfiah, disrupsi bermakna, tercabut dari akarnya. Namun, secara gamblang bisa dibilang sebagai suatu inovasi,atau pembaharuan secara drastis, sampai-sampai mengubah pola pasar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro pernah mengingatkan fenomena ini. Menurut dia, pergeseran masyarakat dalam belanja terbilang cukup serius. 

"Misalnya, promosi produk di Instagram. Langsung ada transaksi dalam belanja online" kata Bambang. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan literasi keuangan masyarakat menggunakan sistem perbankan hanya 9 persen selama 3 tahun terakhir. Pada 2013, ada 21,8 persen orang membudayakan transfer atau "gesek". Sedangkan 2016, hanya meningkat jadi 28,9 persen.

Setidaknya, ada tiga hal yang harus dipenuhi dalam proses transaksi non tunai dan belanja online. Antara lain perangkat untuk mengaksesnya, jaringan internet, serta alat pembayaran.

Dalam riset MasterCard, baru 7 persen penduduk Indonesia yang terbiasa bertransaksi secara non tunai. Sisanya, 93 persen, tergolong awam dengan hal tersebut.

Lalu, bagaimana kiat-kiat pemerintah menyikapi ini?

Baca juga:
'Cashless Society' Membanjiri Transaksi (bag.1)
Gerai Online 'Merangsang' Belanja (bag.2)
Masih Terbiasa Cara 'Zaman Old' (bag.3)
Menargetkan Mereka 'Melek' Pola Kekinian (bag.4)
Melihat Kompetensi Indonesia di Era Digital (bag.5)

Penulis Afid Baroroh
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Belanja onlinetransaksi non tunaiuang elektronikonline shopdisrupsi