logo rilis
Masalah Perdagangan Orang 80 Persen Bersumber dari Indonesia
Kontributor

03 April 2018, 13:55 WIB
Masalah Perdagangan Orang 80 Persen Bersumber dari Indonesia
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menyebut 80 persen masalah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berasal dari dalam negeri. Pelaku merupakan orang Indonesia yang sengaja memalsukan berbagai data calon pekerja migran. 

"Saya berani katakan ini sumbernya dari dalam negeri karena saya pernah menjadi Atase di Malaysia selama 2,5 tahun dan semua berawal dari pemalsuan di Indonesia. Baru kemudian, sampai disana dieksploitasi dan lainnya," ujar Setyo kepada rilis.id, di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Menurutnya, selain menindak pelaku TPPO perlu adanya pencegahan. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh Polri, tapi dari berbagai instansi terkait, seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan lainnya. 

"Lembaga terkait bisa melakukan pencegahan dengan memberikan pengarahan dalam pengiriman tenaga kerja di daerah-daerah yang dianggap rawan," katanya.

Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah menyebut, selama tiga bulan, awal 2018 terdapat 32 kasus perdagangan anak dan eksploitasi anak atau trafficking.

"Jumlah tersebut menjadi 'bola salju' bila melihat akumulasi data Badan Reserse Kriminal Polri bidang Tindak Pidana Perdagangan Orang 2011-2017," kata Ai dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (4/3/2018).

Ai mengatakan, berdasarkan data yang didapat KPAI sepanjang Januari hingga Maret 2018 terdapat delapan kasus perdagangan anak, 13 kasus eksploitasi seks komersial anak, sembilan kasus anak korban prostitusi dan dua kasus anak korban eksploitasi ekonomi.

Sementara itu, data Badan Reserse Kriminal Polri bidang Tindak Pidana Perdagangan Orang 2011-2017 menyebutkan angka 422 kasus anak korban kejahatan perdagangan orang dengan modus terbanyak adalah eksploitasi seksual.

Begitu pula data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang menunjukkan sepanjang 2005 hingga 2017 terdapat 8.876 korban perdagangan orang dengan 15 persen atau sebanyak 1.155 orang adalah anak-anak.

"Dalam tiga bulan terakhir kasus trafficking dan eksploitasi yang menyasar anak di bawah umur menunjukkan kompleksitas kasus yang memprihatinkan," tuturnya.

Menurut Ai, terdapat modus baru dalam kejahatan perdagangan orang dan eksploitasi yang menyasar anak-anak yaitu anak masuk dalam jerat prostitusi serta dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi.

"Anak-anak dilibatkan dalam pekerjaan yang buruk hingga program sekolah magang palsu ke luar negeri," katanya.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID