logo rilis
Maroko Pasar Nontradisional Potensial, Kemenlu: Kami Upayakan Dorong Kerja Sama
Kontributor
Elvi R
26 Oktober 2018, 21:00 WIB
Maroko Pasar Nontradisional Potensial, Kemenlu: Kami Upayakan Dorong Kerja Sama
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

RILIS.ID, Jakarta— Indonesia dan Maroko menginginkan peningkatan volume perdagangan kedua negara melalui perjanjian perdagangan preferensial (PTA) yang negosiasinya akan dimulai di Jakarta, 12-14 November 2018 mendatang.

Proses untuk memulai PTA dibahas oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir serta Wakil Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Maroko Mounia Boucetta dalam Sidang Komisi Bersama ke-2 Indonesia-Maroko di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

"Kami membahas berbagai upaya untuk mendorong kerja sama ekonomi kedua negara termasuk di bidang perdagangan. Indonesia melihat Maroko sebagai pasar nontradisional yang memiliki potensi besar," ujar Fachir.

Indonesia mengusulkan pembahasan PTA dimulai November 2018, dan proses negosiasinya ditargetkan selesai dalam satu tahun.

Dengan PTA antara Indonesia dan Maroko, kata Fachir, serta semakin banyaknya interaksi diantara pengusaha kedua negara, diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan hingga dua kali lipat.

Maroko merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang dapat menjadi akses masuk ke pasar Afrika. Pada 2017, total perdagangan Indonesia-Maroko mencapai US$154,8 juta , terdiri dari ekspor Indonesia sebesar US$86 juta dan impor US$68,8 juta.

Proses PTA yang diusulkan Indonesia disambut baik oleh Wamenlu Maroko Mounia Boucetta yang menyatakan, kerja sama transnasional ekonomi yang kuat adalah pintu gerbang ke pasar regional masing-masing negara.

Untuk mendukung kerja sama ini, pemerintah Maroko mendorong promosi proyek investasi di berbagai sektor termasuk pangan, pupuk, pariwisata, industri otomotif, dan konstruksi.

Selain PTA, kedua negara juga sedang merampungkan berbagai perjanjian bilateral untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara lain persetujuan bidang standardisasi dan sertifikasi halal, persetujuan bidang kapal dagang, MoU kerja sama bidang pertanian, MoU kerja sama bidang perindustrian, serta MoU kerja sama bidang UKM.

"Di bidang industri selain melalui pembentukan MoU, kedua negara sepakat untuk menjajaki rencana kerja sama investasi Indonesia di bidang produksi pupuk mengingat Maroko memiliki potensi fosfat sangat besar yang kita perlukan untuk pupuk pertanian kita," tutur Fachir.

Sumber: ANTARA




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID