logo rilis
Markas Cambridge Analytica Digerebek Kepolisian Inggris
Kontributor
Syahrain F.
24 Maret 2018, 18:31 WIB
Markas Cambridge Analytica Digerebek Kepolisian Inggris
Tim penyidik dari Kantor Komisioner Informasi (ICO) memasuki markas Cambridge Analytica di London, kemarin (23/3/2018). FOTO: AP/Yui Mok

RILIS.ID, London— Pihak keamanan Inggris menggerebek markas perusahaan analisis data Cambridge Analytica di London, pada Jumat (23/3/2018), beberapa jam setelah hakim menerbitkan surat perintah menyusul penyalahgunaan data yang terungkap pada awal pekan ini.

Kepada stasiun berita Channel 4, juru bicara dari Kantor Komisioner Informasi (ICO) mengatakan "puas" dengan keputusan hakim dan "berencana segara bertindak".

Langkah ini adalah bagian dari penyelidikan yang lebih besar terkait penyalahgunaan data pribadi untuk tujuan politik, kata juru bicara itu.

"Seperti yang sudah diketahui, sekarang kami harus mengumpulkan dan mempelajari semua barang bukti sebelum mengambil kesimpulan," katanya.

CEO Cambridge Analytica saat ini, Alexander Tayler, sebelumnya sudah menyampaikan permintaan maafnya.

"Saya minta maaf bahwa pada 2014, SCL Elections (anak perusahaan Cambridge Analytica) mengambil data Facebook dari perusahaan riset GSR tanpa meminta ijin dari pengguna. Saya rasa kita semua harus memiliki wewenang atas data sendiri dan transparansi yang lebih jelas mengenai pengunaannya," kata Tayler.

Investigasi yang dilakukan ICO diperkirakan akan lebih intensif setelah mereka meneliti semua dokumen dan data milik Cambridge Analytica.

Perusahaan itu telah mendepak sementara CEO Alexander Nix and meluncurkan investigasi sendiri terkait peran Nix dalam dugaan pencuriaan data pengguna Facebook.

Senin lalu, Channel 4 menyiarkan dokumenter dimana wartawan dan jurnalis diam-diam merekam Nix dan staf Cambridge Analytica lainnya yang menjelaskan bagaimana cara mereka mengambil data dari sekitar 50 juta akun Facebook dan menggunakan informasi pribadi untuk mempengaruhi sikap politik pemilih AS.

Penyelidik di AS dan Inggris juga meminta CEO Facebook Mark Zuckerberg untuk memberikan testimoni mengenai peran Facebook dalam masalah ini.

Sumber: Anadolu Agency


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)