Home » Inspirasi » Riwayat

Maria Ulfah, Pejuang Perempuan Indonesia

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

DI MASA KECIL, ia biasa dipanggil Itje. Maria Ulfah (1911-1988), dialah perempuan pertama dalam sejarah Indonesia  bergelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dari Universitas Leiden, Belanda.  Dia telah menggugat tradisi: penjajah kolonial maupun masyarakat Hindia Belanda, dalam memperlakukan kaum bumiputra dan kaum perempuan.

Mulanya, sang ayah menginginkan untuk menjadi dokter, tapi dengan tegas ia tolak dan berkata, “Saya mau memperjuangkan hak-hak wanita. Banyak wanita diperlakukan tidak adil, dicerai tidak boleh protes atau ke pengadilan. Hal ini amat menyakitkan hati saya.”

Lulus sebagai Sarjana Hukum, ia bekerja di kantor Kabupaten Cirebon, kemudian mengajar di HBS dan AMS milik Muhammadiyah, juga di Perguruan Rakyat. Di sini ia kenal dengan kaum pergerakan lainnya, seperti: Wilopo, Sumanang, M. Yamin, Sahardjo, Amir Sjarifuddin. Selain itu, ia juga aktif dalam pergerakan wanita dengan turut serta dalam Kongres-kongres Perempuan Indonesia.

Pada masa Kabinet Syahrir, ia diangkat sebagai Menteri Sosial, dan merupakan menteri perempuan pertama di Indonesia. Melalui kedudukannya, Maria Ulfah banyak berjuang untuk kepentingan wanita Indonesia, salah satunya dengan mengkritik Undang-Undang Perkawinan yang baru dikeluarkan Kementerian Agama saat itu.

UU Perkawinan itu dipandang tidak adil terhadap kaum perempuan, karena perempuan selalu dipersulit apabila ia akan minta cerai pada suaminya. Sebaliknya sang suami dengan mudah dapat menceraikan mereka kapan saja (Harian Merdeka, 21 April 1952). Namun, tak hanya mengkritik, Maria Ulfah kemudian memimpin sebuah badan untuk memeriksa penggantian UU Perkawinan agar memberikan hak yang sama kepada suami atau istri untuk mengajukan perceraian.

Lebih dari 20 tahun kemudian, perjuangan Maria Ulfah baru tercapai dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Jo Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, yang memberikan hak yang sama kepada suami atau istri, karena mulai saat itu baik suami ataupun istri dapat mengajukan perceraian melalui sidang pengadilan.

Di usia senja sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 15 April 1988, Maria Ulfah, dengan penuh semangat tentang pergerakan perempuan, mengkritik Dharma Wanita yang tidak memiliki vitalitas gerakan perempuan. Baginya, Dharma Wanita hanya perkumpulan istri yang akhirnya terbentuk dan diwajibkan menurut kehendak suami.

Penulis Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Maria UlfahPejuang Perempuan IndonesiaRiwayat

loading...