Home » Inspirasi » Riwayat

Marco Kartodikromo, Pahlawan yang Dilupakan (2)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

MUNCULNYA Saroetomo dan Doenia Bergerak segera diikuti oleh belasan, bahkan kemudian puluhan surat kabar lain di berbagai kota. Marco sendiri terlibat dalam beberapa surat kabar dan majalah sekaligus, seperti Pantjaran Warta, Soeara Tamtomo, Persatoean Hindia, Sinar Djawa (yang kemudian menjadi Sinar Hindia), dan beberapa yang lain.

Karena tulisan-tulisannya di berbagai surat kabar, Marco beberapa kali mendapat masalah, keluar-masuk penjara karena mekanisme persdelict (delik pers) oleh pemerintah. Meski akhirnya peristiwa itu memunculkan reaksi perlawanan dari kalangan pergerakan, yang segera membentuk sebuah komite aksi untuk menentang pasal-pasal delik pers.

Artikel “Sama Rata Sama Rasa” dan beberapa tulisannya di surat kabar senantiasa mengampanyekan perlawanan terhadap Indie Weerbaar, yakni rencana penguasa kolonial untuk mengerahkan orang pribumi sebagai serdadu kolonial menghadapi ancaman dari luar. Meski akhirnya diberangus kembali ke dalam penjara.

Di luar atau di dalam penjara, baginya sama saja. Pekerjaannya sebagai jurnalis memiliki dimensi intelektual untuk mencerdaskan dan membantu pergerakan rakyat. Karena jika tidak, maka penguasa kolonial dan kapital akan memanfaatkan kepandaian mereka untuk menindas rakyat. Marco sadar betul bahwa ilmu pengetahuan tidak bersifat netral, tapi selalu terkait dengan kekuasaan.

Menurut Hilmar Farid, Marco adalah sosok pergerakan yang istimewa. Ia tidak mulai dari ideologi atau gagasan besar, melainkan dari tanggapan langsung terhadap ketidakadilan yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Marco menulis tentang apa yang didengar dan dilihatnya di jalan raya. Tulisan Marco juga yang antara lain mendorong penguasa kolonial membentuk Balai Pustaka untuk menyediakan bacaan yang “baik dan benar”, dan juga memperkenalkan konsep kesoesastraan—dalam pengertian sastra modern yang adiluhung—untuk mengimbangi karya fiksi Marco yang subversif.

Pemikirannya tentang sistem kapitalis yang menjajah bangsa juga sampai hari ini masih relevan dengan kondisi kebangsaan kita. Misalnya, ia menyindir tentang kapital itu bisa menyewa tanah murah dari petani karena ada permainan elite desa dan polisi yang sudah dibayar oleh pemilik kapital. Sistem kapitalis yang berkuasa itu hidup dari mengisap darah dan makan daging rakyat jelata. Ia melihat korelasi antara kemakmuran dengan kemiskinan. Ia melihat dunia terbagi karena sistem yang tidak adil dan bukan karena vis a vis orang rajin (kaya) dan orang malas (miskin). Dan dalam semangat yang sama, Marco membantah dongeng dari penguasa dan kapital tentang kebodohan/kemalasan sebagai penyebab kemiskinan.

Pada 6 September 1926, Marco ditangkap untuk yang kesekian kalinya, karena dianggap mendalangi kerusuhan. Tak sampai dua bulan kemudian, meletus sebuah pemberontakan bersenjata di Banten, Batavia, dan sebagian Jawa Tengah. Penguasa kolonial bergerak cepat memadamkan pemberontakan dan menangkap ribuan orang. Belasan orang dihukum mati, sementara 1.300 orang dibuang di kamp tahanan di Boven Digoel. Marco termasuk dalam rombongan itu.

Di Boven Digoel, ia tidak berhenti mengkritik. Ia termasuk kalangan naturalisten, yakni tahanan yang menolak bekerja sama dengan penguasa kolonial. Ia hidup di kamp terpisah di Tanah Tinggi bersama istrinya. Di sana, ia meninggal pada 18 Maret 1932, karena sakit malaria.

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Marco KartodikromoPahlawan Pergerakan NasionalRiwayat

loading...