Home » Inspirasi » Riwayat

Marco Kartodikromo, Pahlawan yang Dilupakan (1)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

MARCO KARTODIKROMO, figur yang menarik dalam sejarah Indonesia modern. Seorang yang hanya lulus sekolah menengah, tapi tampil di atas panggung pergerakan di masa awal dengan pemikiran dan praktik politik yang radikal dan orisinal sekaligus.

Marco Kartodikromo, lahir di Cepu pada 25 Maret 1890, berasal dari keluarga priayi rendahan. Ia lulus sekolah bumiputra Tweede Klasse School di Bojonegoro dan kemudian melanjutkan ke sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo. Sebelum terjun ke dunia pergerakan, dia menjadi juru tulis di Dinas Kehutanan pada 1905.

Tak lama kemudian, dia pindah ke Semarang dan menjadi juru tulis di Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) sebuah perusahaan jasa angkutan kereta api, sambil belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda secara privat.

Enam tahun menjadi juru tulis di NIS Semarang, semangat nasionalismenya berkobar. Marco melihat banyak kesewenang-wenangan di perusahaan Eropa tersebut, misalnya terhadap pembedaan golongan jabatan dan gaji yang indikator penilaiannya adalah ras.

Pada 1911, Marco memilih keluar dari NIS, dan pindah ke Bandung, bekerja sebagai jurnalis. Pilihan menjadi jurnalis dianggap sebagai jalan untuk mengekspresikan dan membakar semangat kebangsaan terhadap segala bentuk kesewenang-wenangan oleh pemerintah kolonial dan usaha eksploitasi kapitalisnya.

Marco bergabung menjadi wartawan di surat kabar Medan Prijaji yang dipimpin oleh Tirto Adhi Soerjo, seorang jurnalis dan pemimpin pergerakan di masa awal, meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula. Di sana, Marco terbentuk menjadi wartawan sekaligus politisi dan sastrawan, juga untuk pertama kalinya ia berjumpa dengan Soewardi Soerjaningrat yang kelak dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara.

Namun, sangat disayangkan, surat kabar Medan Prijaji berhenti beredar disebabkan karena larangan oleh Pemerintah Belanda, sehingga akhirnya surat kabar tersebut krisis dan bangkrut, juga pemimpinnya, Tirto Adhi Soerjo, dibuang ke Maluku, Ambon.

Masalah yang dihadapi oleh surat kabar Medan Prijaji tidak menyurutkan langkahnya untuk senantiasa berekspresi dan membakar semangat bangsa dengan tulisan-tulisannya. Marco kemudian bergabung dan akhirnya memimpin surat kabar Saroetomo, surat kabar milik Sarekat Islam di Solo.

Gaya menulisnya dikenal khas, karena dipenuhi dengan sindiran dan permainan kata yang tidak lazim bagi penulis berbahasa Melayu di masa itu. Bahasa Melayu belum lagi digunakan secara luas, tapi sudah bisa menjadi senjata di tangan Marco untuk menyerang kekuasaan kolonial.

Di Solo ini juga, ia menjadi pengurus Sarekat Islam setempat. Hidupnya sebagai jurnalis yang baru meniti karier tidak mudah, apalagi pers di masa itu belum berkembang sebagai usaha. Kapitalisme cetak yang berkembang sejak pertengahan abad kesembilan belas belum memberi ruang bagi orang pribumi untuk ikut berkiprah secara bebas, sehingga lebih tepat disebut sebagai “kolonialisme cetak”. Tapi di tengah segala keterbatasan, lewat surat kabar Saroetomo, ia sudah banyak membuka polemik tentang berbagai masalah dengan penguasa setempat dan lawan politiknya di kalangan pergerakan. Beberapa kali ia terlibat perdebatan dengan Tjokroaminoto yang waktu itu juga memimpin Oetoesan Hindia di Surabaya.

Di masa ini, Marco mendirikan perhimpunan jurnalis pertama, Indlandsche Journalisten Bond (IJB) di Solo. Organisasi ini kecil saja dan beranggotakan Marco sendiri serta para medewerker (rekan sekerja) di berbagai surat kabar di Solo, tapi cukup militan.

Ketika Saroetomo akhirnya berhenti terbit pada 1914, Marco bersama Sasrokoernio menerbitkan jurnal Doenia Bergerak sebagai medium pergerakan IJB. Doenia Bergerak ini menandai sebuah fase baru dalam sejarah pers dan pergerakan. Bukan saja karena Marco melalui jurnal ini bisa menghimpun penulis dari berbagai kota yang berlainan—dan dengan begitu membentuk jaringan yang nantinya akan membentuk gerakan nasionalis itu sendiri—tapi juga karena dari segi nada dan visi, ia melangkah lebih maju dari pendahulunya, Tirto Adhi Soerjo. Kritik sosial yang di masa Medan Prijaji masih menjadi kecenderungan saja, kini sudah menjadi “garis utama” dalam Doenia Bergerak.

Dari segi bentuk, jurnal ini juga unik, karena sering menerbitkan komentar orang atas tulisan terdahulu yang kemudian ditanggapi oleh para editor, terutama Marco,  dengan catatan yang membuat jurnal itu menjadi polyphonic. Surat kabar menjadi semacam forum untuk berpendapat dan beradu pendapat, yang tidak dikenal sebelumnya dalam dunia tulis di Jawa.

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Marco KartodikromoPahlawan Pergerakan NasionalRiwayat

loading...