logo rilis
Mantan Tahanan Perempuan Suriah Cerita Penyiksaan di Penjara Assad
Kontributor
Syahrain F.
10 Maret 2018, 21:21 WIB
Mantan Tahanan Perempuan Suriah Cerita Penyiksaan di Penjara Assad
Seorang perempuan asal Suriah berada di di kamp pengungsian Haramein. FOTO: Anadolu Agency/Arif Hüdaverdi Yaman

RILIS.ID, Gaziantep— Para perempuan mantan tahanan rezim Bahar Al-Assad menceritakan kisah kelam penyiksaan yang mereka alami selama di dalam penjara.

Pengungkapan kisah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik untuk dapat membantu sesama tahanan Suriah.

Mantan tahanan berinisial AHY itu dipenjara selama enam bulan dari tahun 2015 sampai 2016, di sebuah penjara di Homs yang dikendalikan oleh rezim Bashar al-Assad.

Kepada kantor berita Anadolu Agency dia mengaku mengalami penyiksaan.

Sebagai perawat, dia juga dicegah untuk memberikan bantuan medis kepada mereka yang menentang rezim tersebut.

"Mereka memperkosa gadis remaja tanpa menunjukkan belas kasihan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyiksa saya dan kakak perempuan saya dengan berbagai cara," kata dia.

Seraya membayangkan kisah hidupnya, AHY mengataka, dia berlindung di Turki satu setengah tahun yang lalu bersama ketiga anaknya, meninggalkan suaminya yang pro-rezim.

Sementara seorang mantan tahanan lainnya yang berinisial LA mengatakan, dia juga mengalami siksaan terus menerus.

LA merupakan seorang lulusan fakultas hukum yang dipenjara selama sembilan tahun selama pemerintahan Hafez Al-Assad, ayah Bashar Al-Assad.

Dia mengatakan, dirinya dipenjara karena menentang rezim tersebut. "Pemukulan dan penyiksaan tidak pernah berhenti. Mereka menempatkan saya di kursi listrik. Saya juga dipukuli saat terbaring di tanah," ungkap LA

LA kini telah berada di Turki selama empat tahun. Dia mengatakan, setiap harinya ada saja sejumlah perempuan yang dipenjara dan sekarat di dalam ruangan berteralis besi.

"Kita tidak boleh lupa untuk mengeluarkan mereka," tegas dia.

Pada Selasa lalu, perempuan-perempuan yang berasal dari 50 negara lebih, termasuk Suriah, Chile, Palestina, Irak, Inggris, Brasil, Malaysia, Pakistan, Kuwait dan Qatar bersuara di tengah kerumunan massa, di sebuah lapangan di distrik Antakya, Turki.

Lebih dari 6.700 perempuan, termasuk 417 gadis muda masih ditahan di penjara yang dikelola oleh rezim Suriah, menurut sebuah pernyataan oleh Konvoi Nurani.

 

 

Sumber: Anadolu Agency


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)