logo rilis

Manfaatkan Lahan Gambut untuk PLTB
Kontributor

28 Maret 2018, 08:02 WIB
Manfaatkan Lahan Gambut untuk PLTB
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Gambut merupakan ekosistem yang unik dengan keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi dan khas. Namun, gambut juga ekosistem yang rentan, karena mudah terganggu/rusak dan sulit untuk dipulihkan kembali. 

Salah satu sifat lahan ini adalah (irreversible drying), yaitu kemampuannya dalam menyerap, memegang dan menyimpan air. 

"Ketika keseimbangan ekologisnya terganggu karena mengalami reklamasi atau pembukaan lahan, maka kemampuannya dalam menyimpan air tidak maksimal lagi (tinggal 50 persen), sehingga mudah terbakar," ungkap Peneliti BPTP Kalimantan Tengah Anang Firmansyah, saat menjadi narasumber Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembukaan Lahan Tanpa Bakar di Palangka Raya.

Kegiatan Bimtek yang diselenggarakan Direktorat Jenderal, Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) ini, bertujuan memberikan edukasi dan pemahaman meningkatkan pencegahan kebakaran lahan dan kebun.

Kegiatan itu berlangsung dari 25-30 Maret 2018, dengan menghadirkan narasumber dari BPTP Kalteng, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Lahan Hutan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian dan PT. Astra Agro. 

Peserta merupakan petugas yang berasal dari beberapa provinsi yang mempunyai lahan gambut, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Riau, dengan jumlah peserta sekitar 50 orang.

Pengolahan lahan gambut harus dilakukan dengan hati-hati. Pertanian Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan menggunakan mekanisasi (eskavator), umumnya membutuhkan biaya mahal, yakni mencapai Rp20 juta/hektare. Berbeda dengan cara manual yang hanya membutuhkan dana Rp1,8 juta/hektare. Namun, itu tentu memerlukan waktu dan proses. 

Cara manual yang dilakukan adalah dengan mencabut pohon yang ada, kemudian meratakan tanahnya. Setelah rata barulah dilakukan pembajakan, teknologi ini tentunya lebih terjangkau oleh petani.

Selain itu, dengan PLTB kita juga berupaya mengedukasi, meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat untuk membuka dan mengolah lahan pertanian dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

Sumber: Dedi Irwandi/Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)