logo rilis

Manfaat Tanam Inpari di Lahan Sawah Irigasi
Kontributor

14 Juni 2018, 17:09 WIB
Manfaat Tanam Inpari di Lahan Sawah Irigasi
Tanaman padi menggunakan benih Inpari, cocok dibudidayakan di sawah irigasi. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— ?Inbrida padi irigasi (Inpari), merupakan varietas unggul baru (VUB) inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk ditanam di sawah irigasi. Keunggulannya, produksi tinggi serta tahan terhadap hama dan penyakit.

Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Prof Dedi Nursyamsi, menyatakan, sawah irigasi seluas 3,9 juta hektare menjadi andalan produksi padi nasional. Sebab, produktivitasnya 7-9 ton per hektare atau di atas rata-rata nasional sekitar 5,3 ton per hektare. Total lahan sawah 8,1 juta nasional.

"Apalagi, bila dibandingkan dengan produksi padi di lahan kering dan lahan rawa yang masih rendah, yang hanya sekitar 1-4 ton per hektare," ujarnya.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Dr Ismail Wahab, menambahkan, Balitbangtan merilis Inpari 42 Agritan GSR. Kelebihannya, potensi hasil mencapai 10,58 ton per hektare dan kadar amilosa 18,84 persen, sehingga rasanya pulen.
?
"Varietas ini, juga tahan terhadap penyakit blas daun ras 073 serta agak tahan terhadap hama wereng batang cokelat biotipe 1," katanya.

Menurut peneliti Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Dr Suziana Suzanti, Inpari 42 GSR akan dikembangkan di demfarm pertanian modern berbasis korporasi di Karawang, Jawa Barat. Rencananya ditanam Juli 2018.

"Salah satu pertimbangannya, adalah karena varietas ini tahan terhadap penyakit virus kerdil hampa. Tahun lalu, petani Karawang gagal panen, karena serangan virus kerdil hampa," jelas dia.

Peneliti BB Padi lainnya, Dr Untung Susanto, mengamininya. Katanya, petani berbondong-bondong tanam Inpari tahan wereng, bila hama tersebut menyerang.

Hal tersebut, menuntut kesiapan benih di lapangan. "Sehingga pada saat petani memerlukannya, benih cukup tersedia di lapangan," terangnya.

Di sisi lain, petani sawah irigasi dari Kecamatan Toribulu, Parimou, Sulawesi Tengah, Herman, mengungkapkan, produksi padinya mencapai 8-9 ton gabah kering panen (GKP) per hektare saat menggunakan Inpari. Harga jualnya pun baik. "Rp4.600 per kilogram GKP," ucapnya.

Karenanya, kata Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Toribulu, Amrudin, petani setempat menyukai Inpari. Rata-rata petani memiliki lahan sawah tiga hektare dan tanam tiga kali dalam setahun.

Dengan demikian, penghasilan kotor petani mencapai Rp331 juta per tahun atau sekitar Rp27,6 juta tiap bulan. "Penghasilan sebesar ini, cukup menggembirakan," tuntasnya.

Sumber: Dedi Nursyamsi/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)