Arif Budiman

Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan.

Malarindu

Selasa, 17/10/2017 | 18:06

MATAHARI terlihat murung. Sinarnya redup, cahayanya tak lagi hangat. Bukan terhalang awan, bukan pula sebab hujan. Burung gereja telah merayunya, namun ia diam saja. Tarian walet pun tak menggoda riangnya.

Melati layu. Warna daunnya memudar. Satu-satu menguning, lalu jatuh tertiup angin. Rontok menghempas tanah, terlepas dari ranting-rantingnya yang basah. Harum bunganya pergi. Geliat ulat di ranting dan pucuk-pucuknya tak lagi dirasa.

Lapangan sepi. Debu tanah melayang gontai. Tiada anak-anak berlari kesana-kemari. Layang-layang robek, kelereng terbengkalai. Hampa canda. Tak terdengar tawa ceria. Hanya nampak induk domba bersama dua anaknya. Memagut rumput tanpa ekspresi.

Ada sukacita di ruang yang lain. Ketika rumput taman berdansa liar. Saling berkelindan. Berlomba menggapai langit. Menerobos dinding angin. Euforia merayakan masa, hingga tumbuh serupa belukar hutan perawan.

Ada gembira di dalam sunyi. Di teras berlantai keramik. Pada sebuah rumah yang berusia muda. Tubuh-tubuh saling menyentuh. Lima pasang mata memandang arah yang sama. Game tablet produk manusia masa kini. Layarnya meriah menyala. Mematri mata-mata dengan aneka warna. Hingga tiba suatu ketika, sorak kemenangan dan dengus kekalahan muncul dengan tiba-tiba. Berganti-gantian. Bersahut-sahutan.

Mereka yang biasa menyapa, kini asyik dengan teman barunya. Mentari pun sedih. Ia cemburu. Ia rindu.

Mereka yang dulu mencium selalu, sekarang terpaku digendam candu. Melati pun layu. Ia cemburu. Ia rindu.

Mereka yang kerap berkejaran di taman, saat ini asyik berkerumun di sekitar mesin permainan. Terpaku. Mengabaikan gerak waktu.

Mereka yang suka menendang bola dengan kakinya, kini memilih stick elektronik untuk mengalahkan lawan tandingnya di layar kaca. Gawang bambu pun lusuh di tepian lapangan. Bersama rantai karet gelang berukuran panjang, ia terabaikan.

Hanya belukar yang bersorak riang. Berdansa sambil berdendang. Terbebas dari injakan acak kaki-kaki mungil yang menjengkelkan.