logo rilis
Malari atawa Malapraktik
Kontributor
Yayat R Cipasang
15 Januari 2018, 11:19 WIB
Malari atawa Malapraktik
Pembakaran mobil dan sepeda motor produksi Jepang pada 15 januari 1974. FOTO: kaskus.co.id

KONDISI dan situasi 15 Jauari 1974 yang dikenal dengan Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) dengan kondisi mutakhir 15 Januari 2018 sebenarnya tak terlalu jauh berbeda. Masih soal sengkarut korupsi yang merajalela, kolusi yang berkelindan, nepotisme yang mewabah dan harga-harga tinggi yang tak terbeli. 

Jangan lupa juga, isu yang tak kalah hebatnya saat itu dengan sekarang masih soal duit investasi yang melimpah sementara dana tersebut mengalir ke pengusaha nonpribumi. Isu ketidakadilan sangat kuat.

Baca Juga

Malari yang melahirkan tokoh mahasiswa Hariman Siregar adalah wujud ketidakpuasan masyarakat atas kondisi sosial ekonomi yang dibumbui intrik politik elite. Kolaborasi inilah yang melahirkan huru-hara yang menyebabkan Proyek Senen yang mewujud sejak zaman kolonial berkalang dengan tanah setelah dijarah dan dibakar massa.

Salah satu koran yang sangat kencang melaporkan isu-su korupsi, investasi asing, penguasaan modal oleh kelompok tertentu dan maraknya unjuk rasa mahasiswa di antaranya harian Indonesia Raya yang didirikan Mochtar Lubis. Termasuk soal yang menjadi bahan laporan Indonesia Raya perihal investasi Jepang di Indonesia yang kelak Perdana Menteri Tanaka Kakuei saat datang ke Jakarta harus terusir dan kembali ke Jepang.

Benarkah, peristiwa Malari semata karena investasi Jepang di Indonesia? Seperti disitat dari Intisari, para mahasiswa saat itu menganggap Jepang sebagai pemeras ekonomi Indonesia lantaran mengambil lebih dari 53 persen ekspor dan memasok 29 persen impor Indonesia. 

Dalam aksi yang dipimpin Ketua Dewan Mahasiswa Hariman Siregar ini, selain pusat perdagangan tokok-toko yang berbau Jepang seperi barang elektronik dan sepeda motor produksi Negeri Mata Hari Terbit menjadi sasaran pembakaran massa. Dalam aksi unjuk rasa tersebut tercatat 11 orang tewas, 75 luka berat, ratusan luka ringan, 775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor dibakar serta 160 kilogram emas dijarah.

Dalam buku Jurnalistik dan Politik Indonesia, Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004), awal Januari 1974 mahasiswa sudah mengajukan tiga tuntutan utama kepada rezim Soeharto: bubarkan asisten pribadi Presiden, turunkan harga-harga dan berantas korupsi.

Di sisi lain persetuan antara elite di sekeliling Soeharto pun kian meruncing. Asisten Pribadi Presiden, Soedjono Hoemardani dan Ali Moertopo dua orang paling dekat dengan Soeharto dicap sebagai jenderal bisnis dan jenderal politik. Sedangkan gerbong di belakang Pangkopkamtib Letjen Soemitro dianggap mewakili tentara profesional dan reformis.

Soemitro mendapat tempat di kalangan mahasiswa dan media massa. Soemitro yang berkeliling ke kampus-kampus mendapat liputan yang sangat luas dan menjadi berita utama di sejumlah media yang kritis kepada pemerintah seperti harian Abadi, KAMI, Pedoman dan Indonesia Raya.

Seperti halnya kerusuhan lainnya di Indonesia, selalu saja melahirkan jejak misteri dan tak pernah satu pendapat. Ada yang menyebut Malari karena investasi Jepang tetapi ada juga yang melihat karena pertarungan elite jenderal di Istana yang berebut perhatian Soeharto. Mana yang benar?

Malari seperti halnya gerakan mahasiswa yang lainnya selalu saja gagal mencapai tujuan ideal (malapraktik) karena selalu 'ditunggangi' tangan-tangan tak tampak.

Lalu, apakabar gerakan mahasiswa kini?


#riwayat
#malari
#gerakan mahasiswa
#jepang
#investasi
#korupsi
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)