logo rilis
Makna Pelukan Teletubbies Sandi-Anies
Kontributor
RILIS.ID
12 Agustus 2018, 11:14 WIB
Makna Pelukan Teletubbies Sandi-Anies

Oleh Nia Sundari Sunoto
Alumnus FHUI dan Pegiat Humaniora

PERPISAHAN gaya Teletubbies di era 90-an “berpelukan” baru saja kita lihat, dari sepasang pemimpin ibukota yang akhirnya tak bisa berpasangan lagi. Sang wakil didaulat untuk mengemban misi yang lebih besar dengan tantangan yang lebih banyak. 

Pelukan perpisahan ala brotherly love atau bromance drakor ini pastilah takkan nampak begitu natural dan enak dilihat bila tidak dilatarbelakangi oleh berbagai tahapan kejadian dan suka-duka yang telah mereka jalani bersama. Tapi bukan tentang pelukannya yang ingin saya bahas saat ini, melainkan makna sebuah perpisahan.

Banyak hal yang akan membawa manusia akhirnya berjumpa dengan momen perpisahan. Ada yang melakukannya dengan sukarela disertai pertimbangan yang matang. Seperti pindah kerja atau tugas macam pak wagub, pindah jurusan kuliah, pindah rumah, ataupun pindah ke lain hati –khususnya bagi yang belum mengikat janji sehidup semati. Perpisahan karena orangtua akan berangkat haji, juga menjadi salah satu tahapan hidup yang dialami banyak orang khususnya di bulan Zulhijah ini. 

Ada pula yang terpaksa berpisah dengan sesuatu atau seseorang yang dicintainya karena takdir. Misalnya kehilangan rumah atau toko karena kebakaran, karena gempa; kehilangan ayah atau ibu, pasangan hidup maupun anak karena telah dipanggil duluan keharibaan Tuhan.

Perpisahan seperti ini hampir pasti menyisakan duka mendalam, apalagi bila terjadi secara tiba-tiba. Dunia yang tadinya indah langsung terasa hampa, penyesalan datang mendera dan hari-hari yang dijalani bagaikan mimpi buruk yang tak berkesudahan.

Semua yang hidup akan merasakan mati. Berpisah dengan alam fana. Itu sudah fitrahnya dari Sang Kuasa, sehingga manusia tak selayaknya menikmati hidup seolah akan selamanya meraja di dunia. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan kita, baik yang hubungannya jauh hingga yang terdekat sekalipun pasti tak kan selamanya bisa kita lihat atau dengar. Ada saatnya bersama, namun akan ada saatnya berpisah. 

Cepat atau lambat, suka atau tidak suka harus diterima. Tuhan yang menentukan kapan dan bagaimana seseorang akan berpisah dengan kehidupannya, dan Tuhan pula yang menentukan apakah rencana manusia akan berjalan sesuai keinginannya. 

Ada yang melepas kepergian saudara kandungnya naik haji biasa-biasa saja, dianggap masih muda dan sehat, tetiba mendengar kabar kecelakaan di Tanah Suci telah merenggut nyawa saudaranya itu. Ada pula yang sudah merencanakan dari jauh-jauh bulan untuk acara pernikahannya, sudah ukur baju dan pesan catering, mendadak mendapat kabar bahwa calonnya membatalkan pinangan kemudian memilih pasangan lain. 

Seorang ayah atau ibu, sesayang apapun pada putra-putrinya, perlu menyelipkan kesadaran pada dirinya bahwa mereka bukan milik kita, melainkan hanya titipan dari Sang Pencipta yang harus dijaga dan setiap saat bisa dipisahkan, diminta kembali oleh Sang Pemilik Segala.

Begitu pula sebaliknya, ayah ibu juga wajib memberikan pemahaman kepada si anak agar bisa kuat dan mandiri, karena kita sebagai orangtua juga tidak akan selamanya bisa bersama mereka, suatu saat akan berpisah, akan dipanggil pulang. 

Lebih mudah berbicara daripada mempraktekkan pastinya, karena itu pula saya selalu sangat salut sekali, pada teman-teman yang imannya tetap bahkan semakin kuat, dan istiqomah di jalan yang lurus meskipun telah dipisahkan dari orang-orang yang sangat mereka cintai.
 
Berbicara mengenai perpisahan dalam konteks kehidupan, bila seseorang masih dapat membuat pilihan, perpisahan paling baik dilakukan bila ia yakin hal itu akan membawanya ke tujuan yang lebih tinggi nilainya, esensinya, value-nya. This is for the better, to do a greater good, istilahnya. 

Seorang wanita muda di pengajian bercerita, ia berat sekali berpisah dengan lelaki yang dikagumi dan juga mengaguminya, tapi daripada terjerumus dalam perbuatan dosa pacaran yang dilarang agama karena termasuk mendekati zina, ia pun rela berpisah dan melucuti perasaannya. Demikian pula dengan Ustad Abdul Somad (UAS), yang memutuskan untuk berpisah dengan kesempatan memegang kekuasaan di level kenegaraan, dengan tetap istiqomah menjadi penceramah, karena yakin di situlah letak ‘to do a greater good’ bagi dirinya. 

Para artis cantik dan terkenal yang berbondong hijrah dengan menutup auratnya, pun pasti dihadapkan pada pilihan manusiawi yang sulit. Berpisah dengan gaya hidup penuh glamor dan pesta, berpisah dengan sejuta model rambut dan busana yang menggoda, berpisah dengan teman-teman yang sebelumnya dianggap asyik, tapi kini tak lagi sama visi dan misi kehidupannya, yaitu untuk mencari rida Ilahi. 

Begitu pula dalam ekstase drama capres-cawapres saat ini. Dari kubu petahana pasti ada pilihan sulit yang harus diambil, perpisahan yang menjadi konsekuensi dari sebuah keputusan dan harapan untuk melanjutkan kabinet kerja tanpa terlalu banyak bongkar pasang. 

Dari kubu oposisi, pasti ada keyakinan dalam koalisi, bahwa dengan dipilihnya Sandiaga S. Uno (SSU) dalam pilpres sebagai RI 2, they are at least trying to do a greater good. Terlepas dari kasak-kusuk prematur tentang mahar berember-ember yang melingkupi berita pencalonan cawapresnya dan dilontarkan oleh petugas dari partai yang akhirnya ikhlas tak jadi berpisah serta ikut mendukung. Indonesia khususnya generasi milenial berhak punya pilihan pemimpin yang dapat mengakomodir kebutuhan dalam menjawab tantangan persaingan di era digital dan global seperti sekarang. 

Perpisahan tak selamanya harus berujung duka, bila disikapi dengan kalbu yang tenang dan ikhlas, mendahulukan jaga hati dan persaudaraan serta berserah kepada-Nya. Seperti halnya pertemuan, perpisahan adalah bagian dari alur kehidupan manusia yang patut dimaknai sebagai ujian ketakwaan dan kesabaran, agar kita senantiasa dapat naik tingkat dan derajat dihadapan Sang Maha Esa.  

 Jakarta, 11 Agustus 2018
 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)