Home » Inspirasi » Wawancara

Mahyudin: Tiga Tahun Jokowi Tak Ada yang Istimewa

print this page Rabu, 18/10/2017 | 20:19

Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

OKTOBER 2017, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) menggenapi masa pemerintahan mereka menjadi tiga tahun. Banyak evaluasi dan penilaian dilakukan. Ada yang puas, tapi tak sedikit yang menganggap tak ada yang istimewa dari tiga tahun Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. 

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan, mayoritas publik puas atas kinerja Presiden Jokowi. Dari hasil survei yang dilakukan SMRC medio 3-10 September 2017, terungkap, angka kepuasan publik atas kinerja Jokowi September 2017 sebesar 68 persen. Bahkan, kata Djayadi, kepuasan atas kinerja Jokowi cenderung menguat dan stabil.

Tak senada dengan Djayadi, Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menilai, selama tiga tahun itu pemerintahan Jokowi-JK itu, belum ada kemajuan yang signifikan untuk bangsa dan negara. Menurutnya, memang dalam hal pembangunan infrastruktur mengalami peningkatan yang cukup pesat, tapi di sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya belum mencapai target yang diharapkan sebagaimana janji-janji Jokowi saat  kampanye Pilpres 2014 silam.

Berikut pandangan Mahyudin terkait tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK yang dilantik pada 21 Oktober 2014 kepada wartawan rilis.id Zulhefi Sikumbang di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/10/2017).

Bagaimana tanggapan Anda soal tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK?

Tiga tahun Pak Jokowi, saya kira biasa saja, tidak terlalu ada yang istimewa. Tapi kalau saya lihat pembangunan infrastruktur, cukup berjalan bagus dibanding sebelumnya. Pemerintah sebelumnya cenderung jalan di tempat. Penegakan hukum semakin bagus meskipun korupsi tidak berkurang. Saya kira banyak hal yang harus dicapai terutama pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan publik.

Infrastruktur berjalan baik, tapi yang lain terabaikan?

Saya kira tidak ada yang terabaikan, hanya saya kira belum terlaksana dengan baik. Ke depan, Pak Jokowi harus lebih cermat lagi untuk memilih pembantu-pembantunya agar kinerja dan janji-janji selama kampanye bisa berjalan dengan baik.

Dalam ketatanegaraan kita bagaimana?

Cukup bagus, tidak ada masalah, maksud saya tidak ada perubahan yang signifikan, datar-datar saja.

Misalnya soal KPK sekarang ini?

Kalau kinerja harus ada tolok ukurnya dari pemerintahan sebelumnya. Kalau kita lihat sekarang, tidak ada perubahan, sama saja dengan sebelumnya. Yang signifikan, hanya pembangunan fisik dan infrastruktur dari sebelumnya.

Bagaimana dengan Revolusi Mental?

Belum kelihatan konkretnya seperti apa, pelaksanaannya seperti apa, bahkan banyak aparatur negara kita yang ditangkap. Itu menunjukkan bahwa revolusi mental belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Apa yang harus dilakukan Jokowi dengan sisa waktu dua tahun ini?

Sekarang yang paling penting adalah ekonomi, harus tercipta peningkatan daya beli masyarakat di tengah ekonomi dunia yang tidak menggembirakan. Tapi kita berharap, daya beli masyarakat kita, inflasi ditekan, PDB kita bisa ditingkatkan.

Adanya pembantu presiden yang dinilai kurang kredibel, ke depan apakah perlu dilakukan reshuffle?

Itu juga menunjukkan bahwa agak sulit mencari pembantu presiden yang the right man on the right place. Jujur saja, lebih bagus menteri zaman Soeharto dibandingkan sekarang, sehingga Pak Jokowi merasa tidak puas dan beberapa kali ganti menteri.

Soal reshuffle, bisa dipertimbangkan, tapi perlu menghitung orang-orang profesional di bidangnya, jangan terlalu banyak tekanan dari partai politik. Kalau banyak tekanan dari partai politik, belum tentu sesuai dengan harapan yang dibutuhkan.

Harapan Anda?

Saya berharap, Pak Jokowi konsisten melaksanakan apa yang menjadii program, terutama saat kampanye untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis Zulhefi Sikumbang
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Tiga Tahun JokowiJokowiJKMahyudinWawancara

loading...