logo rilis

Mahyudin: Jangan Gunakan Kedaulatan untuk Korupsi
Kontributor
Nailin In Saroh
06 Maret 2019, 10:40 WIB
Mahyudin: Jangan Gunakan Kedaulatan untuk Korupsi
Wakil Ketua MPR Mahyudin. FOTO: Humas MPR

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua MPR Mahyudin, menegaskan bahwa Indonesia bukan negara agama tapi negara beragama. Artinya, setiap penduduk Indonesia wajib beragama. Begitu pula kedaulatan, ia meminta agar digunakan dengan sebenar-benarnya. 

“Jangan gunakan kedaulatan itu untuk korupsi,” ujar Mahyudin mengingat banyaknya pejabat yang ditangkap KPK di Ballroom Hotel Bintang Sintuk Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (5/3/2019).

Mahyudin juga mengingatkan, agar bangsa tak kembali ke jaman jahiliyah. Dimana, orang sekarang tak segan mencaci maki, menyebar berita hoax. 

Seperti kejadian di Surabaya, seorang ibu membawa anaknya melakukan bom bunuh diri. Apalagi, kata dia, menjelang Pemilu ini segala cara dihalalkan.

Untuk itu dalam hal memilih pemimpin, Mahyudin menganjurkan, pilihlah pemimpin yang disukai. 

"Kalau suka O1 silahkan, suka 02 silahkan. Tapi jangan sampai karena beda pilihan jadi pisah ranjang,” sambung Mahyudin.

Hal ini dinyatakan Mahyudin saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR yang bekerjasama dengan GM FKPPI (Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/Polri) Kota Bontang.

“Ketika ada usulan kerjasama sosialisasi Empat Pilar MPR dengan FKPPI, langsung saya setujui,” ungkap Mahyudin.

Sosialisasi ini diikuti 400 peserta yang terdiri dari warga masyarakat dan para pelajar dari Kota Bontang. Bersama Mahyudin juga hadir sebagai narasumber dua anggota MPR dari Fraksi Golkar, yaitu Hetifah Sjaifudian dan Popong Otje Djundjunan.

Tokoh nasional asal Kalimantan Timur ini memiliki alasan mengapa kerjasama dengan FKPPI ini begitu penting. Sebab menurut Mahyudin, orangtua mereka menjadi saksi sejarah, bagaimana Indonesia mampu memperoleh kemerdekaan. 

"tu tidak mudah, banyak darah ditumpahkan, banyak air mata terkuras, dan banyak jiwa melayang untuk kita bisa seperti sekarang ini,” kata Mahyudin.

Pengorbanan yang diberikan oleh para pejuang, kata Mahyudin, adalah bukti bahwa kemerdekaan tidak diperoleh secara gratis. Oleh karena itu, MPR dan FKKPI memiliki satu misi, yaitu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai kapan pun.

Mahyudin juga menjelaskan makna kemerdekaan. Ia mengutip ucapan Bung Karno yang menyatakan, kemerdekaan itu jembatan emas. 

"Dulu, sebelum merdeka, rakyat kita bodoh, mudah diadu domba karena miskin," ungkapnya.

"Contoh penindasan dilakukan oleh Belanda adalah ditemukan kopi luwak, kopi yang sekarang harganya sangat mahal. Padahal penemuan itu secara tidak disengaja," tambah dia.

Sejarahnya, lanjut Mahyudin, rakyat Indonesia disuruh oleh Belanda untuk menanam kopi, tapi petani nasional tidak boleh minum kopi. 

"Untuk bisa menikmati kopi petani kita memungut biji kopi yang berasal dari kotoran binatang luwak. Ternyata kemudian harganya sangat mahal. Bahkan luwak sekarang malah dipelihara agar menghasilkan kopi," jelasnya.

Oleh karena itu, dikatakan Mahyudin, masyarakat Indonesia sepakat untuk merdeka. Sebagai jembatan emas untuk membawa bangsa dari bodoh menjadi pintar, dari miskin menjadi kaya, dari terbelenggu menjadi bebas. 

"Malah sekarang terlalu bebas, padahal kebebasan itu harus taat aturan,” jelas Mahyudin.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID