logo rilis
Mahyudin: Berbuat Baik Adalah Realisasi Dari Empat Pilar
Kontributor
Nailin In Saroh
21 Maret 2019, 19:01 WIB
Mahyudin: Berbuat Baik Adalah Realisasi Dari Empat Pilar
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Kutai Kartanegara— Wakil Ketua MPR Mahyudin, mengatakan bahwa belajar berbuat baik dan mempelajari kebaikan orang lain adalah salah satu cara untuk mengaplikasikan Empat Pilar MPR RI. Bukan mencari-cari kesalahan orang lain, sehingga mengakibatkan kuman diseberang lautan tampak, sedang gajah di pelupuk mata tak tampak. 

Selain itu, kata dia, orang juga jangan suka sombong, karena itu tidak ada faedahnya. Bahkan orang yang sombong, tidak suka dengan kesombongan orang lain. Sedang orang baik, akan diterima oleh semua orang. 

Seperti orang Islam, jadilah orang Islam yang baik. Ikuti saja apa yang menjadi rukunnya orang Islam yang lima. Syahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Kalau semua rukun itu dilakukan dengan baik, ikhlas semata karena Allah, insya Allah akan selamat dunia akhirat. 

"Empat pilar itu sudah ada dalam diri kita sendiri, tinggal mau atau tidak, jangan sampai kita  kalah sama keburukan. Kalau kita bisa mengalahkan kejahatan, itulah sebagian nilai-nilai empat pilar itu", ujar Mahyudin saat menjawab pertanyaan salah seorang peserta Sosialisasi Empat Pilar MPR, kerjasama MPR dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kutai Kartanegara di Pendopo Kabupaten Kukar, Kamis (21/3/2019). 

Pancasila sebagai salah satu, dari empat pilar MPR, kata Mahyudin, mencakup semua tingkah laku dan sopan santun yang dimiliki bangsa Indonesia. 

"Karena itu, asal berperilaku baik, sesuai tata krama dan sopan santun bangsa Indonesia, berarti kita sudah mengaplikasikan empat pilar dalam kehidupan sehari hari," katanya.

Pada kesempatan itu, Mahyudin juga menyampaikan kritiknya terhadap demokrasi Indonesia yang dinilai sangat mahal. Akibat mahalnya pelaksanaan demokrasi di Indonesia, kata dia, banyak pejabat yang sengaja mencari pengusaha yang mau membiayai ongkos politik. Sebagai kompensasi adalah proyek atau lahan. 

"Pejabat seperti ini tidak akan banyak memikirkan rakyatnya. Karena dia lebih memikirkan cara bagaimana mengembalikan modal politik kepada pengusaha yang telah membantun. Dan itu menjadi salah satu penyebab banyaknya pejabat korupsi", kata Mahyudin menambahkan.

Editor: Sukma Alam




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID