logo rilis
Luncurkan Padu Satu, Kementan Ingin Investasi Pertanian Bergeliat
Fatah H Sidik
15 Mei 2018, 13:51 WIB
Luncurkan Padu Satu, Kementan Ingin Investasi Pertanian Bergeliat
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Padu Satu) Kementan berada di Gedung B Kantor Pusat Kementan, Jakarta. Padu Satu diluncurkan Menteri Amran, Selasa (15/5/2018), untuk meningkatkan pelayanan publik dan menggenjot investasi di sektor pertanian. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Padu Satu) di Gedung B Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (15/5/3018). Padu Satu merupakan upaya Kementan meningkatkan pelayanan publik sesuai Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017.

Melalui Padu Satu, dirinya berharap, investasi di sektor pertanian kian bergairah. Dengan begitu, kemiskinan kian berkurang karena terbukanya lapangan kerja baru dan 
ekspor melonjak.

"Juga bisa lihat dampak kemiskinan di desa turun 2-3 persen, karena kita lakukan yang terbaik," ujarnya sela kegiatan.

Penerapan Padu Satu tak lepas dari deregulasi sekitar 200 peraturan. Alhasil, angka ekspor pada 2013 sekira Rp23 triliun melonjak menjadi Rp45 triliun pada era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menteri Amran mendorong demikian, lantaran posisinya sebagai pembantu Presiden maksimal lima tahun. Namun, Indonesia harus eksis dan kokoh hingga 1.000 tahun.

"Yang bisa satukan kita, keadilan dan kesejahteraan. Bisa tercapai kalau lapangan terbuka, investasi masuk, gini ratio harus diperkecil," jelasnya.

Pembantu Presiden kelahiran Bone ini menambahkan, peringkat pelayanan publik Kementan berada di posisi 14 saat dirinya baru menjabat Menteri Pertanian. Kini, berada di peringkat empat.

Dengan adanya Padu Satu, Menteri Amran ingin capaian tersebut kembali naik. "Kami ingin tahun depan masuk dua besar. Itu yang kami inginkan," ucapnya.

Membaiknya pelayanan publik Kementan era Menteri Amran diakui Sekretaris Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI), Ahmad Fahmi. Distributor daging sapi sejak 10 tahun silam ini menyatakan, pengurus izin kini bisa rampung dalam tiga hari. 

"Sekarang dari rekomendasi masuk, proses teknis, tidak lebih dari tiga hari. Dulu, berhari-hari, tujuh hari ke atas," beber Direktur PT Agro Boga Utama itu pada kesempatan sama.

Namun, Menteri Amran, menginginkan prosesnya lebih cepat. Selambat-lambatnya satu hari proses selesai. "Sebelum aku berhenti menteri, (prosesnya jadi) satu hari," katanya.

"Kalau harga daging naik, aku naikkan tiga bulan (proses) rekomendasimu," imbuh peraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini berseloroh.

Banyak inovasi dalam peningkatan pelayanan publik yang sebangun dengan online single submission (OSS) secara nasional tersebut. Misalnya, penerapan sistem dalam jaringan (daring/online) dengan mengedepankan prinsip kepercayaan (trust) kepada pelaku usaha. Sehingga, tak dituntut beragam persyaratan yang memberatkan untuk berusaha.

Pelaku usaha hanya tinggal memenuhi persyaratan yang ada. Kemudian, pemerintah mengawasinya. Sehingga, fungsi pengawasan lebih intensif.

Melalui penerapan Padu Satu, penyelesaian perizinan pun lebih terjamin. Apalagi, prosesnya lebih mudah, karena cuma melalui satu aplikasi untuk beragam proses yang melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Tak banyak dokumen dalam proses aplikasi. Dokumen dasar, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), diakses langsung dari data pusat nasional. Dengan begitu, tak perlu disediakan pelaku usaha.

Layanan lain dari Padu Satu, yakni informasi  umum tentang proses dan hasil pelaksanaan pembangunan pertanian. Di dalamnya memuat beberapa info. Data produksi dan kebutuhan konsumsi beberapa komoditas, misalnya.

Padu Satu juga mengembangkan berbagai layanan yang memudahkan bertemunya penjual dan pembeli. Contohnya, aplikasi Android berkonsep e-commerce yang menyambungkan Toko Tani Indonesia (TTI) dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang memasok beberapa komoditas untuk TTI sejak awal 2018.

Penerapan teknologi informatika ini bertujuan meningkatkan kinerja pasokan antara gapoktan dan TTI. Manfaat lain, mengatasi kendala pasokan pangan. Jumlah pengguna aplikasi mencapai 300 gapoktan dan TTI dengan nilai transaksi Rp1,15 miliar.

Selain peningkatan pelayanan, Padu Satu juga memiliki fasilitas penunjang. Di antaranya, ruang laktasi bagi ibu menyusui, ruang konsultasi dan pengaduan, makanan ringan, serta ruang tunggu dan perlengkapan bak lobi hotel.

Editor: Elvi R


500
komentar (0)