logo rilis
Luna Maya juga Manusia
Kontributor
RILIS.ID
03 Maret 2019, 14:35 WIB
Luna Maya juga Manusia
Wirahadikusumah (kanan) dan Luna Maya. FOTO: ISTIMEWA

Beberapa hari belakangan ini jagat dunia hiburan sedang dihebohkan pernikahan Reino Barack dan Syahrini.

Pernikahan keduanya yang berlangsung di Jepang itu menyeret-nyeret nama Luna Maya.

Wajar. Sebab, Luna adalah mantan kekasih Reino. Sebelumnya, mereka pernah berpacaran selama lima tahun. Dan baru beberapa bulan hubungan asmara keduanya putus, Reino menikahi Syahrini yang merupakan temannya Luna.

Dalam tulisan ini, saya bukan ingin membahas pernikahan Reino dan Syahrini. Tetapi lebih kepada Luna.

Hal ini bukan karena saya tidak suka Reino dan Syahrini. Salah satu sebabnya, karena saya tidak pernah bertemu keduanya. Sementara dengan Luna, saya pernah dua kali bertemu langsung.

Bahkan, di pertemuan kedua saya sempat mengobrol dengannya sekitar satu jam dalam satu ruangan.

Kali pertama saya melihat Luna secara langsung pada akhir Januari 2010 di Jakarta Convention Centre (JCC).

Saat itu, saya sedang menjalani tugas dari kantor untuk meliput kedatangan trophy Piala Dunia ke Indonesia atas undangan PT Coca Cola.

Saya mendapati Luna Maya tengah duduk di kursi pada salah satu ruangan di JCC dengan "hiasan" roll di poni rambutnya.

Kala itu, dia tengah bersiap-siap menjalankan tugasnya sebagai salah satu host acara musik di RCTI bernama Dahsyat yang sedang mengadakan siaran langsung dari JCC.

Sayang, saat itu saya tak sempat mengobrol dan berfoto dengan Luna. Karena saya lebih memilih mengantre berfoto dengan trophy Piala Dunia.

Namun, foto Luna tengah memakai "hiasan" roll di poni rambutnya berhasil saya dapatkan.

Pertemuan kedua adalah saat dia menyambangi Graha Pena Lampung (markas SKH Radar Lampung) bersama Chicco Jerikho dan rombongan pada Juli 2017.

Kedatangan dua artis papan atas Indonesia itu dalam rangka promosi film berjudul Filosofi Kopi 2 yang mereka bintangi.

Saya yang saat itu masih bekerja di Radar Lampung ikut menyambut kedatangan keduanya di pagi hari itu.

Saya ingat saat itu, kami sempat terkejut lantaran Luna mengaku lapar karena belum sarapan.

Kami sempat sedikit kelabakan. Sebab, saat itu hanya makanan ringan berupa kue dan roti yang disiapkan.

Saya kian terkejut ketika Luna menyampaikan jenis makanan yang dimaunya saat itu.

Ternyata bukan spaghetti, sandwich, hamburger, atau makanan ala ke barat-baratan. Yang dimintanya cuma lontong sayur.

Kami pun membeli lontong sayur di warung dekat Graha Pena Lampung. Dan saat itu, Luna tidak canggung sama sekali menyantap makanan khas Indonesia tersebut.

Sembari menikmati lontong sayur, dia sempat mengomentari jalan dari Bandara Internasional Radin Inten II ke Graha Pena Lampung yang menurutnya tidak begitu mulus saat itu.

Kemacetan akibat pembangunan flyover Mal Boemi Kedaton (MBK) juga tak luput dikomentarinya. Saat itu, flyover MBK memang sedang dalam masa pembangunan.

Sementara, kepadanya saya sempat mempromosikan destinasi wisata yang ada di Lampung. Di antaranya Pulau Pahawang, Pantai Tanjung Setia, hingga Teluk Kiluan.

Usai makan, Luna dan Chicco melayani pertanyaan reporter Radar Lampung dan Radar Lampung TV terkait film yang dibintangi mereka.

Selanjutnya keduanya juga melayani permintaan selfie beberapa karyawan Radar Lampung (termasuk saya) serta para fans-nya di Graha Pena Lampung.

Dari pertemuan singkat itu, saya dapat menyimpulkan bahwa Luna adalah sosok perempuan yang pintar. Itu terlihat dari jawaban yang disampaikannya saat melayani pertanyaan-pertanyaan reporter kepadanya. Dia juga terlihat ramah melayani siapapun yang ingin berfoto bersamanya.

Luna juga adalah sosok perempuan yang kuat dan tidak manja. Buktinya pada hari itu, dia menerima kenyataan harus pulang ke Jakarta lewat jalur darat lantaran tidak mendapatkan tiket pesawat.

Sebab, hari itu bertepatan dengan hari terakhir peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang dipusatkan di Lampung. Sehingga tiket pesawat habis diborong para delegasi yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia untuk pulang ke provinsinya masing-masing.

Sosok kuatnya seorang Luna Maya juga bisa dilihat dari keberhasilan dia melewati persoalan video Ariel Noah beberapa tahun silam.

Buktinya, dia masih eksis di jagat dunia hiburan. Bahkan informasi yang saya terima, bisnis-bisnis yang dirintisnya kini kian menjulang.

Namun, dibalik kuatnya Luna tersebut, dia juga seorang manusia. Yang masih membutuhkan Tuhan dalam menjalankan hidup meskipun hartanya sudah berlimpah ruah.

Buktinya, kini dia memilih mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk menjalankan umrah di Tanah Suci.

Kemungkinan selain untuk ibadah, tujuan lainnya untuk "mengobati" hatinya yang saya yakini saat ini sedang "sakit".

Dan sebagai orang yang pernah bertemu langsung Luna Maya, saya mengapresiasi pilihannya tersebut.

Sebab, Luna ternyata bukan tipe orang yang berusaha menenangkan pikirannya melalui jalur yang dilarang agama.

Dia bukan tipe perempuan yang ketika ditimpa masalah lalu menenangkan pikirannya dengan shopping gila-gilaan. Atau tidak makan seharian. Bahkan ada yang memilih mabuk-mabukkan sampai mengonsumsi narkoba dengan alasan untuk mendapatkan ketenangan jiwa.

Dia tahu, dengan bercerita dan lebih mendekatkan diri ke Tuhan-lah, maka ketenangan batin akan didapat.

Karena itu, semoga dengan menjalani umrah, Allah SWT memberikan hidayah kepadanya. Mengampuni semua dosa-dosanya. Dan memudahkan semua urusannya. Serta mempercepat jodohnya.

Saya yakin selepas umrah, Luna akan lebih kuat menjalani kehidupannya ke depan. Terlebih, informasinya kini dia sedang menyukai puisi-puisi karya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad.

Karenanya di akhir tulisan ini saya "menghadiahi" Luna dengan puisi karya penyair sufi tersebut.

Kembali Pada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan. Karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya! Wahai pejalan!

Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayoklah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman: "Ketika engkau melambung ke angkasa, ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada Ku, karena Akulah jalan itu”. (*)

Penulis adalah mantan Pemred SKH Radar Lampung

Editor: Segan Simanjuntak




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID