logo rilis
Luhut Diminta Elegan Tanggapi Kritikan Amien Rais
Kontributor
Tio Pirnando
23 Maret 2018, 10:26 WIB
Luhut Diminta Elegan Tanggapi Kritikan Amien Rais
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim), Luhut Binsar Panjaitan. FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat politik dari Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Muradi, menyarankan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan tak perlu menanggapi berlebihan kritikan yang dilontarkan oleh Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Karena, Amien Rais memang kerap mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak benar.

"Pak Luhut sebagai orang yang kenyang makan asam garam kekuasaan harusnya menggunakan bahasa yang lebih santai lah," ujarnya kepada rilis.id, Jumat (23/3/2018).

Meski demikian, Muradi memandang, kedua-keduannya salah. Karena telah mengganggu jalannya roda pemerintahan dan memanaskan suhu perpolitikan tanah air. 

Di sisi lain, dia juga menyarankan Amien Rais harusnya tidak asal menyampaikan kritikan. Jika menganggap kritikan tersebut benar, sampaikan ke pemerintah dengan menyodorkan data-data. 

"Pak Amin kan dari dulu begitu, cuman kan Pak Amin sebagai mantan akademisi, sampaikan bahwa data itu ada," bebernya.

Muradi juga menyayangkan tanggapan Luhut itu yang berlebihan terhadap Amien Rais. Menurutnya,  sangat baik jika mantan Ketua MPR RI itu diajak bertemu dan berbicara dengan suasana hati tenang.

"Telpon saja baik-baik ini ada loh data yang Pak Amin bilang bohong. Ajak ketemu di mana ngopi barang, saya kira soal seperti itu Pak Luhut lebih jago lah. Karena mungkin kejengkelan luar biasa saya paham beban kerja Pak Luhut, dan Pak Amin begitu terus mungkin itu yang membuat dia jengkel," tukas dia.

Seperti diberitakan, saat menjadi pembicara diskusi di Bandung, Minggu (18/3) kemarin, Amien Rais meminta masyarakat waspada dengan program pembagian sertifikat tanah Jokowi. Ia menyebut program itu sebagai 'pengibulan'.

Luhut membantah program tersebut merupakan pengibulan. Menurutnya, program itu sejak lama telah diberlakukan di Indonesia.

"Ngapain ngibulin? Dari dulu sudah dibagi kok sertifikat itu. Tapi prosesnya lama, panjang, dan sedikit. Sekarang lebih cepat dan banyak," katanya.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)