logo rilis

Longstorage Gandakan Produksi Padi Rawa
Kontributor
Elvi R
18 April 2018, 11:13 WIB
Longstorage Gandakan Produksi Padi Rawa
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Produksi padi di Kabupaten Kuala Kapuas sekitar 341 ribu ton dengan produktivitas sekitar 3-4 ton per hektare, cukup baik untuk lahan rawa pasang surut. Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Komisi II, H Wahyu menyatakan, meski cuku baik, tapi produksi padi harus terus ditingkatkan. Hal ini karena potensi peningkatannya sangat besar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun indeks pertanaman. 

"Salah satu kendala  utama dalam peningkatan produksi padi adalah sulitnya pengendalian air, karena hampir setiap tahun lahan sawah terkena banjir di musim hujan tapi air sering tidak mencukupi di musim kemarau," ujarnya di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Banjarbaru Ir Hendri Sosiawan mengatakan, Banjarbaru perlu longstorage yang dilengkapi dam parit untuk tingkatkan indeks pertanaman. 

"Alhamdulillah Direktorat Jernderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) sudah membangun longstorage di Desa Tamban Baru Tengah, Kecamatan Tamban Catur tahun lalu dan Insya Alloh tahun ini dibangun pula di tempat lainnya," kata Hendri menambahkan. 

Diharapkan kedepan pemerintah kabupaten dapat membangun longstorage secara mandiri dengan dukungan pendampingan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Kepala Dinas Pertanian Kapuas Ir. Anjono Bhakti, MM sangat mendukung dan berterimakasih kepada Ditjen PSP dan Balitbangtan atas bantuan dan dukungan pendampingannya.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Prof. Dedi Nursyamsi menambahkan, Balitbangtan, selain mengenalkan teknologi longstorage dan dam parit, juga memberikan varietas IMPARA dan teknologi pemupukan berimbang.  Dengan demikian maka teknologi longstorage plus ini memberikan keuntungan ganda, yaitu selain indeks pertanaman meningkat dari 100 menjadi 300, produktivitas padi juga meningkat menjadi sekitar 6 ton per hektare.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Berkat Mufakat Hamdani mengatakan, masa tanam pun bisa lebih banyak dilakukan. 

"Sekarang kami bisa tanam 3 kali dalam setahun yang sebelumnya hanya satu kali dengan varietas lokal Siam",  katanya.

Hal ini diamini oleh Ketua Kelompok Tani Attaqwa Ramli yang mengatakan, saat ini mereka sibuk di sawah karena harus tanam 3 kali. "Saat ini kami perlu alsintan Pak, terutama transplanter dan harvester", kata  Hamdani dan Ramli kompak. 

Mereka mengungkapkan, kerepotan kalau tanam dan panen harus manual karena baru saja panen dan harus kembali melakukan tanam.

"Karena setelah panen kami harus segera turun ke sawah lagi untuk ngolah tanah di musim berikutnya," demikian mereka menambahkan saat Bimtek di rumah Hamdani beberapa bulan lalu.   

Menurut data dari BWS Kalimantan I, ketersediaan air sungai kapuas yang ada di WS Kapuas sebesar ± 15,85 milyar meter kubik, dengan kebutuhan air sampai tahun 2034 sebesar + 2,88 milyar meter kubik, sehingga ketersediaan air masih jauh di atas kebutuhan. Namun ironisnya di musim kemarau sulit mendapatkan air yang memenuhi syarat untuk irigasi, karena terjadi intrusi air laut sementara debit aliran air sungai dari atas menurun.

"Longstorage merupakan solusi yang tepat untuk memenuhi air irigasi di musim kemarau dan di saat yang sama juga dapat menahan intrusi air laut ke lahan sawah," kata Dr Wahida Annisa peneliti Balittra menegaskan.  

Prinsip di masa lalu “bagaimana mengeringkan rawa”  agar dapat ditanami menyebabkan lapisan sulfidik tersingkap sehingga terjadi oksidasi pirit yang sangat memasamkan tanah. Akibatnya pertanian tanaman pangan gagal dan lahan menjadi bongkor sehingga para petani terutama transmigran menjadi repot.  Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dan pembelajaran kegagalan masa lalu mendorong untuk menganut prinsip “bagaimana mendrainase dan mempertahankan air  rawa”.  

"Pengelolaan air skala makro merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem reklamasi lahan rawa yang berbasis kawasan. Pengelolaan air skala mikro  berbasis unit hamparan usaha tani dan bersifat spesifik lokasi yang apabila diterapkan bersama dengan teknologi lainnya dapat meningkatkan produktivitas lahan," ujar Wahida.

Selanjutnya Wahida menambahkan, ada tiga strategi dalam konsep pengendalian air di lahan rawa. Pertama strategi konservasi, yaitu konservasi energi potensial, kualitas dan kuantitas air serta laju perubahan tingkat kebasahan. Kedua strategi dinamis, yaitu air diusahakan selalu bergerak dan sedapat mungkin terorganisir menuju satu arah, sehingga proses oksidasi terus berlangsung dan juga bermanfaat untuk menjaga tingkat kegaraman air.  Ketiga strategi stratifikasi, yaitu pemutusan hubungan tata air alamiah dan buatan yang dilakukan karena system hidrodinamik makro yang kurang cocok dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman.

Artani Asbi Mantri Tani Kecamatan Tamban Catur menyebut, Longstorage di desa Tamban Baru Tengah membuat lahan disekitar yang awalnya tidak terairi saat kemarau, sekarang sudah dapat terairi. Hal ini diamini oleh Sairi anggota Kelompok Tani Attaqwa yang mengatakan, air sekarang tidak masalah. Sairi mengatakan, tadinya lahan di sekitar ini merupakan lahan terlantar akibat kebakaran hebat pada 1990 dan lahan tersebut terdegradasi, sehingga apabila ditanami selalu gagal.

"Akhirnya petani meninggalkan lahan tersebut untuk mencari usaha lain. Dengan adanya longstorage ini mereka kembali ke sawah dan dengan penuh semangat mereka garap lagi sawahnya," kata Artani.

Sumber: (Dedi Nursyamsi/Balitbangtan)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)