logo rilis

Lokasi Terdampak Likuifaksi Sulteng Sebaiknya Ditimbun Tanah
Kontributor
Kurnia Syahdan
18 Oktober 2018, 23:00 WIB
Lokasi Terdampak Likuifaksi Sulteng Sebaiknya Ditimbun Tanah
Kondisi setelah bencana gempa dan likuifaksi. FOTO: Instagram/@moehiel

RILIS.ID, Jakarta— Kepala Pusat Krisis, Kementerian Kesehatan, dr Ahmad Yurianto merekomendasikan lokasi terdampak likuifaksi di Petobo, Palu Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah, lapisan tanahnya yang terangkat ditimbun.

"Cara terbaik adalah menimbun dengan tanah, seperti selayaknya memakamkan jenazah dalam kehidupan masyarakat sehari-hari," kata Ahmad melalui siaran persnya, di Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, pertimbangan terbaik dalam penanganan jenazah yang belum ditemuan adalah dengan tetap memakamkan di lokasi yang diduga ada jenazah itu.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah tersebut, mengingat kemungkinan untuk bisa menemukan jenazah dalam keadaan utuh sangat kecil. Penggalian jenazah juga berisiko terhadap penyebaran dan penularan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan lingkungan.

Ahmad Yurianto menyampaikan, yang perlu dilakukan dinas terkait adalah melakukan pengecekan kualitas air tanah secara berkala di sekitar daerah terdampak.

Selain itu, ada upaya perlu dilakukan ketika melakukan penimbunan dengan membuat drainase yang baik agar air hujan bisa terkumpul dan bisa diintervensi sebelum masuk sungai. Idealnya, timbunan ditanggul dan drainase dibuat dari semen.

Hasil analisis sementara pemetaan secara spasial menunjukkan bahwa wilayah terdampak likuifaksi pascagempa Sulteng menyebabkan pengangkatan dan amblesan di Balaroa Palu Barat.

Jumlah perkiraan rumah terdampak mencapai 1.045 unit dengan luasan wilayah terdampak mencapai 47,8 hektare.

Sementara jumlah perkiraan rumah terdampak di Petobo, Palu Selatan mencapai 2.050 unit dengan luas wilayah 180 hektare, sedangkan di Jono Oge, Sigi, mencapai 366 unit dengan luas wilayah 202 hektare.

Likuifaksi merupakan fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, seperti getaran gempa bumi.

Sementara berdasarkan penelitian Badan Geologi pada 2012 menyebutkan, wilayah Palu merupakan wilayah dengan potensi likuifaksi sangat tinggi.

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang mengguncang beberapa wilayah di Sulteng pada 28 September 2018 menewaskan ribuan orang dan ribuan menderita luka-luka.

Data Kogasgabpad per 17 Oktober 2018, pukul 17.00 WITA melansir jumlah korban meninggal dunia 2.103 jiwa, hilang 680 orang, luka-luka 4.612 orang, dan mengungsi 274.195 jiwa.

Ribuan orang diperkirakan meninggal dunia dan tertimbun di wilayah terdampak likuifaksi. Pemerintah Provinsi telah memperpanjang status tanggap darurat hingga 26 Oktober 2018.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulteng, Ridwan Mumu, menyampaikan lokasi Balaroa dan Petobo rencananya akan ditimbun terlebih dahulu dan ditetapkan sebagai pemakaman massal.

Selanjutnya pemerintah setempat akan menutup lokasi tersebut dan tidak boleh lagi ada pembangunan karena akan dibuat sebagai memoriam park kawasan hijau serta membagun monumen peringatan bencana di dua lokasi tersebut.

Sebelumnya, helikopter MI-8 yang dikirim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penyemprotan atau water-bombing material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti Petobo, Balaroa.

Pengemboman menjadi langkah yang efektif karena cakupan wilayah yang cukup luas dengan kondisi lapangan berpotensi terjadi amblas.

Penyemprotan disinfektan tersebut setelah BNPB berkordinasi oleh Dinas Kesehatan Sulteng, Kementerian Kesehatan dan Kesehatan TNI.

Pengisian material disinfektan diisi ke dalam bucket atau ember yang telah dipersiapkan personel TNI melalui mobil tanki menyemprotkan disinfektan melalui udara di wilayah Petobo dan Balaroa.

Tidak hanya penyemprotan disinfektan, personil TNI juga melalukan fogging atau penyemprotan di darat di wilayah yang dapat dijangkau di Petobo dan Balaroa.

Penyemportan juga dilakukan di halaman rumah sakit yang digunakan untuk pengumpulan jenazah yang berhasil dievakuasi, seperti RS Undata, RS Madani dan RS Bhayangkara.

Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)