logo rilis
LIPI: Sulit Membangun Kawasan Perbatasan
Kontributor
Zulyahmin
25 September 2018, 07:20 WIB
LIPI: Sulit Membangun Kawasan Perbatasan
FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yamin

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syafuan Rozi Soebhan, mengatakan, pembangunan di kawasan perbatasan memiliki tingkat kesulitan tinggi.

Sehingga, wajar apabila infrastruktur jalan yang dibangun di area perbatasan Malaysia dan Papua Nugini hasilnya kadang tidak maksimal. 

Syafuan menyebut, hal tersebut karena daerah-daerah tersebut, terutama di Kalimantan dan Papua memiliki struktur tanah yang lembut.

“Di sana kawasan gambut. Ketika dibangun jalan dan diaspal, bisa ambles. Tingkat kesulitannya tinggi. Makanya kita harus lihat kearifan lokal apa yang harus kita serap," katanya di Jakarta, Selasa (25/9/2018). 

Syafuan menuturkan, pembangunan infrastruktur jalan di sejumlah daerah, salah satunya Kalimantan juga terkendala masalah bahan baku. Pasalnya, di daerah tersebut tidak mudah untuk mendapatkan pasir dan batu. 

"Untuk itu, bisa mencoba aspal campur plastik yang lebih kuat sebagai alternatif," ujarnya. 

Ia menyarankan, pemerintah juga tidak hanya membangun kawasan perbatasan saja. Namun, perlu juga memperhatikan pulau-pulau kecil terdepan atau terpencil.

Menurut Syafuan, pemerintah ke depan harus bisa menempatkan unit terkecil pemerintahan di pulau-pulau kecil itu. Hal itu sebagai bukti keberadaan negara dan menjaga pulau tersebut dari ancaman negara lain. 

"Kan bisa dibentuk satuan unit pemerintahan dengan menempatkan pegawai lokal. Dulu kasus Sipadan dan Ligitan direbut Malaysia, karena kita tak ada pemerintahan lokal di sana, kita cuma klaim," tegasnya. 

Sementara itu, Kabag Humas Kementerian PUPR, Krisno Yuwono menjelaskan, pemerintah telah berhasil membangun sejumlah infrastruktur jalan di wilayah-wilayah perbatasan. 

"Sampai saat ini sudah tembus sepanjang 1.775 kilometer dengan kondisi beragam, masih ada 144 kilometer belum tembus di Kalimantan," jelasnya. 

Untuk wilayah perbatasan di Nusa Tenggara Timur, lanjut dia, pemerintah telah berhasil membangun jalan sepanjang 179 kilometer. Jalan yang beraspal itu sudah menembus ke ssmua wilayah di daerah tersebut. 

"Di Papua, sepanjang 1.100 kilometer. Sudah tembus 908 kilometer dan belum tembus 189 kilometer karena memang kondisi alam yang luar biasa dari Ubruk ke Oksibil (pegunungan tengah) yang sangat berat kondisi alamnya. Tapi Insyaallah 2019 tembus semua," pungkasnya. 

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID