Home » Inspirasi » Wawancara

Lintang Pandu Pratiwi: Pesan Ini yang Selalu Saya Bawa tentang Keragaman, Cinta Kasih, dan Gotong-royong

print this page Senin, 30/10/2017 | 23:34

Lintang Pandu Pratiwi. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

DUNIA kreatif saat ini menjadi semacam “virus” bagi anak muda yang ingin berprestasi. Di antara ragam media untuk berkreasi, bidang penulisan juga turut mengitari. Picture book adalah salah satu genre yang saat ini menjadi tren baru di dunia anak-anak. Penulisnya disebut sebagai ilustrator. 

Salah satu anak muda yang sedang menggeluti ini adalah Lintang Pandu Pratiwi. Melalui ketekunan dan passion yang dimilikinya, Lintang telah melahirkan sekitar 30 buku yang diterbitkan di luar negeri. Beberapa di antaranya mengangkat tema perbedaan warna kulit bahkan menjadi children international bestseller di amazon.com. Ia juga telah menorehkan sebuah goresan tinta tentang Michelle Obama yang didedikasikan untuk mengenang masa akhir jabatannya sebagai First Lady Amerika Serikat. 

Atas prestasi itu, Lintang pun didaulat sebagai salah satu dari 72 icon berprestasi oleh UKP-Pancasila. Sebagai generasi muda, sedikit pun ia tak pernah meninggalkan semangat keindonesiaannya. Menurutnya, setiap karya yang dibuatnya adalah usaha untuk memajukan dan menanamkan karakter Pancasila bagi generasi muda. 

Bagi Lintang, menjadi generasi yang terdidik dengan baik haruslah dilakukan dengan pengembangan kepribadian yang baik pula. Sehingga, ketika generasi milenial ini telah terjun ke masyarakat, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang brilian sekaligus menjadi berlian di lingkungannya. 

Untuk menuju ke sana, jelas Lintang, yang terpenting sebagai anak muda patriotis adalah terus menghargai keragaman. Sebab, ini berhaluan langsung dengan dasar negara kita, Pancasila. Lintang sangat yakin, melalui karya yang dijiwai Pancasila, penyatuan berbagai macam karakter suku, ras dan agama bukanlah hal yang sulit. Ia pun mengajak para generasi muda agar terus menelurkan berbagai karya di bidangnya. Kerja itu disebutnya sebagai kerja yang tanpa sadar sangat ideologis, sebab Pancasila bagi Lintang adalah rumah kita semuanya. 

Untuk lebih jauh mendiskusikan bagaimana sebenarnya anak muda sekarang ini menempatkan diri dalam dunia kreatif dan terus berprestasi, wartawan rilis.id Taufiq Saifuddin berkesempatan mewawancarai Lintang Pandu Pratiwi di kawasan Senayan, Jakarta, pada Senin (30/10/2017). Berikut wawancara selengkapnya: 

Banyak di antara anak muda yang bisa saja belum begitu mengerti mengenai profesi ilustrator ini. Sebenarnya, seperti apa sih dunia ilustrator itu? 

Illustrator itu ya kerja yang menggambarkan satu peristiwa tertentu, bisa juga fiksi atau imajinasi. Nah, berkaitan dengan pekerjaan saya ini, bentuk ilustrasi itu ya lewat gambar. Jadi, yang saya tekuni ini namanya picture book. Jadi seperti buku bergambar dan berwarna di setiap halamannya. Buku ini kelas pembacanya memang diperuntukkan bagi anak-anak. 

Picture book ini berbeda dengan komik. Komik kan satu halaman ada banyak panel, sedang buku bergambar itu satu halaman ya satu gambar, dan ada sedikit teksnya. Teksnya pun sebetulnya juga harus minim. Isi tulisannya mesti yang fun, terus kreatif, supaya anak-anak bisa mencerna tulisan itu. Sederhana dan tidak terlalu berat tulisannya. 

Jadi, karya itu diperuntukkan untuk anak-anak. Lalu, sumber inspirasinya dari mana? 

Bisa datang dari mana saja. Kebanyakan sih dari kehidupan sehari-hari. 

Tema yang diusung dalam buku bergambar itu apa saja? 

Kalau saya lebih suka dunia imajinatif seperti fairy tail atau dongeng yang ada di Nusantara ini. Dari situlah kemudian saya masukkan nilai-nilai moral untuk anak-anak dalam cerita itu. Sehingga tidak melulu tentang dongeng mengawang-awang, tapi harus memuat nilai-nilai yang bermanfaat. Misalnya tentang bagaimana sih cara anak itu menghormati orangtuanya, menyayangi temannya, menghargai keberagaman, menyayangi sesama manusia, binatang, dan lingkungan. 

Sangat menarik karena Anda mengusung tema keragaman. Lalu karakter yang sering dipakai untuk menyampaikan isu keragaman seperti apa?

Karakternya seputar anak kecil, karena targetnya memang anak-anak. Bentuk gambarnya biasanya anak-anak kecil dari berbagai suku, terus ada juga binatang. Kadang dibikin perumpamaan tentang binatang dan tumbuhan atau cerita tentang kehidupan sehari-hari. Nanti gambar anak kecil itu warna kulitnya beda, model wajahnya beda. 

Jadi, penggambaran karakter itu diilustrasikan dalam pergaulan sehari-hari di dunia anak kecil. Dari situ kan pasti akan muncul berbagai macam ciri dan anak kecil itu. Misalkan di buku bergambar itu ada yang rambutnya keriting, ada yang matanya sipit, ada yang matanya lebar, ada yang tinggi, ada yang disable

Tujuannya sih agar bagaimana mereka bisa menghargai dan menerima kekurangan dan kelebihan teman-temannya. Terus anak kecil juga bisa menyampaikan rasa cinta kasih mereka ke teman-temannya tanpa memandang dari latar belakang mereka berasal. 

Pesan inilah yang selalu saya bawa. Apalagi sekarang isu keberagaman sudah mulai rontok. Isu SARA malah jadi hits. Jadi perlu anak-anak diberikan pendidikan tentang tanah airnya yang memang terdiri dari banyak latar belakang. 

Nah, ini agak sedikit teknis. Kalau cara pembuatan picture book sendiri seperti apa? Apakah manual atau bagaimana? 

Ya kadang manual juga. Pokoknya dari berbagai media saya pakai. Seperti komputer juga bisa. Kadang saya memadukan yang manual dan juga komputer. 

Dari banyak karya yang sudah dihasilkan, masih ingat karya pertamanya? 

Dulu yang pertama kali saya buat dan siapkan itu buku bergambar di Indonesia. Buku dongeng sih. Sedang buku pertama saya di luar negeri itu judulnya Dancing Lily. Proyek ini saya kerja sama dengan penerbit di Chicago, Amerika. Itu ceritanya tentang orang luar negeri. Di situ ada anak yang minder lalu jadi sadar dia bisa diterima di lingkungannya jika dia percaya diri dengan potensinya sendiri. 

Walaupun banyak buku saya diterbitkan di luar negeri, saya biasanya memasukkan unsur budaya Indonesia di dalam buku-buku itu. Misalnya ilustrasi baju anak saya kasih motif batik. Khusus ini, saya mau cerita, awalnya itu cuma bentuk draf, jadi bukan dalam bentuk buku. Lalu saya kembangkan sendiri untuk divisualkan dalam bentuk ilustrasi dan memasukkan khazanah budaya Indonesia. 

Dari banyak karya saya yang diterbitkan, itu beredar di Amerika. Ada juga yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan Spanyol. Kalau di Indonesia, terbit di Gramedia. Bentuknya ada yang cetak dan ada yang e-book

Balik ke soal nilai. Selain tema keragaman, adakah tema lain yang menonjol dalam karya Anda? 

Saya memang selalu menitikberatkan tema keberagaman dalam karya saya. Selain itu, bila dikaitkan dengan Pancasila, saya juga memasukkan semangat gotong-royong. Terus cinta kasih. Anak-anak memang harus dididik untuk mencintai sesamanya sejak dini, sehingga nantinya mereka tidak kaku dalam pergaulan lintas budaya. 

Maksudnya, ketika mereka tumbuh besar, dengan mengajarkan gotong-royong dan cinta kasih, mereka sudah tidak kaku lagi dalam bergaul dan berbaur dengan lingkungannya. Lingkungan juga perlu ditekankan, sebab di sanalah anak-anak itu bermain dan belajar. 

Soal keragaman, di Indonesia kan ini sangat kompleks. Bisa menyangkut suku, agama, dan lain sebagainya. Dari banyak isu ini, apa yang sering disampaikan? 

Terkait itu sih kebanyakan saya membatasi diri pada warna kulit atau tentang ciri-ciri fisik. Karena kalau menyentuh terlalu detail, takutnya justru menjadi kontraproduktif. Karena ini gambar. Maksudnya kita berhubungan sama penerbit dan anak-anak sebagai pembaca. 

Dalam berkarya ini, pernah Anda bersentuhan dengan pro dan kontra? 

Sejauh ini sih belum ada. Karya saya juga sudah banyak dikonsumsi publik, karena itu saya selalu berupaya untuk tetap dalam koridor yang aman-aman saja. Paling tidak, anak-anak itu bisa mengerti dan mengambil nilai-nilai positif. 

Di tengah situasi bangsa yang demikian ini, dari keragaman yang kita miliki, bagaimana sepatutnya menyikapi perbedaan dan tetap bisa berprestasi? Apa sih yang bisa anak muda lakukan? 

Generasi muda di Indonesia ini kan banyak banget, latar belakang bidang keahliannya juga banyak. Yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan apa yang jadi passion kita dengan sebaik-baiknya. Prestasi itu akan datang dengan sendirinya, bila hal itu dilakukan dengan baik. Tidak hanya itu, jika berguna seperti itulah jiwa Pancasila sebenarnya. 

Dengan berprestasi, maka Indonesia akan maju dan semakin kaya, karena diisi oleh anak muda yang punya sumber daya yang bagus. Sebenarnya lewat karya sih kita bisa memberikan kontribusi. Contohnya saya pernah menggarap buku Michelle Obama. Itu kan karena karya saya yang secara kebetulan dibaca oleh orang luar negeri. Akhirnya saya pun diajak sama salah satu penulis di Amerika untuk garap bareng. Sang penulis itu mau menulis buku soal istri Presiden Obama. Nah, sayalah yang diminta mengilustrasi buku itu. 

Anda kan menjadikan anak-anak sebagai segmen pembaca karya Anda. Pernah tidak berpikir membuat komunitas bagi anak-anak?

Saya dari dulu ingin membuat semacam rumah baca untuk anak-anak. Jadi nanti, kita bisa blusukan ke tempat anak-anak yang pendidikannya kurang. Seperti anak-anak kurang mampu dan telantar. Terus nanti ada semacam perpustakaan berjalan. Ya, masih seputar dunia literasi anak.  

Untuk sekarang sih saya selalu terlibat dalam aksi kemanusiaan. Setiap hari Jumat, kita sering blusukan ke daerah-daerah yang memiliki rumah telantar di sana. Kita berbagi makanan dan apa yang bisa dilakukan untuk mereka. Kalau dalam skala nasional, karena saya kemarin didaulat sebagai salah satu dari 72 icon berprestasi dari UKP-Pancasila, maka saya sekaligus menjadi Duta Pancasila. Apresiasi itu akan saya maksimalkan untuk berbuat sebaik mungkin. Selama ini, tidak pernah terpikir dapat apresiasi seperti ini. Makanya saya akan terus berkarya saja. 

Sebagai penulis, respons pembaca tentu sangat penting. Anda punya pengalaman seperti itukah? 

Sering. Biasanya anak-anak kecil gitu tiba-tiba follow instagram saya. Terus mereka bilang; “Mbak aku suka karyanya.”  Terus kadang gitu, tiba-tiba ada ibu-ibu yang minta foto karena ngefans. Terus pernah lihat di toko buku gitu banyak orang yang beli buku-buku saya, itu rasanya senang banget. Saya jadi tersadar kalau sudah memengaruhi banyak anak secara positif. Padahal, saya cuma melakukan apa yang terbaik dan apa yang saya bisa. Walau tidak ada keinginan sampai sejauh itu, tapi saya memang berharap ada inspirasi di tiap karya saya untuk anak-anak dan masyarakat luas. 

Dari respons pembaca itu, pelajaran apa yang didapat? 

Tentu saja saya merasa berguna, khususnya untuk anak-anak. Karena anak-anak itu kan masih dalam masa pertumbuhan, jadi kita tentu bangga dong bisa ikut bagian dalam membentuk karakter mereka. Dan saya senang menjadi bagian dari pengembangan karakter anak-anak bangsa. Dari dulu saya suka anak-anak. Karena mereka polos-polos dan belum banyak intrik. Masih murni dan masih bisa diubah-ubah. Kalau sudah dewasa kan kaku. 

Sebagai orang yang bergelut di profesi ini, apa benefit yang didapatkan? Apakah profesi ini bisa dibanggakan dari segi kesejahteraan? 

Kalau benefit-nya, saya jadi banyak kenal teman dan orang berprestasi lewat karya. Jadi karya seolah berbicara dan saling mencari ruang ekspresinya masing-masing. Intinya, kita jadi banyak jaringan. Dari segi kesejahteraan, ya cukuplah. Tapi jujur ya, to be honest, jika kita berkarya untuk penerbitan Indonesia, kalau tidak yang besar, biasanya memang belum bisa menutupi. Untuk buku anak, ya lumayan sih untuk menghidupi. 

Tapi yang lebih menghargai berkarya dan berkesenian seperti profesi ini itu penerbit luar negeri. Jadi itulah kenapa saya lebih banyak berkarya di luar, padahal saya juga sebetulnya senang banget berkarya di Indonesia, karena ya itu mereka lebih menghargai. Maksudnya, terkadang prestasi itu justru didapatkan lewat kecelakaan. Karya kita biasanya tidak dihargai di dalam negeri tapi menemukan pasarnya di luar negeri. Ini kecelakaan yang menyejahterakan. 

Berarti persoalan kesejahteraan yang dihadapi ada di penerbit? 

Tidak juga, karena menurut saya segmen pembaca masyarakat Indonesia itu sangat rendah. Jadi yang suka buku pun bisa terhitung. Jadi penerbit tentu saja tidak bisa mencetak banyak karena belum tentu terjual. Itu berpengaruh. Minat baca kita memang kelihatan rendah dibandingkan di Eropa dan Amerika. Mereka di sana, siapa pun itu anak-anak suka membaca. Sedangkan di sini, biasanya terbatas di kalangan orang berada dan terdidik saja. Banyak orang yang sudah mengakses sekolah, tetapi belum tentu akses itu membuatnya rajin baca buku. 

Kebanyakan persoalan penerbitan kan di soal produksi. Mungkin saja karena harga kertas mahal. Apa ini berpengaruh pada pekerja kreatif? 

Itu kan masalah teknis, yang paling penting itu konsumen yang mau membeli buku anak itu. Masalah kertas dan lain-lain, paling bedanya sedikit. Yang berpengaruh itu minat baca konsumen. 

Kita bandingkan, dari 250 juta lebih penduduk kita itu, biasanya setiap tahun untuk terbitan buku bergambar cuma laku 3.000 eksemplar. Itu tuh sudah bagus banget. Sangat-sangat terbatas. Itu pun cuma tersedia di toko buku saja selama ini. Artinya, kerja samanya sangat terbatas. 

Minat baca itu kata kunci. kita memang harus menumbuhkan minat baca sejak dini, karena memang di Indonesia masih sangat rendah.

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Lintang Pandu PratiwiKeragamanCinta KasihGotong-royongWawancara

loading...