logo rilis

Limbah TPA Bisa Jadi Lumbung Energi Potensial Biogas
Kontributor

10 April 2018, 08:39 WIB
Limbah TPA Bisa Jadi Lumbung Energi Potensial Biogas
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah (Jateng), telah memanfaatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai lumbung energi potensial dan sumber energi biogas berkelanjutan. 

Biogas merupakan, gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik dari bahan-bahan organik  termasuk di antaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable, atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.

Untuk bisa menghasilkan biogas  dari limbah TPA, hal pertama yang perlu dilakukan adalah, meninjau lokasi yang sesuai untuk diambil gas metan, kemudian membuat disain instalasi di TPA. 

Pembangunan instalasi biogas dengan memilih lahan yang paling tua, artinya sudah tidak digunakan sebagai tampungan sampah. Di bawah lokasi tersebut, terdapat membran yang berfungsi untuk membuang air lindi yang ada didalamnya, untuk memproduksi gas.

Berdasarkan hasil pengamatan, api yang ditimbulkan banyak mengandung uap air, sehingga nyala api tidak dapat maksimal. Upaya yang dilakukan adalah membuat sodetan di bagian bawah instalasi untuk membuang air lidi, dan ternyata air lidi yang keluar sangat banyak. Sampai saat ini, masih diupayakan cara lain yaitu memindahkan saluran pengambilan gas dan akan dilakukan uji coba pada musim kemarau.

Upaya selanjutnya, membuat instalasi biogas pada TPA Banyuurip, Kota Magelang, dengan memilih lokasi yang tidak ada membran di bawahnya. Luas TPA Kota Magelang adalah 4 hektare, bahkan di daerah lain mencapai puluhan hektare, sehingga potensinya masih sangat besar.

Pemasangan instalasi biogas secara sederhana dimulai dengan membuat lubang, selanjutnya dilakukan pemasangan paralon sebagai penangkap gas metan dan mengalirkan gas. 

Dalam hal ini, gas tidak mampu sampai pada terminal penampungan gas, sehingga sebagai penarik gas dipasang blower, kemudian gas disalurkan ke para pengguna. Selanjutnya, dilakukan uji coba untuk mengetahui kemampuan gas metan sebagai sumber energi berkelanjutan. 

Hasil uji coba menunjukkan, dengan memasang kompor sebanyak delapan tungku, dihidupkan selama 2,5 jam dapat menyala dengan baik, bahkan masih terlihat potensi untuk ditambah kompor lagi. Hal ini terlihat dari tekanan api yang ditunjukkan masih besar. 

Uji coba selanjutnya, dilakukan dengan menyalakan kompor yang ada di rumah warga yang jaraknya sekitar 250 meter, dan ternyata kompor dapat menyala dengan baik dan stabil. Rencananya, pemanfaatan gas bio ini akan disalurkan kepada 20 rumah tangga di sekitar TPA Banyuurip, Magelang.

Langkah terakhir, adalah mengukur produksi gas metan dan mengambil sampel gas tersebut untuk dianalisis kandungan unsur kimianya. Dari pengukuran ini, diketahui bahwa plas dengan kapasitas 2 m3 dapat diisi dalam waktu 4 menit 25 detik. 

Dengan perhitungan tersebut, dapat diprediksi bahwa kemampuan memproduksi gas dalam satu jam adalah 120,8924 m3. Angka ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyalurkan gas ke rumah tangga warga di sekitar TPA. 

Sumber: Nanik AP/Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)