logo rilis
Limbah Jadi Pengawet Alami, Ini Caranya
Kontributor
Intan Nirmala Sari
13 April 2018, 12:18 WIB
Limbah Jadi Pengawet Alami, Ini Caranya
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Saat ini masyarakat dihadapkan dengan berbagai pilihan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan sehari-hari. Keinginan agar pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal, terkadang bagaikan jauh panggang dari api, mengingat masih maraknya produk pangan segar yang penanganannya belum memadahi. Seperti penggunaan pengawet yang ternyata tidak aman digunakan untuk produk ayam, tahu, ikan dan lain-lain.

Sebagai pangan yang mengandung gizi yang cukup lengkap, ayam, tahu dan ikan merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba. Tidak terkecuali mikroba patogen yang dapat membahayakan tubuh manusia. 

Hal tersebut, membuat beberapa pedagang nakal berupaya agar bahan pangan yang dijual tersebut awet. Salah satunya menggunakan formalin. Harga yang murah dan kemudahan penggunaannya, menjadi alasan pedagang memilih formalin sebagai pengawet. Dengan mengesampingkan efek yang mungkin timbul dan merugikan kesehatan masyarakat selaku konsumen.

"Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, telah mengembangkan teknologi untuk memproduksi Vinegar Air Kelapa yang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif yang murah untuk pengawetan  menggantikan formalin,” ungkap Kepala Balai Risfaheri, MS.

Vinegar merupakan jawaban atas kecemasan masyarakat, akan jaminan keamanan pangan terkait penggunaan pengawet yang tidak aman.

“Vinegar air kelapa, merupakan pengawet alami yang dibuat melalui proses fermentasi. Pada dasarnya, vinegar juga dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah pertanian lainnya, misalnya kulit pisang. Teknologi yang digunakan relatif sederhana, ramah lingkungan dan relatif murah. Dan yang terpenting, vinegar tersebut mempunyai kemampuan sebagai antimikroba,” tutur salah satu tim peneliti vinegar Miskiyah.

Lebih lanjut, dituturkan bahwa produk ini bisa menjadi pilihan bagi pedagang. Itu karena, selain aman, vinegar juga dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen seperti Salmonella Thyphimurium, E. coli, S. aureus dan Listeria Monocytogenes.

Saat ini, vinegar sudah dikembangkan oleh UD. Gunungsari Wiar Sadana selaku mitra BB Pascapanen. Produk ini juga sudah banyak dikenalkan di pasar-pasar tradisional baik di wilayah Bogor maupun Propinsi DKI Jakarta, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta lingkup BPTP  dan instansi terkait di Indonesia. 

Pengelola UKM Gunungsari Wiar Sadana yakni Wiwik Puntorini menuturkan, bahwa sambutan masyarakat pada produk ini sangat baik, terutama pegadang daging dan ikan, karena selain aman, cara penggunaannya pun mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama.

“Hanya dengan mencelupkan daging/ikan selama dua menit pada larutan Cocovine (merk dagang UKM tersebut), daya simpan daging/ikan bisa mencapai 12 jam,” jelasnya.

Sumber: Miskiyah/Erwan G. Apriyansyah


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)