logo rilis

Likuifaksi Porakporandakan Pertanian Sigi
Kontributor

10 Oktober 2018, 12:15 WIB
Likuifaksi Porakporandakan Pertanian Sigi
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Gempa berkekuatan 7,4 skala richter yang diikuti terjangan tsunami pada tanggal 28 September 2018 lalu di Palu, Sigi, dan Donggala serta daerah sekitarnya memporakporandakan bangunan perkantoran, fasilitas umum seperti rumah sakit, hotel, sekolah, rumah penduduk, jalan dan lain-lain, tak terkecuali lahan pertanian.

Di Kabupaten Sigi, selain terkena gempa dan tsunami juga ada beberapa tempat yang terkena likuifaksi, yaitu fenomena massa tanah padat menjadi lumpur sehingga apa yang ada di atasnya akan hanyut dan tenggelam tersedot lumpur.

Fenomena likuifaksi ini terjadi karena bahan tanah di lembah Palu yang merupakan endapan dari hasil erosi bukit sekitarnya mempunyai struktur tanah yang belum berkembang. 

Saat gempa yang menimbulkan getaran hebat terjadi, struktur tanah rusak sehingga partikel tanah menjadi lepas. Tsunami dengan kecepatan tinggi menerobos bahan tanah yang strukturnya rusak membentuk lumpur (fluida) yang tidak mempunyai daya tahan terhadap masa di atasnya. Fenomena ini terjadi di lembah palu, yaitu di Desa Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu dan di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Daerah likuifaksi ini seharusnya tidak menjadi pemukiman penduduk atau tempat penting lainnya. Tapi kenyataannya di daerah ini banyak dihuni penduduk sehingga banyak pula rumah, sekolah dan bangunan lainnya tenggelam. 

Perkiraan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah korban yang tenggelam di daerah likuifaksi sekitar 5.000 orang. 

Dirjen Tata Ruang Kemen ATR/BPN, Abdul Kamarzuki mengatakan bahwa masyarakat yang berada di daerah likuifaksi ini harus direlokasi ke tempat lain.

Di daerah likuifaksi misalnya di Kecamatan Sigi Biromaru, telah mengalami perubahan topografi, yang asalnya datar menjadi berombak hingga bergelombang. 

Ada masa tanah yang naik ke atas dan ada pula masa tanah yang turun ke bawah sehingga menghasilkan topografi bergelombang. 

Selain itu ada juga masa tanah dan bangunan yang ada di atasnya bergeser hingga ratusan meter. 

Seorang penduduk mengatakan saat likuifaksi terjadi, dia kaget melihat ada tanah yang tiba-tiba naik hingga 5 meter, lalu ada pula penduduk yang melihat rumah bergerak. 

Peneliti BPTP Sulteng, Muh Abid, yang tinggal di Biromaru mengatakan, fenomena likuifaksi terjadi di Desa Jonde Oge, Kecamatan Sigi Biromaru. 

Di daerah tersebut, banyak rumah yang bergerak dan tenggelam. 

Saat kunjungannya ke posko pengungsi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di Biromaru 6 Oktober 2018 lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Kementan dan masyarakat Sulsel telah mengirimkan 500 truk bantuan untuk korban bencana Palu, Sigi, dan Donggala. 

Amran berharap bantuan tersebut dapat mengurangi beban para pengungsi ini. Selanjutnya Amran juga berkenan meninjau saluran irigasi sawah yang hancur akibat gempa di Biromaru, Kabupaten Sigi. 

Sumber: Dedi Nusyamsi/Kementan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID