logo rilis
Likuifaksi Lenyapkan Sawah di Sigi dan Palu, Ini Penjelasan Ahli dari Kementan
Kontributor
Elvi R
07 Maret 2019, 09:16 WIB
Likuifaksi Lenyapkan Sawah di Sigi dan Palu, Ini Penjelasan Ahli dari Kementan
Lahan rusak karena likuifaksi. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Sigi— Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan likuifaksi yang terjadi di Sigi dan Palu sebenarnya tidak melenyapkan sawah. Keadaan tersebut hanya membuat sawah bergeser dan atau berubah bentuk. "Yakni bentuk relief mikronya menjadi bergelombang lalu ada sebagian bahan tanah baru muncul karena sebagian tanah lama bergerak ke kiri, kanan, depan belakang, atau ke bawah," ujarnya di acara Focus Group Discussion “Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian Akibat Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala di kantor BPTP Sulteng, di Sidondo, Sigi, Rabu (6/3/2019).

Dedi menjelaskan, likuifaksi ini membuat tata guna lahan berubah, seperti banyak lahan sawah yang tidak bisa disawahkan lagi atau berubah menjadi lahan kering. Tentu saja hal ini akan mengakibatkan perubahan pengelolaan lahan pula, seperti penetapan komoditas yang ditanam, pengelolaan air irigasi, dan lain-lain, kata Dedi menambahkan.

"Betapa dahsyatnya likuifaksi yang terjadi di Palu dan Sigi bersamaan dengan musibah gempa berkekuatan 7,7 SR tanggal 28 September 2018 lalu. Likuifaksi atau banyak yang menyebut sebagai 'tanah bergerak' seperti bahan likuid merupakan fenomena dimana tanah (padat) menjadi seperti lumpur (cair) karena lepasnya ikatan antar partikel tanah akibat guncangan yang sangat kuat dari gempa dan kondisi jenuh air," tuturnya.

Tim Survei Badan Litbang Pertanian melaporkan bahwa bencana gempa dan likuifaksi selain menyebabkan pemukiman, perkantoran, jalan, “tenggelam”, lahan pertanian juga mengalami kerusakan, bahkan diantaranya ada yang parah. Fenomena likuifaksi di palu dan sigi menyebabkan perubahan bentuk permukaan lahan, tidak dikenali lagi bentuk lahan asli karena pergerakan masa tanah ke berbagai arah bahkan ada bahan tanah yang hilang tertelan bumi dan ada pula bahan tanah baru berupa lumpur yang saat ini sudah kering.

peneliti Badan Litbang Pertanian Ir Anny Mulyani MS mengatakan, berdasarkan citra landsat spot 6, fenomena likuifaksi terjadi di Balaroa dan Petobo (Kota Palu) serta   Jono Oge dan Sibalaya (Sigi). Selanjutnya Anny mengatakan bahwa secara keseluruhan lahan yang mengalami likuifaksi parah di Petobo sekitar 180 hektare, di mana 14,5 hektare di antaranya sawah. Demikian pula di Jono Oge ada sekitar 204 hektare mengalami likuifaksi dimana sekitar 106 hektare berupa lahan sawah.

Sumber: Estiyanto Nugroho/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID