logo rilis
Libur Lebaran Panjang, Katanya karena Jokowi Trauma
Kontributor
Nailin In Saroh
07 Juni 2018, 16:50 WIB
Libur Lebaran Panjang, Katanya karena Jokowi Trauma
Presiden Jokowi (tengah) sela peresmian Tol Ngawi-Kertosono seksi Ngawi-Wilangan di depan Gerbang Tol Madiun, Desa Bagi, Kecamatan Sawahan, Madiun, Jawa Timur, Kamis (29/3/2018). FOTO: RILIS.ID/Budi Prasetyo.

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyayangkan libur lebaran yang diperpanjang pemerintah. 

"Hal itu bisa berdampak pada perekonomian," kata Bambang kepada rilis.id di Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Ia menilai, perpanjangan libur dalam rangka mengantisipasi kemacetan pada musim mudik lebaran menunjukkan pemerintah tidak percaya diri dengan pembangunan infrastrukturya.

Apalagi, kemacetan di Pantura sudah diselesaikan dengan adanya trans-Jawa. Salah satunya Tol Cipali dan Brebes Exit.

Bahkan beberapa tol ditargetkan bisa rampung tahun ini di antaranya Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, serta ruas lainnya.

"Seharusnya, pemerintah tak perlu khawatir dengan memperpanjang jatah libur," tambah dia.

Sebab, apabila libur terlalu lama maka dalam bidang usaha perniagaan akan mengalami penumpukan barang lantaran terhentinya proses distribusi.

"Pemerintah tidak pede (Percaya diri), ini jadi egosektoral," ujar Bambang.

"Libur panjang dampaknya logistik menumpuk akhirnya berebut sarana transportasi jadinya harga mahal, ekonomi dirugikan," tambahnya.

Padahal, seharusnya pemerintah mengatur fungsi dari jalur yang ada. Apalagi, Kementrian PUPR sudah membuat kebijakan membagi jalur utara, tengah dan selatan.

"Ini kan pemerintah enggak PD. Kan sudah ada tol harusnya spesifikasinya dibagi. Utara untuk logistik, tengah untuk pribadi, selatan kombinasi," jelasnya.

Bambang menegaskan, 10 hari penyimpanan akan membuat barang, khususnya konsumsi menjadi mahal. Belum lagi ada pembusukan logistik. 

Harga komoditi, kata dia, jadi naik semua karena lamanya liburan. "Omong kosong kalau pengangkut sembako tidak berhenti, ini kan supir juga nuntut harus libur," ujarnya.

Bambang menyimpulkan, Presiden Jokowi sepertinya trauma dengan insiden kemacetan Brexit (Brebes Exit) yang menimbulkan korban jiwa lantaran padatnya kendaraan di tol tersebut. Sehingga, memberikan libur panjang agar pemudik tak menumpuk di jalan.

"Tapi ya ekonomi terhambat karena egosektoral. Indonesia itu kan luas semuanya kan enggak traffic. Jawa pun hanya utara. Jadi harus dipahami pemerintah, Jokowi trauma brexit."

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)