logo rilis
Laweyan, Titik Nol Kemerdekaan Wilayah
Kontributor

17 Januari 2018, 17:32 WIB
berita
Kampung Batik Laweyan yang melegenda. FOTO: blogger

Oleh Nunu Hamijaya
Sejarawan Publik tinggal di Sumedang, Jawa Barat

LAWEYAN, sebuah wilayah di daerah Surakarta, Jawa Tengah, dikenal sebagai pusat perdagangan yang berjaya sejak Kesultanan Pajang berkuasa. Memiliki status wilayah sebagai tanah perdikan yang berarti memiliki kedaulatan untuk mengatur sendiri pemerintahan dan perekonomiannya sendiri. Memiliki kekuatan ekonomi yang dipegang oleh para saudagar yang sejajar dengan rakyat jelata dalam pandangan masyarakat feodal Jawa. 

Baca Juga

Hingga Abad ke-19, Laweyan telah bermetamorfosis dari perdagangan tenun tradisional dan kapas berubah menjadi kampung pembuat mori, hingga menjadi pusat batik cap. Perubahan Laweyan menjadi pusat industri batik disebabkan oleh penghargaan yang tinggi terhadap seni membatik. 

Kawasan Laweyan merupakan kawasan yang unik karena mempunyai pola kawasan memusat, dengan pasar sebagai pusat kawasan, sedang permukiman penduduk dengan home industry tenunnya merupakan kawasan pelingkup. Laweyan berkembang pesat antara tahun 1910-1930, hingga 85 persen produksi batik di Surakarta berada di tangan saudagar batik Laweyan karena sekitar 90 persen penduduk Laweyan menjadi pengusaha batik. (Soedarmono, 2006:66).

Dengan adanya hasil tersebut, Laweyan menjadi salah satu pusat terpenting kerajinan batik nasional pada masa Hindia Belanda karena menjadi pesaing kerajinan tekstil Eropa. 

Dalam keberhasilan Laweyan, perempuan memiliki peranan penting, khususnya dalam pembuatan batik tulis dan pengolahannya karena pekerjaan ini memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Terlebih karena adanya jenis batik tertentu yang tetap dilukis dengan tangan sehingga hanya dapat dilakukan oleh perempuan. 

Oleh karena itu, perempuan Laweyan akhirnya memiliki kedudukan khusus dalam strata sosial Laweyan. Ditunjukkan dengan adanya gelar “Mbok Mase” yang sejajar dengan gelar abdi dalem kriya pembatik dalam Istana. Hingga awal Abad ke-20-an, dinamika perkembangan kegiatan perdagangan dikendalikan oleh “Mbok Mase”. Hal ini menujukkan peran perempuan dalam kegiatan ekonomi Laweyan cukup menonjol. (Priyatmono, 2004)

Kekuatan ekonomi inilah yang menjadikan Laweyan sebagai wilayah yang merdeka secara ekonomi. Kemerdekaan ekonomi tentu berdampak pada pendirian wilayah otonomi atau memiliki pemerintah sendiri. Diawali dengan status wilayah perdikan yang bebas pajak wilayah hingga menjadi wilayah yang dianggap menjadi saingan pemerintah Hindia Belanda dalam bidang perekonomian, Laweyan menjadi wilayah yang memiliki kemerdekaan ekonomi. (bersambung)

Editor: Yayat R Cipasang

Tags
#riwayat
#laweyan
#batik
#surakarta
#hindia belanda
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)