logo rilis

Lampung Timur Budi Daya Kedelai di Lahan Sawah Tadah Hujan Bio-Detas
Kontributor
Kurnia Syahdan
15 Agustus 2018, 21:00 WIB
Lampung Timur Budi Daya Kedelai di Lahan Sawah Tadah Hujan Bio-Detas
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Mendukung Swasembada Kedelai 2020, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menggelar “Temu Lapang Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Sawah Tadah Hujan Bio-Detas” di Desa Rejo Binangun, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur, Rabu (15/8/2018).

Dalam Temu Lapang tersebut, dilakukan gelar teknologi budidaya yang bertujuan untuk mengembangkan inovasi teknologi Bio-Detas di sawah tadah hujan dan memperkenalkan beberapa varietas unggul baru (VUB) kedelai.

Varietas unggul baru kedelai tersebut yaitu Varietas Dega 1, varietas Demas 1 dan varietas Argomulyo, dengan keunggulannya masing-masing.

Ini sebagai salah satu upaya Pemerintah meningkatkan produksi kedelai nasional dengan sasaran mencapai swasembada pada tahun 2020.

Kepala Balitbangtan, Kementeria Pertanian yang diwakili oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Dr. Yuliantoro Baliadi, menyampaikan selain komoditas padi yang sudah mencapai status swasembada di tahun 2016, jagung sudah ekspor di tahun 2018 ini, komoditas lain khususnya kedelai harus diupayakan secepatnya sehingga pada tahun 2019-2020 status swasembada sudah dapat dinikmati.

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi dalam produksi kedelai di Indonesia meliputi 2 hal, yakni area tanam atau area panen yang tidak luas dan produktivitas rendah. 

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dari sisi usahatani, upaya memperluas areal tanam kedelai harus dibarengi dengan penerapan teknologi produksi atau budi daya yang semakin produktif dan efisien.

Menurut Erlin Retnowati dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, wilayahnya pernah menjadi sentra produksi dan yang terdepan dalam pengembangan kedelai. 

Karena belum adanya jaminan pasar, banyak petani Lampung beralih ke komoditas yang dinilai lebih menjanjikan dan kompetitif dari segi ekonominya dibanding kedelai. 

Kendala tersebut ditanggapi positif oleh pihak CV. Ramayana selaku mitra pemasaran. 

Mereka menyatakan kesanggupannya menyerap seluruh hasil panen dengan harga kesepakatan Rp12.000 per kilogram untuk kedelai kualitas benih.

Sumber: AW/RR/WH/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)